Lonjakan laba bersih Anabatic Technologies menjadi penanda bahwa perseroan sedang berada di jalur yang lebih sehat untuk menatap ekspansi. Di saat yang sama, perusahaan juga memperkuat struktur pengurusnya dengan masuknya Irfan Setiaputra sebagai Presiden Komisaris baru.
Langkah itu menambah bobot pada upaya Anabatic menjaga momentum pertumbuhan di tengah pasar teknologi yang masih luas. Perseroan tidak hanya menata ulang jajaran pengawas, tetapi juga menyiapkan fondasi bisnis yang lebih agresif untuk menangkap peluang digital.
Penguatan tata kelola dan nama besar di kursi komisaris
Dalam RUPST yang digelar di Graha Anabatic, Irfan diperkenalkan sebagai Presiden Komisaris sekaligus Komisaris Independen baru. Sosok yang pernah memimpin PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk sebagai direktur utama itu membawa pengalaman dari perusahaan besar dengan lingkungan yang kompleks dan sangat diatur.
Anabatic juga mengusulkan Prasetio sebagai Komisaris Independen dan Victor Budi Tanuadji sebagai Komisaris baru. Perubahan tidak berhenti di tingkat komisaris, karena perseroan turut menerima pengunduran diri Hideaki Ohaishi dan Rieko Kawaguchi dari jajaran direksi.
Sebagai pengganti, Jonathan Budi Tanuadji diperkenalkan sebagai direksi baru. Presiden Direktur PT Anabatic Technologies Tbk Harry Surjanto Hambali menegaskan bahwa penunjukan presidium komisaris baru merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menempatkan kepemimpinan pada posisi yang tepat.
Kinerja keuangan memberi ruang gerak lebih lebar
Di sisi bisnis, Anabatic mencatat laba bersih yang tumbuh 13,2% secara tahunan pada 2025. Pertumbuhan ini ditopang efisiensi operasional dan perbaikan kualitas profitabilitas.
Kondisi itu terlihat dari margin laba bruto 13,6% dan margin laba bersih 3,9%. Ekuitas perseroan juga naik 33,3% secara tahunan, sehingga memberi ruang yang lebih besar untuk mengeksekusi langkah bisnis berikutnya tanpa semata bergantung pada kenaikan penjualan.
Kombinasi laba yang naik, margin yang membaik, dan ekuitas yang lebih kuat membuat Anabatic lebih leluasa menyusun ekspansi. Perusahaan menempatkan kualitas pertumbuhan sebagai prioritas, bukan hanya besarnya pendapatan.
Dorongan bisnis datang dari portofolio digital
Strategi Anabatic tetap bertumpu pada pengembangan dan diversifikasi produk serta layanan bernilai tambah. Fokus utamanya ada pada solusi transformasi digital seperti Data Modernization dan AI Digital Contact Center untuk berbagai sektor industri.
Di segmen Cloud & Digital Platform Partner atau CDPP, perusahaan menambah 26 produk baru sepanjang 2025. Anabatic juga meluncurkan dua produk berbasis Intellectual Property sendiri untuk memperkuat portofolio yang lebih mandiri dan kompetitif.
Pada segmen Digital Enriched Outsourcing Services atau DEOS, integrasi Artificial Intelligence mulai ditempatkan sebagai bagian penting dalam pengembangan layanan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Anabatic ingin memperdalam nilai yang diterima pelanggan, bukan sekadar menjual layanan teknologi.
Peluang pasar masih terbuka lebar
Penguatan internal itu datang di saat industri TIK nasional masih menunjukkan potensi besar. Nilai pasar sektor ini diperkirakan mencapai sekitar USD46 miliar pada 2025, dengan proyeksi pertumbuhan CAGR 8–10% hingga 2030.
Di tengah prospek tersebut, Anabatic menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan pelanggan. Perseroan memperbaiki standar layanan, meningkatkan responsivitas, dan memanfaatkan teknologi terkini agar pengalaman pelanggan tetap konsisten dan berkelanjutan.
Dengan kepemimpinan yang diperkuat dan portofolio bisnis yang terus berkembang, Anabatic menempatkan diri sebagai mitra transformasi digital. Perseroan juga membidik penguatan peran di tingkat nasional sekaligus memperluas relevansi bisnis di pasar regional.
Source: teknologi.bisnis.com




