Harga gabah yang tetap bertahan di kisaran Rp 7.500 per kilogram di Madiun memberi sinyal bahwa sektor padi Jawa Timur masih memiliki daya tahan di tengah tekanan cuaca. Di saat yang sama, pemerintah provinsi mengejar target luas tanam 2,43 juta hektare sebagai upaya menjaga produksi tetap aman dari ancaman kekeringan.
Target itu menjadi penting karena Jawa Timur tidak hanya memikirkan kebutuhan dalam daerah, tetapi juga pasokan beras nasional. Percepatan tanam dan penguatan sarana produksi kini diposisikan sebagai dua langkah utama agar laju produksi tidak melambat saat cuaca mengganggu.
Dorongan cepat di lahan
Khofifah Indar Parawansa menilai percepatan tanam menjadi kunci untuk menjaga target luas tanam tersebut. Langkah itu dipadukan dengan penguatan teknologi agar produktivitas tetap terjaga meski tekanan iklim dan kebutuhan produksi terus meningkat.
Pemprov Jatim juga menempatkan modernisasi pertanian sebagai bagian dari strategi jangka menengah. Efisiensi kerja dianggap penting supaya petani bisa bergerak lebih cepat di lapangan tanpa mengorbankan hasil panen.
Mesin dan teknologi masuk ke sawah
Untuk mendukung target produksi, pemerintah provinsi memperluas penggunaan alsintan. Peralatan yang didorong mencakup transplanter, drone, dan combine harvester.
Penggunaan alat itu diharapkan mempercepat pekerjaan di lahan sekaligus menarik minat generasi muda masuk ke sektor pertanian. Pemerintah provinsi menilai efisiensi produksi menjadi faktor penting agar target tanam dan hasil panen tetap terjaga.
Surplus yang membuka ruang baru
Jawa Timur juga memandang surplus beras sebagai peluang, bukan hanya sebagai angka ketahanan pangan. Khofifah menyebut produksi beras Jatim diproyeksikan surplus hingga 2027, sehingga ada ruang untuk melihat pasar luar negeri.
Peluang ekspor itu bahkan dikaitkan dengan kawasan Timur Tengah jika kualitas dan kebutuhan pasar sesuai. Khofifah juga mengungkap telah berkomunikasi dengan dubes Arab Saudi untuk melihat kesesuaian kualitas serta potensi pengiriman.
Madiun jadi penyangga penting
Kabupaten Madiun masuk dalam wilayah yang memegang peran strategis dalam produksi gabah Jawa Timur. Bupati Madiun Hari Wuryanto menegaskan daerahnya ikut menjaga ketahanan pangan provinsi melalui kekuatan lahan sawah dan produktivitas yang stabil.
Saat ini, luas lahan sawah di Kabupaten Madiun mencapai lebih dari 32.418 hektare. Pada periode 2024–2025, daerah ini tercatat sebagai produsen beras terbesar ke-6 di Jawa Timur dengan rata-rata produksi sekitar 480.000 ton gabah kering giling.
Produktivitas pertanian di Madiun berada di kisaran 6,9 hingga 7,2 ton per hektare. Harga gabah kering panen di wilayah ini juga berada di kisaran Rp 7.500 hingga Rp 7.700 per kilogram.
Bantuan alat mempercepat kerja petani
Pemerintah Kabupaten Madiun turut memperkuat sektor pertanian lewat bantuan alsintan dari Pemprov Jatim. Sepanjang 2025, sebanyak 14 unit alsintan telah disalurkan ke daerah itu.
Bantuan tersebut meliputi hand tractor, power weeder, cultivator, hingga combine harvester. Hari menyebut dukungan itu membantu meningkatkan efisiensi kerja petani dan mendorong produktivitas hasil panen.
Dengan percepatan tanam, dukungan irigasi, dan modernisasi pertanian, Pemprov Jatim optimistis target luas tanam 2,43 juta hektare dapat dicapai. Di sisi lain, surplus beras memberi peluang agar Jawa Timur tidak berhenti sebagai lumbung pangan, tetapi juga punya ruang masuk ke pasar ekspor.
Source: www.beritasatu.com