Kebutuhan pertahanan di Afrika Barat kini semakin dipengaruhi oleh cara kelompok separatis memakai drone komersial yang dimodifikasi untuk menyerang pos militer. Perubahan itu membuat teknologi antidrone dan pertahanan udara mendapat perhatian lebih besar, terutama di wilayah Sahel dan sekitarnya.
Di tengah situasi tersebut, Terrahaptix Inc. mempercepat ekspansinya dengan membangun pabrik manufaktur drone pertama di Accra, Ghana. Startup teknologi asal Nigeria ini menyiapkan fasilitas itu sebagai basis produksi regional untuk pesawat tak berawak kelas menengah dan sistem pertahanan.
Langkah Terrahaptix tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas industri, tetapi juga dengan perubahan pola konflik yang sedang berlangsung. Perusahaan menilai pasar pertahanan kawasan membutuhkan solusi yang mampu menandingi penggunaan drone dalam operasi bersenjata.
Salah satu pendiri Terrahaptix, Nathan Nwachukwu, menilai taktik baru dari konflik di wilayah lain mulai masuk ke Afrika. Ia menyebut sistem serat optik membuat pertahanan elektronik tradisional menjadi kurang efektif, sehingga teknologi lawan juga harus terus berkembang.
Nwachukwu mengatakan, “Kami kini melihat taktik dan teknologi dari konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur mulai muncul di Afrika.” Pernyataan itu menegaskan bahwa medan konflik di Afrika Barat bergerak semakin dinamis dan menuntut respons yang lebih cepat dari sisi teknologi.
Pabrik Accra dan target produksi
Fasilitas di Accra saat ini berada pada tahap akhir pembangunan. Terrahaptix menargetkan pabrik tersebut mulai beroperasi penuh pada akhir Juni 2026 untuk memenuhi permintaan dari Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat atau ECOWAS.
Perusahaan juga menyampaikan bahwa mereka telah melakukan sejumlah uji coba sistem pencegat drone bersama beberapa negara di Afrika Barat. Uji coba itu menunjukkan bahwa pembangunan pabrik tersebut didorong oleh kebutuhan nyata di lapangan, bukan sekadar ekspansi bisnis biasa.
Terrahaptix bahkan memasang target produksi yang agresif. Perusahaan berharap output dapat mencapai 50.000 unit dalam dua tahun pertama, dengan permintaan militer di seluruh Afrika Barat sebagai pendorong utama.
Suntikan modal mempercepat ekspansi
Rencana besar di Ghana ini mendapat dukungan dari pendanaan baru dalam jumlah besar. Terrahaptix disebut baru mengumpulkan modal sebesar US$34 juta atau sekitar Rp583 miliar dari investor global, termasuk Lux Capital dan Joe Lonsdale.
Dana tersebut memberi ruang bagi perusahaan untuk mempercepat pembangunan fasilitas di Accra. Selain memperkuat kapasitas produksi, modal itu juga digunakan untuk pengembangan sistem tempur udara yang disiapkan bagi kebutuhan pertahanan regional.
Ghana dipandang sebagai lokasi yang strategis karena bisa mendukung rantai pasok dan distribusi di Afrika Barat. Dengan basis manufaktur di Accra, Terrahaptix ingin memperkuat posisinya di pasar pertahanan yang semakin kompetitif.
Ancaman di lapangan ikut mengubah pasar
Meningkatnya penggunaan drone yang dimodifikasi oleh kelompok separatis membuat situasi keamanan di kawasan berubah cepat. Kondisi itu mendorong industri pertahanan untuk bergeser dari fokus pengawasan semata menuju pencegatan dan penanganan ancaman udara.
Drone yang sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan kebutuhan komersial kini menjadi alat serangan yang serius. Pergeseran fungsi tersebut membuat sistem antidrone dan pertahanan udara semakin penting bagi negara-negara di Afrika Barat.
Bagi Terrahaptix, pabrik di Ghana menjadi bagian dari upaya menjawab ancaman yang terus berkembang. Kehadiran fasilitas ini juga menegaskan bahwa permintaan terhadap sistem udara tak berawak dan teknologi pencegatan diperkirakan tetap naik di kawasan ECOWAS.