Ambisi Metaverse Mulai Dikecilkan, Meta Kini Lebih Serius Mengejar AI dan Perangkat Pintar

Langkah Meta dalam mengatur ulang prioritas bisnisnya makin terlihat setelah divisi Reality Labs terus menyerap dana besar tanpa menghasilkan pendapatan yang sepadan. Di saat perusahaan mencari area pertumbuhan yang lebih dekat ke pasar, unit yang mengurus virtual reality, augmented reality, dan perangkat wearable itu masih menjadi sumber kerugian yang sangat besar.

Pada laporan terbarunya, Reality Labs membukukan rugi operasional US$4,03 miliar atau sekitar Rp69,4 triliun. Pendapatannya hanya US$402 juta atau sekitar Rp6,97 triliun, angka yang jauh lebih kecil dibandingkan beban yang harus ditanggung divisi tersebut.

Kinerja itu memang sedikit lebih baik dari perkiraan analis Wall Street. Namun, hasil tersebut belum mengubah kenyataan bahwa Reality Labs masih menjadi salah satu mesin pembakar uang terbesar di tubuh Meta.

Beban yang Terus Menumpuk

Masalah di Reality Labs bukan sekadar soal satu kuartal yang berat. Sejak akhir 2020, akumulasi rugi operasional unit ini sudah melampaui US$80 miliar, menunjukkan betapa mahalnya upaya Meta membangun ekosistem digital berbasis dunia virtual.

Di sisi lain, belanja pengembangan terus berjalan sementara pemasukan belum mampu menutup biaya operasional. Kondisi itu membuat metaverse tetap jauh dari gambaran bisnis yang stabil, meski masih tercatat sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.

Arah Strategi Mulai Berubah

Reality Labs dulu menjadi pusat ambisi besar Mark Zuckerberg saat Facebook berganti nama menjadi Meta pada 2021. Saat itu, perusahaan menempatkan dunia virtual sebagai arah masa depan untuk kerja, hiburan, dan interaksi digital.

Namun, lanskap teknologi bergerak cepat setelah ledakan AI generatif yang dipicu kemunculan ChatGPT pada akhir 2022. Meta disebut tertinggal dari sejumlah pemain besar seperti OpenAI, Anthropic, dan Google dalam perlombaan kecerdasan buatan.

Situasi tersebut ikut mendorong Meta memindahkan perhatian ke infrastruktur AI, pengembangan model baru, dan layanan berbasis kecerdasan buatan. Pada saat yang sama, dana untuk Reality Labs mulai diperketat, menandakan bahwa prioritas perusahaan bergeser ke bidang yang dianggap lebih dekat dengan peluang pasar saat ini.

PHK dan Dorongan ke Perangkat Wearable

Perubahan arah itu juga memengaruhi struktur tenaga kerja. Pada Januari 2026, Meta memangkas sekitar 1.000 karyawan Reality Labs untuk memindahkan sumber daya dari proyek VR ke perangkat wearable berbasis AI.

Langkah itu datang setelah keberhasilan tak terduga dari kacamata pintar Ray-Ban Meta smart glasses yang dikembangkan bersama EssilorLuxottica. Produk tersebut memberi sinyal bahwa perangkat wearable berbasis AI memiliki prospek bisnis yang lebih menjanjikan dibandingkan sebagian proyek metaverse.

Efisiensi berlanjut pada Maret 2026 ketika Meta kembali memangkas ratusan karyawan di beberapa divisi, termasuk Reality Labs, Facebook, operasional global, rekrutmen, dan penjualan. Perusahaan juga mengumumkan rencana memangkas sekitar 10 persen dari total tenaga kerja atau sekitar 8.000 karyawan, serta menghentikan perekrutan untuk 6.000 posisi yang masih terbuka.

Taruhan Besar yang Masih Berjalan

Meski Meta belum sepenuhnya meninggalkan metaverse, arah belanja perusahaan kini terlihat lebih hati-hati. Fokus terhadap AI dan perangkat wearable menandakan bahwa Meta sedang mencari jalur pertumbuhan yang lebih realistis dalam jangka pendek.

Di sisi lain, kerugian Reality Labs pada kuartal I-2026 memperlihatkan bahwa jalan menuju profit masih sangat panjang. Selama pendapatan unit ini belum mampu mengejar biaya pengembangan, Reality Labs akan tetap menjadi ujian penting bagi strategi Mark Zuckerberg dalam mempertahankan visinya tentang masa depan digital.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version