Ancaman Kecelakaan Masih Tinggi, BPJS Ketenagakerjaan Perluas Fokus Ke K3 Dan Mental Kerja

Ancaman terbesar bagi produktivitas pekerja tidak selalu datang dari mesin, beban fisik, atau kecelakaan yang terlihat. Tekanan kerja, ritme kerja yang berubah, dan lingkungan kerja modern juga ikut menentukan apakah pekerja bisa tetap sehat, fokus, dan aman dalam menjalankan tugasnya.

Karena itu, BPJS Ketenagakerjaan kini menempatkan keselamatan kerja dan kesehatan mental dalam satu tarikan nafas kebijakan. Fokus tersebut terlihat dalam kegiatan bertema preventif dan promotif K3 di Plaza BPJamsostek, Jakarta, yang diikuti secara hybrid oleh jajaran pimpinan BPJS Ketenagakerjaan, direktur utama anak perusahaan, serta seluruh kepala kantor cabang di Indonesia.

Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli menilai K3 tidak boleh lagi dipandang sebagai urusan administratif semata. Ia menegaskan bahwa penerapan K3 harus dipahami sebagai investasi strategis yang ikut memperkuat daya saing dan keberlanjutan organisasi.

Yassierli juga menyoroti pemanfaatan data BPJS Ketenagakerjaan yang dinilai masih bisa dioptimalkan untuk pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Menurut dia, data klaim dapat menjadi dasar penyusunan sosialisasi dan pelatihan yang lebih tepat sasaran di setiap wilayah.

Kesehatan mental ikut masuk radar

Selain keselamatan fisik, BPJS Ketenagakerjaan memberi perhatian pada risiko psikososial dan aspek psychological safety di tempat kerja. Perhatian ini muncul karena tekanan kerja dan perubahan pola kerja modern dapat memengaruhi kondisi mental pekerja.

Pendekatan itu menjadi bagian dari pemahaman K3 yang lebih menyeluruh. Bukan hanya pencegahan risiko dan promosi perilaku aman, tetapi juga upaya menciptakan suasana kerja yang mendukung kesejahteraan psikologis.

Dorongan membangun ekosistem kerja yang tangguh

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Saiful Hidayat menegaskan bahwa lembaganya tidak berhenti pada perlindungan sosial ketenagakerjaan. BPJS Ketenagakerjaan, kata dia, juga ingin mendorong ekosistem kerja yang sehat dan tangguh.

Saiful menempatkan K3 dan perhatian pada kesehatan mental sebagai bagian penting dari pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ia juga ingin insan internal BPJS Ketenagakerjaan berperan sebagai agen edukasi yang menyebarkan budaya kerja sehat, aman, dan produktif.

Agenda pencegahan diperluas

Ke depan, BPJS Ketenagakerjaan menyiapkan lebih banyak kegiatan promotif dan preventif bersama Kementerian Ketenagakerjaan serta Jasa Raharja. Bersama Kementerian Ketenagakerjaan, agenda yang disiapkan mencakup pasar budaya K3, pelatihan untuk Panitia Pembina K3 di perusahaan, dan workshop dasar K3.

Kerja sama dengan Jasa Raharja akan difokuskan pada pelatihan safety riding. Program itu juga direncanakan menggandeng Astra Honda Motors sebagai mitra untuk mendukung keselamatan di jalan dan mobilitas kerja.

Saiful menyebut data peserta yang mengalami kecelakaan kerja pada 2025 sebagai alarm yang tidak bisa diabaikan. Sekitar 65 persen atau 125 ribu pekerja dilaporkan mengalami kecelakaan kerja di lingkungan kerja, sehingga pencegahan di tempat kerja masih menjadi kebutuhan mendesak.

Melalui kegiatan ini, BPJS Ketenagakerjaan ingin memperkuat pemahaman peserta mengenai pendekatan preventif, promotif, dan kuratif dalam implementasi K3. Perhatian pada kesehatan mental dan kesejahteraan pekerja pun diposisikan sebagai fondasi penting untuk menjaga produktivitas nasional.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version