Zombie yang Berpikir dan Saling Berbagi, Colony Ubah Teror Train to Busan Jadi Lebih Tak Terduga

Yang membuat Colony menonjol bukan sekadar namanya yang datang dari tangan Yeon Sang Ho, sutradara di balik Train to Busan. Film ini menawarkan ancaman zombie yang tidak lagi bergerak sebagai massa liar, melainkan sebagai kelompok terinfeksi yang bisa belajar bersama dan bekerja seperti satu koloni.

Gagasan itu langsung memberi arah berbeda pada film horor survival ini. Ketika para terinfeksi tidak hanya menyerang, tetapi juga saling berbagi informasi layaknya koloni semut, strategi para penyintas bisa runtuh dalam waktu singkat.

Colony sendiri sudah lebih dulu diputar perdana di Festival Film Cannes 2026 lewat program Midnight Screenings. Setelah itu, film ini tayang serentak di Indonesia mulai 3 Juni 2026 dan hadir di Cinema XXI, CGV, serta Cinépolis Indonesia.

Cerita film ini berpusat pada bencana yang bermula dari aksi bioterorisme di sebuah gedung konferensi. Kwon Sejeong, profesor bioteknologi, datang ke Gedung Dongwoori untuk menghadiri konferensi ilmiah atas undangan mantan suaminya, Han Gyu Seong, sebelum keadaan berubah kacau akibat ulah Seo Young Cheol.

Virus yang disuntikkan ke CEO perusahaan biofarmasi kemudian mengubah korban menjadi makhluk agresif menyerupai zombie. Dalam hitungan menit, wabah menyebar ke seluruh gedung dan pemerintah pun terpaksa memberlakukan karantina total.

Pilihan lokasi ikut memperkuat rasa sesak yang dibangun film ini. Hampir seluruh cerita berlangsung di dalam satu kompleks bangunan yang sudah dikarantina, sehingga suasana terasa sempit, menekan, dan sulit memberi ruang bernapas bagi para karakter.

Desain produksinya juga mendukung ketegangan itu. Gedung modern yang awalnya rapi perlahan berubah menjadi sarang zombie dengan lendir putih, darah, parasit, dan tubuh yang bermutasi di berbagai sudut ruangan.

Ritme ceritanya kemudian bergerak cepat setelah masuk babak kedua. Adegan kejar-kejaran, pertarungan melawan gerombolan terinfeksi, dan usaha kabur para penyintas berlangsung hampir tanpa jeda selama durasi 122 menit.

Di tengah kekacauan itu, Jun Ji Hyun menjadi pusat emosi film sebagai Sejeong. Ia tampil sebagai ilmuwan yang harus mengambil keputusan sulit sambil membaca pola perilaku para terinfeksi.

Perannya memberi bobot pada cerita yang banyak bertumpu pada aksi dan horor. Akting Jun Ji Hyun juga membuat Sejeong terasa meyakinkan sebagai pemimpin kelompok penyintas dalam situasi ekstrem.

Koo Kyo Hwan tampil menonjol sebagai pemicu bencana, sementara Ji Chang Wook dan Kim Shin Rok memberi lapisan emosi lewat hubungan kakak-adik yang saling berusaha menyelamatkan. Jun Ji Hyun, Koo Kyo Hwan, Ji Chang Wook, Kim Shin Rok, Shin Hyun Been, dan Go Soo mengisi jajaran pemain utama film ini.

Meski menawarkan ide yang segar, Colony tidak sepenuhnya mulus. Babak awal memuat banyak informasi tentang virus, penelitian ilmiah, hubungan antarkarakter, dan intrik korporasi, sehingga penonton perlu mengikuti detail yang cukup padat.

Di paruh akhir, beberapa keputusan karakter juga terasa kurang logis demi menjaga konflik tetap berjalan. Hal itu sempat mengurangi ketegangan yang sudah dibangun sejak awal.

Dari sisi drama, film ini juga belum menyamai kekuatan emosional Train to Busan. Colony tetap memiliki momen yang efektif, tetapi pengembangan karakternya tidak sedalam karya Yeon Sang Ho sebelumnya.

Film ini membawa genre zombie, sci-fi, dan horor, dengan sentuhan horor Korea, action horror, survival horror, serta infected virus. Showbox memproduksi film ini, sedangkan naskahnya ditulis Yeon Sang Ho bersama Choi Gyu Seok, dan film ini memiliki rating usia R13.

Dengan ancaman yang terus berevolusi dan konsep hive mind yang menjadi pusat ceritanya, Colony tetap menawarkan pengalaman horor survival modern yang agresif. Bagi penonton yang mencari teror zombie dengan pendekatan berbeda, film ini memberi tawaran yang cukup menarik tanpa meninggalkan ciri khas Yeon Sang Ho.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version