Keputusan membeli mobil listrik sering kali tidak jatuh pada desain atau nama merek terlebih dahulu, melainkan pada tiga pertanyaan besar: sejauh apa mobil bisa dipakai, berapa lama harus menunggu saat mengisi daya, dan seberapa tenang pemilik setelah transaksi selesai. XPENG mencoba menjawab tiga keraguan itu lewat G6 dan X9, dua model yang baru dibawa ke Indonesia dengan pendekatan teknologi yang sangat menonjol.
Langkah itu penting karena pasar kendaraan listrik di Indonesia masih sensitif terhadap isu penggunaan harian. Di titik inilah XPENG menonjolkan baterai, arsitektur 800V, serta jaringan layanan yang mulai disiapkan agar konsumen merasa lebih aman dalam kepemilikan jangka panjang.
Jarak tempuh jadi pintu masuk utama
Bagi calon pembeli, angka jarak tempuh tetap menjadi tolok ukur paling mudah dipahami. XPENG menempatkan G6 dan X9 sebagai jawaban untuk kebutuhan dalam kota sekaligus perjalanan yang lebih panjang.
XPENG G6 varian Standard Range memakai baterai LFP berkapasitas bruto 66 kWh. Jarak tempuhnya diklaim sekitar 435 km berdasarkan standar WLTP dalam sekali pengisian daya.
Varian G6 Pro membawa baterai LFP 80,8 kWh. Versi ini diklaim mampu menempuh hingga 525 km berdasarkan standar WLTP.
Untuk model yang lebih besar, XPENG X9 menawarkan angka yang lebih tinggi. Varian Long Range Pro+ diklaim bisa melaju hingga 690 km berdasarkan standar NEDC, sehingga posisinya menonjol di kelas MPV listrik.
Dalam penggunaan perkotaan, angka itu dinilai cukup untuk kebutuhan harian. Efisiensi juga disebut tetap terjaga meski mobil menghadapi kemacetan dan pemakaian AC yang intensif.
Pengisian cepat dibuat lebih singkat
Selain jarak tempuh, waktu menunggu saat pengisian cepat sering menjadi sumber kekhawatiran lain. XPENG meresponsnya lewat arsitektur 800V pada G6, yang ditempatkan sebagai solusi untuk memangkas waktu berhenti.
VP Commercial XPENG Indonesia Steven Sulung menyebut G6 dibangun di atas platform 800V XPower. Menurut dia, sistem itu mampu menambah jarak tempuh 230 km hanya dalam 10 menit pengisian.
Secara keseluruhan, fast charging dari 10% ke 80% pada G6 disebut memerlukan waktu sekitar 20 menit. Pada G6 Pro, pengisian dari 10% sampai 80% diklaim hanya memakan waktu sekitar 12 menit dalam kondisi ideal.
XPENG X9 juga membawa kemampuan pengisian besar. Model ini dilengkapi sistem maximum charging 330 kW yang disebut dapat menambah jarak tempuh hingga 330 km hanya dalam 10 menit.
Rasa aman setelah membeli ikut diperhitungkan
Baterai tetap menjadi komponen paling mahal pada kendaraan listrik, sehingga jenis baterai dan perlindungan purna jual jadi bagian penting dari keputusan pembelian. Pada G6 Standard Range, XPENG memakai baterai LFP atau Lithium Iron Phosphate yang dikenal lebih stabil secara termal dan punya siklus pengisian lebih panjang.
X9 memakai pendekatan berbeda tergantung variannya. Varian Standard Range menggunakan baterai LFP 84,5 kWh, sedangkan varian Long Range Pro dan Long Range Pro+ memakai baterai NCM berkapasitas 101,5 kWh.
Untuk perlindungan konsumen, G6 mendapat garansi baterai dan kendaraan hingga 8 tahun atau 160.000 km. Pembeli juga memperoleh gratis servis selama 5 tahun atau 100.000 km.
Skema serupa berlaku pada X9 dengan garansi baterai dan kendaraan selama 8 tahun. XPENG juga menambahkan garansi ban selama 1 tahun untuk pembelian awal serta gratis pengisian daya selama 1 tahun.
Teknologi bantuan berkendara ikut dijadikan jualan utama
XPENG tidak hanya mengandalkan efisiensi energi. Merek asal China yang berdiri pada 2014 ini juga menekankan pengembangan teknologi secara mandiri, mulai dari ADAS, sistem operasi kendaraan, hingga powertrain.
Pada G6, sistem XPILOT 4.0 mendukung Navigation Guided Pilot Level 3 dan one-pedal smart driving. Perangkatnya ditopang 29 sensor presisi tinggi untuk fungsi seperti cruise control, lane centering assist, dan auto parking assist.
Di X9, XPILOT 4.0 juga hadir dengan fitur parkir otomatis yang mampu mengingat hingga 20 lokasi parkir berbeda. Mobil ini juga dibekali sistem perlindungan 360 derajat yang mendeteksi potensi risiko di sekitar kendaraan secara real-time.
Fitur seperti itu terasa relevan untuk pengguna kota besar. Terutama bagi mereka yang sering berhadapan dengan ruang parkir sempit dan lalu lintas padat.
Jaringan layanan dan platform menjadi penopang jangka panjang
Steven Sulung juga menilai pembelian mobil listrik tidak cukup dilihat dari spesifikasi hari ini. Menurut dia, platform 800V high-voltage pada G6 dirancang agar tetap relevan hingga 10 tahun ke depan.
XPENG G6 menggunakan platform SEPA 2.0. Platform ini diklaim lebih ringan namun tetap kuat, sehingga membantu efisiensi energi dan kinerja kendaraan secara keseluruhan.
Di sisi layanan, XPENG sudah mengoperasikan dua diler 3S di PIK 2 dan Puri. Jaringan itu direncanakan bertambah ke Pluit, Pondok Indah, Sunter, dan BSD dalam waktu dekat.
Ekspansi juga disiapkan ke kota besar lain seperti Surabaya, Bali, Medan, dan Makassar. Kehadiran sales, service, dan sparepart menjadi faktor penting karena tiga hal itu sering menentukan rasa aman dalam kepemilikan jangka panjang.
Per 2026, XPENG G6 dipasarkan mulai Rp 679 juta dan X9 mulai Rp 1,169 miliar. Harga itu naik setelah insentif PPN Ditanggung Pemerintah untuk kendaraan listrik berakhir, namun XPENG tetap menempatkan efisiensi operasional dan biaya perawatan yang lebih rendah dibanding mobil berbahan bakar konvensional sebagai nilai utama yang ditawarkan.
Source: oto.detik.com