Perebutan pengaruh antara Beretta Holding dan Sturm Ruger kini berkembang menjadi isu yang jauh lebih besar daripada sekadar kenaikan porsi saham. Di balik pergerakan saham itu, ada pertarungan soal arah perusahaan, hak suara pemegang saham, dan siapa yang paling layak mengendalikan salah satu nama besar di industri senjata.
Ketegangan ini bermula saat Beretta masuk ke Ruger melalui kepemilikan 7,7% saham yang dilaporkan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS. Langkah tersebut mengejutkan pihak Ruger karena tidak didahului komunikasi awal, lalu memicu respons defensif dari perusahaan senjata asal Amerika Serikat itu.
Benturan yang langsung mengarah ke tata kelola
Respons Ruger tidak berhenti pada keberatan secara lisan. Perusahaan itu kemudian menerapkan poison pill pada Oktober, sebuah mekanisme yang lazim dipakai untuk menahan potensi hostile takeover.
Langkah itu menunjukkan bahwa manajemen Ruger memandang masuknya Beretta sebagai ancaman serius. Di sisi lain, Beretta Holding kini disebut menguasai hampir 10% saham Ruger, sehingga posisi tawar kedua pihak ikut berubah.
Komunikasi yang tersendat di tengah konflik
Pietro Gussalli Beretta sempat mencoba menjangkau Ketua Ruger, John Cosentino Jr., untuk membuka dialog. Namun, jawaban yang diterima menyebut sang ketua sedang berlibur selama sebulan penuh.
Bagi Gussalli Beretta, kondisi tersebut dianggap tidak memadai untuk perusahaan yang sedang menghadapi ketegangan besar. Situasi ini juga memperlihatkan betapa sulitnya membangun jalur komunikasi ketika persaingan korporasi sudah naik kelas.
Dua perusahaan dengan karakter yang sangat berbeda
Beretta Holding berbasis di Italia dan menaungi lebih dari 20 merek internasional, termasuk Holland & Holland. Perusahaan ini juga dikenal sebagai penyedia senjata standar militer AS, M9, selama dua dekade.
Sebaliknya, Sturm Ruger berpusat di Connecticut, Amerika Serikat, dan membangun reputasi lewat produk yang tahan lama serta terjangkau. Salah satu produknya, Ruger 10/22, disebut telah terjual lebih dari 10 juta unit.
Perbedaan latar belakang itu ikut menjelaskan mengapa konflik ini menarik perhatian besar. Beretta membawa warisan keluarga yang telah berusia sekitar 500 tahun dan jaringan global, sedangkan Ruger bertumpu pada efisiensi produksi serta basis pasar domestik yang kuat.
Kondisi bisnis yang saling berlawanan
Peta keuangan dua perusahaan ini membuat tensi semakin tinggi. Saat pasar senjata api AS melemah pascapandemi, Ruger mencatat kerugian operasional sebesar US$12 juta pada tahun lalu.
Beretta berada di jalur yang berbeda. Pendapatan perusahaan itu pada 2024 diproyeksikan mencapai US$2 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan 2021, didorong kenaikan belanja militer global dan akuisisi strategis di Eropa.
Perbedaan kinerja tersebut membuat posisi Beretta terlihat lebih kuat. Dalam konteks seperti ini, tekanan terhadap Ruger tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari tantangan internal yang membuat manajemen harus menjaga arah perusahaan dengan lebih hati-hati.
Saham, kursi direksi, dan tuduhan agenda tersembunyi
Perselisihan kemudian bergeser ke wilayah tata kelola perusahaan. Beretta menilai manajemen Ruger terlalu fokus pada kompensasi direksi, lalu menominasikan empat direktur baru dan meminta pemotongan gaji bagi jajaran petahana.
Ruger menolak keras sikap itu dan menuduh Beretta memiliki agenda tersembunyi untuk menguasai perusahaan dengan harga murah. Pada titik ini, konflik tidak lagi sebatas investasi, melainkan perebutan kendali atas keputusan strategis.
Upaya mencari titik temu juga belum berhasil. Pertemuan di Paris dan Luksemburg sempat dicoba, tetapi gagal menghasilkan kesepakatan, bahkan salah satu pembatalan pertemuan penting kabarnya disampaikan lewat WhatsApp.
Ruger juga menuding Beretta meminta diskon harga saham sebesar 15% dan mengancam akan “berperang” jika tuntutan tidak dipenuhi. Tuduhan itu dibantah keras oleh pihak Italia, yang menyebutnya sebagai berita palsu.
Kini, penyelesaian sengketa bergantung pada negosiasi melalui penasihat hukum. Jika tidak ada kesepakatan, keputusan akhir akan dibawa ke pemungutan suara pemegang saham pada rapat tahunan bulan Mei mendatang, dan hasilnya berpotensi menentukan masa depan salah satu produsen senjata paling bersejarah di Amerika Serikat.
Source: mediaindonesia.com




