Album Perdana Peni Menyusun Gelisah Menjelang Tiga Puluh, Seperti Buku Harian yang Terbuka

Menjelang usia tiga puluh, Peni memilih mengubah kegelisahan menjadi album penuh perdana. Lewat 30, band alternative rock/power pop asal Malang itu menyusun semacam arsip emosi yang berisi marah, sedih, sepi, hingga rasa yang sulit dijelaskan.

Rilisan ini hadir di bawah label Haum Entertainment dan menjadi penanda penting dalam perjalanan mereka di skena independen. Sepuluh lagu di dalamnya tidak hanya menampilkan debut album penuh, tetapi juga cara Peni membaca fase hidup yang terasa rapuh dan personal.

Buku harian dalam bentuk musik

Bagi Ken Baruna, 30 lebih dekat dengan catatan harian daripada sekadar album debut. Ia menggambarkan materi ini sebagai buku diary yang merekam pengalaman menjelang usia 30 tahun, lengkap dengan penyesalan, tekanan hidup, dan pergulatan batin yang muncul ketika memasuki fase baru.

Nuansa itu terasa kuat karena seluruh materi lahir dari pengalaman emosional yang ia alami sendiri. Di beberapa bagian, album ini juga dibantu oleh penulis puisi Randy Levin Virgiawan alias Kempel, terutama pada lagu pembuka Allegori, yang hadir karena resonansi personal yang kuat.

Dari pengaruh Amerika ke warna pop Indonesia

Secara musikal, Peni berangkat dari akar alternative rock dan power pop Amerika Serikat era 90-an. Namun arah referensi mereka bergeser seiring proses kreatif berjalan, hingga akhirnya menemukan kenyamanan pada warna pop Indonesia era 90-an hingga 2000-an.

Gilang menyebut nama-nama seperti Ariel NOAH, Eross Candra, dan Pongki Barata sebagai acuan yang ikut membentuk rasa album ini. Pergeseran tersebut membuat identitas Peni tetap terasa pop, meski tetap menyimpan sisi yang lebih kotor dan kasar.

Gelisah sosial dan ruang paling intim

Album 30 tidak hanya bergerak di wilayah emosi pribadi, tetapi juga menyentuh kritik sosial. Lagu Jakarta dan Sama mengangkat kegelisahan terhadap dinamika sosial yang absurd serta sentralisme perkotaan yang membayangi kehidupan sehari-hari.

Dari sana, album perlahan masuk ke ruang yang lebih rapat dan personal lewat nomor 30 dan Tidur. Dua lagu itu menggarap penyesalan dan tekanan hidup dengan pendekatan yang lebih intim, sehingga sisi rapuh album ini terasa semakin jelas.

Tetap catchy di tengah suasana muram

Di antara tema yang berat, Peni tetap menjaga sisi yang mudah melekat di telinga. Gejolak Asmara Masa Muda dan Pesta memberi warna yang lebih ringan dan catchy di tengah rangkaian lagu yang banyak bergerak dalam nada muram.

Pendekatan ini membuat album 30 tidak tenggelam dalam suasana gelisah semata. Ada keseimbangan antara ledakan emosi dan momen yang lebih mudah dinikmati, tanpa menghilangkan karakter pop yang ingin mereka pertahankan.

Penutup yang lirih dan sikap yang sederhana

Menjelang akhir album, Tentang Kepergian hadir sebagai lagu paling lirih. Lagu itu memakai pendekatan akustik minimalis untuk menjaga ingatan tentang kehilangan dalam suasana yang getir.

Untuk urusan pengerjaan akhir, Ken menilai pilihan Rama Studio serta Rama Satria M. dalam mixing dan mastering sudah tepat. Peni ingin tetap terdengar sebagai band pop, meski musik mereka membawa lapisan yang lebih kasar dan tidak selalu rapi.

Bagi Peni, 30 bukan proyek yang dibebani misi besar. Album ini lebih diarahkan sebagai teman bagi pendengar yang tengah berhadapan dengan hubungan yang rapuh, dunia yang bising, dan rasa sendirian yang sulit dijelaskan.

Setelah album itu dirilis, para personel kembali menjalani rutinitas harian sambil mulai mencicil materi untuk album kedua di studio. Langkah tersebut menandai bahwa perjalanan Peni belum berhenti, meski 30 sudah lebih dulu menjadi penanda fase penting dalam band ini.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button