Di tengah ramainya perhatian pada isu kesehatan mental, sebuah gagasan dari mahasiswa UNUSA menawarkan cara pandang yang lebih manusiawi. Neng Himatul Aliyah dari Fakultas Keperawatan dan Kebidanan mengusulkan AI Chatbot kesehatan mental berbasis Behaviour Therapy yang dirancang sebagai ruang aman untuk bercerita.
Ide itu berhasil membawanya meraih Juara 2 lomba esai nasional di Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri, Bojonegoro, pada April lalu. Karyanya menonjol karena tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga memadukan budaya lokal dan spiritualitas sebagai bagian dari pendekatan pendampingan mental.
Ruang aman di tengah tekanan mental
Chatbot tersebut diposisikan sebagai media “katarsis digital” bagi orang-orang yang membutuhkan tempat untuk mengungkapkan perasaan. Pengguna diarahkan agar bisa bercerita tanpa takut dihakimi, sehingga interaksi terasa lebih nyaman dan terbuka.
Untuk mendukung pengalaman itu, teknologi Natural Language Processing atau NLP disiapkan agar percakapan berjalan lebih personal dan responsif. Dengan cara ini, dukungan emosional diharapkan bisa lebih mudah diakses lewat platform digital dan terasa lebih fleksibel bagi pengguna.
Lebih dari sekadar layanan digital
Gagasan ini lahir dari kebutuhan untuk merespons darurat kesehatan mental di Indonesia. Di saat kasus gangguan kesehatan mental hingga bunuh diri terus menjadi perhatian, pendekatan yang dibawa Neng Himatul Aliyah mencoba memberi solusi yang tidak hanya teknis, tetapi juga empatik.
Unsur spiritualitas ikut dimasukkan agar pendampingan mental tidak berhenti pada bantuan digital semata. Kombinasi itu membuat konsepnya bergerak ke arah layanan yang lebih inklusif dan humanis.
Kekuatan pada perpaduan unsur yang dekat dengan masyarakat
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa teknologi bisa dipakai sebagai alat bantu yang lebih peka terhadap kebutuhan sosial. Perpaduan teknologi, budaya lokal, dan spiritualitas menjadi nilai utama yang membuat ide itu relevan dengan persoalan yang sedang banyak dibicarakan publik.
Karya Neng Himatul Aliyah juga memperlihatkan arah baru dalam pengembangan solusi kesehatan mental di kalangan mahasiswa. Alih-alih sekadar menampilkan kecanggihan sistem, gagasan ini menempatkan sisi kemanusiaan sebagai inti layanan.
Prestasi di UNUGIRI pun menegaskan bahwa mahasiswa UNUSA mampu membawa ide yang dekat dengan realitas masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas, chatbot seperti ini tidak hanya diproyeksikan untuk menjawab pertanyaan pengguna, tetapi juga membuka ruang aman bagi mereka yang membutuhkan dukungan emosional.
Source: www.jawapos.com