Amazon belum menutup pintu bagi ponsel baru, tetapi Panos Panay juga tidak memberi sinyal bahwa perusahaan sedang bergegas ke arah itu. Sikapnya justru memperlihatkan pendekatan yang lebih hati-hati, dengan fokus pada tujuan yang lebih luas ketimbang sekadar menghadirkan smartphone baru.
Dalam wawancara dengan The Financial Times, bos perangkat dan layanan Amazon itu menegaskan bahwa ponsel bukan prioritas langsung perusahaan. Ia juga tidak membantah ide tersebut sepenuhnya, namun menempatkannya sebagai opsi yang harus punya alasan jelas, bukan sekadar produk tambahan.
Bayang-bayang Fire Phone masih terasa
Keraguan Amazon untuk melangkah cepat sangat masuk akal jika melihat sejarah Fire Phone. Ponsel pertama Amazon itu meluncur pada 2014 dan berakhir dengan respons yang buruk, sehingga nama Fire Phone tetap menjadi pengingat kuat atas risiko masuk ke pasar ini.
Karena latar belakang itu, setiap pembicaraan soal penerus Fire Phone langsung memicu perhatian besar. Amazon tampaknya sadar bahwa mengulang langkah lama tanpa arah yang kuat hanya akan membuka peluang kegagalan yang sama.
Amazon sudah kuat, tapi belum sepenuhnya memegang kendali di ponsel
Di sisi lain, Amazon sebenarnya sudah punya posisi yang sangat kuat di rumah lewat perangkat seperti Echo. Namun, ponsel tetap menjadi titik akses penting yang belum berada langsung di bawah kendali perangkat keras Amazon.
Panay mengakui kondisi itu, tetapi ia juga menekankan bahwa Amazon tetap menjangkau pengguna melalui aplikasi di iPhone dan ponsel Android. Artinya, jutaan orang tetap bisa memakai layanan Amazon tanpa perusahaan harus memiliki ponsel sendiri.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa Amazon belum melihat kepemilikan smartphone sebagai syarat mutlak untuk memperluas ekosistemnya. Yang lebih penting tampaknya adalah bagaimana pengguna tetap terhubung ke layanan Amazon, apa pun perangkat yang mereka pakai.
Ponsel bukan tujuan, melainkan alat
Jawaban Panay saat ditanya soal proyek ponsel juga menarik karena tidak terdengar tegas menolak. Ia menyebut pertanyaan itu terlalu hitam-putih, lalu mengatakan bahwa Amazon “tidak serta-merta mengejar ponsel”.
Pernyataan tersebut memberi gambaran bahwa Amazon tidak memandang smartphone sebagai tujuan akhir. Jika perangkat baru membantu rumah terhubung atau aktivitas ritel, maka perangkat itu bisa saja dipertimbangkan, tetapi bukan karena perusahaan ingin hadir di kategori ponsel semata.
Panay bahkan menegaskan bahwa Amazon tidak ingin datang ke pelanggan hanya dengan menawarkan “ponsel lain” tanpa alasan yang kuat. Sikap itu memperlihatkan bahwa perusahaan ingin menghindari jebakan lama: masuk ke pasar hanya demi ikut bersaing, bukan karena ada kebutuhan produk yang benar-benar jelas.
Arah perangkat masa depan belum pasti
Panay juga menyinggung bahwa bentuk perangkat di masa depan bisa saja berbeda jauh dari ponsel yang dikenal sekarang. Ia mengatakan tidak ada jalur yang benar-benar jelas saat ini, sambil menyoroti banyaknya form factor baru yang dianggap penting.
Pernyataan itu membuka ruang bagi kemungkinan bahwa perangkat mobile Amazon di masa depan tidak harus berupa smartphone tradisional. Meski begitu, ia tidak memberi petunjuk spesifik tentang produk yang sedang disiapkan atau kategori mana yang akan dipilih.
Di titik ini, Amazon tampak ingin menjaga semua opsi tetap terbuka. Perusahaan tidak bergerak dengan gaya agresif seperti saat Fire Phone dibuat, melainkan lebih berhitung pada peran perangkat terhadap ekosistem yang sudah ada.
Rumor soal kebangkitan proyek ponsel pun tetap berada di wilayah spekulasi, karena Panay hanya memberi sinyal bahwa ide itu belum tertutup sepenuhnya. Namun untuk saat ini, pesan terkuat dari Amazon jelas: Fire Phone 2.0 belum mati sebagai gagasan, tetapi belum cukup penting untuk dijadikan proyek utama.
Source: www.androidauthority.com




