Ancang-Ancang Menang 2029, PDIP Jateng Genjot Konsolidasi Hingga Akar Rumput

Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Tengah kini tidak hanya diposisikan sebagai urusan internal partai, tetapi juga sebagai bekal menghadapi Pemilu 2029. Di Solo, penguatan struktur sampai tingkat bawah dijalankan lebih cepat agar mesin politik partai benar-benar siap sebelum masuk ke tahap penyusunan program berbasis kebutuhan rakyat.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah, Dolfie Othniel Frederic Palit, menegaskan bahwa target akhirnya tetap jelas: menang. Namun sebelum berbicara jauh soal strategi pemilu, partai lebih dulu merapikan organisasi dari pusat, provinsi, kabupaten, hingga anak cabang melalui Musyawarah Anak Cabang yang digelar di berbagai daerah.

Di Jawa Tengah, proses itu disebut sudah berjalan hampir tuntas di tingkat kabupaten dan kota. Hingga Ahad, 33 cabang telah menyelesaikan Musancab, sementara dua cabang lain dijadwalkan menyusul pada awal pekan depan.

Dolfie menyebut penguatan itu tidak berhenti di anak cabang. Setelah tahap tersebut selesai, penataan organisasi akan diteruskan ke tingkat ranting dan anak ranting sebelum partai menyusun program yang benar-benar berpijak pada kebutuhan masyarakat.

Konsolidasi jadi fondasi menuju 2029

Menurut Dolfie, seluruh rangkaian konsolidasi ini akan menjadi dasar utama menghadapi Pemilu 2029. Ia juga menegaskan bahwa PDI Perjuangan masih menunggu pembahasan rancangan undang-undang pemilu untuk membaca tantangan yang akan dihadapi dengan lebih rinci.

“Setelah semua selesai, baru kita menyusun program-program yang berbasis rakyat,” kata Dolfie. Ia menambahkan, “Kita harus menunggu undang-undang pemilu untuk mengukur tantangan ke depan. Sekarang fokus membangun kekuatan internal.”

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa partai memilih merapikan struktur lebih dulu sebelum bergerak ke langkah politik yang lebih luas. Dalam pandangan Dolfie, kekuatan organisasi menjadi modal awal yang tidak bisa ditunda.

Solo sudah sampai tingkat RT dan RW

Di Kota Solo, konsolidasi disebut sudah dijalankan hingga lapisan paling bawah. Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Solo, Aria Bima, mengatakan struktur partai di wilayah itu sudah dibentuk sesuai target DPD Jawa Tengah.

Struktur tersebut mencakup 21 pengurus DPC, 55 pengurus anak cabang, 486 pengurus ranting, 1.250 pengurus anak ranting, dan 1.773 kader di tingkat RT dan RW. Aria menegaskan bahwa target yang diberikan DPD sudah diterjemahkan sampai ke struktur terbawah.

Ia juga mengingatkan bahwa konsolidasi tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial. Bagi Aria, arahan organisasi harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang bisa dirasakan masyarakat.

Program kerakyatan disiapkan dari hasil konsolidasi

Konsolidasi di Solo kemudian diterjemahkan ke dalam sedikitnya 45 program kerakyatan yang dijalankan oleh 14 bidang partai. Program itu meliputi layanan pengobatan dan makan siang gratis, posko bantuan hukum 24 jam, penyediaan paralegal di setiap kelurahan, serta pusat data politik.

Selain itu, PDI Perjuangan Kota Solo juga menjalankan sekolah ideologi, sekolah calon legislatif, pemberdayaan UMKM, dan pengembangan kuliner lokal. Partai juga mendukung program pemerintah seperti ketahanan pangan berbasis pekarangan dan pengembangan bank sampah bernilai ekonomi.

Aria menyebut seluruh program tersebut disiapkan untuk seluruh rakyat Kota Surakarta. Arah kerjanya, menurut dia, harus tetap dekat dengan kebutuhan harian warga, bukan berhenti pada pembentukan struktur saja.

Anak muda jadi sorotan utama

Di tengah penguatan organisasi, Dolfie dan Aria sama-sama menaruh perhatian pada menurunnya minat generasi muda terhadap politik. Dolfie menilai sikap apatis itu menjadi tantangan bersama, termasuk bagi media massa, karena demokrasi sulit tumbuh bila komponen terbaik justru menjauh dari partai politik.

Karena itu, PDI Perjuangan membuka ruang seluas-luasnya bagi anak muda untuk terlibat. “Partai politik adalah jalan untuk membangun bangsa dan negara,” kata Dolfie.

Aria melihat tantangan itu semakin terasa karena Generasi Z diperkirakan akan mendominasi pemilih pada 2029, tetapi justru semakin menjauh dari politik kepartaian. Ia menyebut sejumlah survei menunjukkan Gen Z tidak tertarik pada partai politik.

Menurut Aria, kondisi tersebut menuntut kerja bersama dari semua elemen politik dan pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan anak muda. Ia menegaskan bahwa penguatan demokrasi tidak bisa dilepaskan dari partai politik yang sehat dan dipercaya publik, terutama oleh generasi muda.

“Semuanya akan sia-sia kalau berhenti di ruang rapat ini,” kata Aria. Baginya, Musancab harus menjadi jembatan antara konsolidasi organisasi dan penguatan ideologi partai.

Source: www.tempo.co

Baca Juga

Back to top button