Ancaman Kontrol Israel Meluas, Anak-Anak Gaza Kian Terhimpit Krisis Yang Memburuk

Anak-anak di Gaza kembali menjadi kelompok yang paling terdesak ketika ruang hidup menyusut dan akses bantuan makin rapuh. Di tengah wilayah yang sudah padat dan rusak, peringatan baru dari PBB menyoroti dampak paling keras dari perluasan kontrol militer Israel: krisis kemanusiaan yang makin menekan warga sipil, terutama anak-anak.

UNICEF menilai rencana perluasan itu akan memperparah kondisi kesehatan yang memang sudah berat. Anak-anak di Gaza kini hidup dengan kekurangan makanan, air bersih, dan sanitasi yang sangat terbatas, sehingga penyakit mudah menyebar di tengah pengungsian yang penuh sesak.

Ruang yang Tersisa Makin Sempit

PBB memperingatkan bahwa rencana Israel memperluas kontrol militer hingga mencakup 70 persen Jalur Gaza akan menambah penderitaan warga sipil. Salim Oweis dari UNICEF mengatakan warga kini terpaksa berdesakan di sekitar 40 persen wilayah Gaza yang masih tersisa.

Situasi itu membuat ruang aman nyaris tidak ada. Di area yang belum dikuasai, warga hidup di tengah reruntuhan, tumpukan limbah, dan kondisi pengungsian yang terus memburuk.

Beban Kesehatan yang Menumpuk

UNICEF menggambarkan dampak kesehatan sebagai ancaman yang semakin serius bagi anak-anak. Lebih dari separuh rumah tangga dilaporkan menghadapi penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan, dan diare akut pada anak.

Kondisi di tempat penampungan juga memperburuk keadaan. Kutu, tungau, dan kudis disebut menjadi pemandangan umum di lokasi pengungsian yang sesak, sementara reruntuhan bangunan dan limbah padat terus menumpuk di sekeliling warga.

Ancaman Infeksi dan Akses Bantuan

Laporan di lapangan juga menyebut meningkatnya kasus tikus yang menggigit anak-anak dan bayi. Selain itu, infeksi bakteri dilaporkan memunculkan luka dalam dan lesi pada tubuh anak-anak yang tinggal di wilayah terdampak.

UNICEF menilai tekanan semacam ini tidak hanya memperberat kondisi kesehatan, tetapi juga mengganggu kemampuan layanan kemanusiaan menjangkau keluarga yang paling membutuhkan. Oweis memperingatkan bahwa perluasan wilayah yang dikuasai Israel berpotensi memutus akses bantuan menuju titik-titik layanan kemanusiaan.

Ia juga menyoroti situasi rumah sakit di Gaza yang tidak memiliki satu pun fasilitas berfungsi penuh untuk menangani lonjakan pasien anak. Saat kebutuhan perawatan darurat meningkat, kemampuan sistem kesehatan justru makin terbatas.

Kritik Palestina dan Korban yang Terus Bertambah

Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam pengumuman Benjamin Netanyahu dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap dasar gencatan senjata. Netanyahu sebelumnya menyatakan militer Israel telah menguasai 50 persen wilayah Gaza berdasarkan ketentuan gencatan senjata, lalu menyebut angka itu naik menjadi 60 persen dan menegaskan arah baru untuk mencapai 70 persen.

Sejak kesepakatan itu melemah, kekerasan harian di Gaza terus berlangsung. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dinilai andal oleh PBB mencatat lebih dari 900 orang tewas dalam gelombang kekerasan terbaru.

Secara keseluruhan, lebih dari 72.800 warga Palestina telah tewas sejak perang dipicu oleh serangan pada 7 Oktober 2023. Di tengah jumlah korban yang terus naik, perluasan kontrol militer atas Gaza dikhawatirkan membuat ruang hidup warga sipil semakin sempit dan memperdalam ancaman bagi anak-anak yang sudah terjebak dalam kelaparan, penyakit, pengungsian, dan layanan medis yang nyaris runtuh.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version