Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali naik setelah Teheran memberi sinyal bahwa ancaman blokade pelabuhan tidak akan membuatnya mundur. Penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa Iran punya banyak cara untuk menembus pembatasan itu.
Pernyataan tersebut langsung menempatkan blokade bukan sekadar sebagai tekanan ekonomi atau maritim. Bagi Teheran, langkah semacam itu juga berpotensi membuka jalan menuju konfrontasi yang lebih luas.
Rezaei menyebut Iran tidak akan diam jika tekanan terus ditingkatkan. Dalam pernyataannya yang dikutip Anadolu, ia mengatakan, “Blokade ini akan gagal, dan kami memiliki banyak cara untuk menembusnya.”
Nada itu menunjukkan bahwa Iran ingin mengirim pesan tegas kepada Washington. Teheran menolak gagasan bahwa pembatasan terhadap pelabuhan dapat menekan langkah politik maupun militernya.
Risiko meluas ke wilayah strategis
Rezaei juga memperingatkan bahwa ketegangan yang memuncak dapat berdampak ke sejumlah wilayah penting di Iran. Ia menyebut kawasan pesisir selatan, wilayah tengah seperti Isfahan, dan bagian barat Iran sebagai area yang bisa terdampak jika keadaan berubah menjadi perang terbuka.
Ia turut menyinggung kemungkinan serangan udara dan aksi kekerasan di Teheran apabila situasi memburuk. Dengan begitu, blokade dipandang bukan hanya sebagai persoalan akses pelabuhan, tetapi juga sebagai ancaman yang lebih besar bagi keamanan nasional.
Peringatan itu memperlihatkan bahwa Teheran membaca tekanan AS sebagai bagian dari rangkaian ancaman yang lebih luas. Dari sudut pandang Iran, pembatasan di laut dapat berimbas ke daratan dan memperlebar konflik.
Bayang-bayang bentrokan belum hilang
Sinyal keras dari Teheran muncul di tengah situasi kawasan yang masih tegang. Ketegangan itu belum lepas dari rangkaian serangan yang terjadi setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Iran kemudian membalas dengan serangan ke Israel dan sejumlah negara di kawasan yang menjadi lokasi aset militer AS. Rangkaian aksi saling balas itu disebut menewaskan lebih dari 3.300 orang sebelum kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada 8 April.
Pakistan disebut berperan sebagai mediator dalam kesepakatan tersebut. Namun, jeda tempur itu tidak otomatis menghapus ketegangan yang sudah terlanjur tinggi.
Gencatan senjata rapuh, tekanan belum berhenti
Awalnya, gencatan senjata itu dijadwalkan berakhir pada 22 April. Tetapi Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan perpanjangan tanpa batas pada 21 April setelah ada permintaan dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir.
Di tengah situasi yang masih rapuh itu, pernyataan Rezaei menjadi penanda bahwa Iran belum merasa tekanan mereda. Teheran justru mempertegas bahwa jika blokade dan tekanan militer terus dipertahankan, eskalasi bisa kembali terbuka dalam skala yang lebih sulit dikendalikan.
Source: www.beritasatu.com




