Ancaman demam berdarah dengue atau DBD kini tidak lagi bisa dipandang sebagai masalah kesehatan yang hanya menyerang kelompok tertentu. Penyakit ini dapat mengganggu anak-anak maupun orang dewasa, bahkan pada banyak kasus berujung pada rawat inap dan beban biaya yang besar.
Di tengah Pekan Imunisasi Dunia, pesan pencegahan kembali mendapat sorotan karena DBD juga makin sulit diprediksi. Perubahan cuaca, suhu yang meningkat, dan mobilitas masyarakat yang tinggi ikut mempercepat penyebarannya, sehingga perlindungan perlu dilakukan sebelum kasus muncul.
Risiko pada usia produktif juga tinggi
Anggapan bahwa DBD lebih dekat dengan anak-anak masih cukup kuat di masyarakat. Padahal, kelompok dewasa juga menghadapi risiko besar, terutama mereka yang berada di usia produktif dan tetap harus menjalankan pekerjaan serta tanggung jawab keluarga.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, menegaskan bahwa banyak pasien dewasa harus menjalani rawat inap karena dengue. Kondisi itu tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga dapat menekan produktivitas keluarga.
Risiko pada orang dewasa bisa menjadi lebih berat jika disertai penyakit penyerta. Diabetes, hipertensi, dan gangguan kesehatan lain dapat memperbesar peluang komplikasi serta membuat perawatan lebih intensif.
Anak tetap perlu mendapat perhatian serius
Walau ancaman pada orang dewasa meningkat, anak-anak tetap termasuk kelompok yang rentan mengalami kondisi berat. Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa perjalanan penyakit ini pada anak sering sulit diprediksi.
Gejala awal seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, atau muntah dapat berkembang cepat menjadi kondisi berat. Dalam situasi tertentu, perburukan bisa memicu perdarahan hebat, syok, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Data yang disampaikan menunjukkan sekitar 75 persen kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun. Namun, proporsi kematian terbesar justru terjadi pada usia 5–14 tahun, sehingga pencegahan pada anak tetap memerlukan perhatian yang sangat serius.
Beban kasus dan biaya terus naik
Dari sisi beban kesehatan, DBD juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Data Kementerian Kesehatan RI memperlihatkan rata-rata kasus DBD dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya.
Pola lonjakan yang dulu muncul sekitar 10 tahunan kini disebut lebih cepat, yakni sekitar tiga tahun atau kurang. Artinya, kewaspadaan publik dan sistem kesehatan harus bergerak lebih dini agar tidak selalu tertinggal oleh peningkatan kasus.
Tekanan itu juga terlihat pada pembiayaan. Data BPJS Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD pada 2024 dengan total pembiayaan sekitar Rp3 triliun.
Pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan satu cara
Upaya pengendalian lingkungan tetap menjadi dasar pencegahan DBD. Kebiasaan 3M Plus masih penting untuk menekan tempat berkembang biaknya nyamuk.
Di saat yang sama, perlindungan tambahan mulai ditempatkan sebagai bagian dari pendekatan yang lebih menyeluruh. Imunisasi dengue disebut sebagai salah satu opsi pencegahan yang dapat dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Prof. Hartono juga menekankan peran tenaga kesehatan dalam membantu masyarakat memahami pilihan pencegahan yang tersedia. Imunisasi dengue kini disebut direkomendasikan bagi anak usia 4 hingga 18 tahun sesuai persetujuan terbaru BPOM.
Momentum edukasi dan akses layanan diperkuat
Pekan Imunisasi Dunia 2026 dimanfaatkan PT Takeda Innovative Medicines dan Halodoc untuk memperkuat edukasi serta akses layanan terkait pencegahan DBD. Kolaborasi itu mencakup edukasi untuk tenaga kesehatan, kampanye publik digital, dan akses konsultasi dokter.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyampaikan bahwa dengue dapat berkembang menjadi kondisi serius hingga mengancam jiwa. Ia juga menegaskan belum ada obat spesifik untuk menyembuhkan dengue, sehingga penanganan masih berfokus pada pengelolaan gejala.
Takeda menyatakan komitmennya mendukung target menuju “Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030” melalui peningkatan pemahaman masyarakat dan kerja sama lintas sektor. Sementara itu, Halodoc menilai kemudahan akses pada edukasi dan layanan kesehatan tepercaya menjadi bagian penting dari pencegahan.
CEO dan Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, menyebut akses layanan vaksinasi DBD di Halodoc melonjak hampir dua kali lipat pada kuartal I 2026 dibandingkan kuartal IV 2025. Data itu menunjukkan minat masyarakat terhadap langkah pencegahan yang lebih proaktif terus meningkat.
Source: www.suara.com




