Persaingan transportasi berbasis aplikasi di Amerika Serikat kini tidak hanya ditentukan oleh ukuran armada, tetapi juga oleh kemampuan kendaraan berjalan tanpa sopir. Kondisi ini membuat layanan robotaxi menjadi faktor baru yang ikut mengubah arah industri, terutama bagi driver online yang selama ini mengandalkan peran manusia di balik kemudi.
Perubahan tersebut terlihat semakin nyata karena sejumlah perusahaan besar sudah membawa robotaxi ke lebih banyak kota. Waymo milik Alphabet dan Tesla milik Elon Musk menjadi dua nama yang paling menonjol dalam ekspansi ini, sementara dampaknya mulai terasa pada posisi pengemudi manusia di tengah pasar yang terus bergerak.
Robotaxi tak lagi sebatas uji coba
Tesla baru saja mengumumkan layanan robotaxi telah hadir di Dallas dan Houston. Dalam unggahan perusahaan yang dikutip Tech Crunch, Tesla juga menampilkan video singkat berdurasi 14 detik yang memperlihatkan mobil berjalan tanpa pengawas atau pengemudi manusia di kursi depan.
Sebelum dua kota itu, Tesla lebih dulu meluncurkan layanan serupa di Austin dan mulai menawarkan perjalanan tanpa pengemudi sejak awal tahun ini. Dengan tambahan Dallas dan Houston, layanan robotaxi Tesla kini tercatat hadir di tiga kota di Texas.
Di San Fransisco Bay Area, Tesla juga sudah beroperasi. Namun, layanan di kawasan tersebut masih memakai pengemudi manusia sehingga model operasinya belum sepenuhnya otonom.
Waymo ikut memperluas jangkauan
Langkah Tesla berjalan beriringan dengan ekspansi Waymo yang juga semakin agresif. Layanan milik Alphabet, induk Google, sekarang tersedia di sejumlah kota seperti Dallas, Houston, San Antonio, dan Orlando.
Waymo juga sempat bermitra dengan Uber untuk membuka layanan di Austin tahun lalu. Kehadiran lebih dari satu pemain besar menunjukkan bahwa pasar robotaxi di Amerika Serikat mulai diperebutkan secara terbuka, bukan lagi dikuasai oleh satu perusahaan saja.
Selain Tesla dan Waymo, beberapa nama lain juga mulai melirik peluang serupa. Zoox milik Amazon, Waabi, dan Nuro disebut berencana meluncurkan layanan robotaxi komersial di negara tersebut.
Tekanan pada driver online makin besar
Meluasnya layanan tanpa sopir memunculkan pertanyaan yang semakin serius bagi driver online. Jika kendaraan dapat menjalankan perjalanan tanpa kehadiran sopir di kursi depan, maka kebutuhan terhadap pengemudi manusia pada sebagian layanan transportasi bisa menyusut.
Kekhawatiran seperti ini sebelumnya juga pernah muncul di China. Kini, situasinya menjadi lebih relevan di Amerika Serikat karena ekspansi robotaxi berlangsung cepat dan melibatkan perusahaan besar dengan dukungan teknologi yang kuat.
Dampaknya bukan hanya soal efisiensi perjalanan atau kemudahan pengguna. Perubahan ini juga menyentuh struktur kerja di sektor transportasi, karena ruang bagi tenaga manusia dapat tertekan saat layanan tanpa sopir terus meluas.
Sorotan soal keselamatan tetap membayangi
Di tengah ekspansi tersebut, robotaxi masih belum lepas dari perhatian soal keamanan. Tesla tercatat terlibat dalam 14 kali kecelakaan sejak diluncurkan di Austin.
Sementara itu, otoritas keselamatan lalu lintas Amerika Serikat juga membuka penyelidikan atas insiden kendaraan otonom Waymo yang menabrak seorang anak di Santa Monica, California. Dalam peristiwa itu, korban mengalami luka ringan.
Rangkaian kejadian itu menunjukkan bahwa teknologi kendaraan otonom masih menghadapi tantangan di lapangan. Meski layanan terus diperluas ke berbagai kota, publik dan regulator tetap menaruh perhatian besar pada bukti keamanan sebelum kendaraan tanpa sopir bisa benar-benar menjadi pengganti luas bagi driver manusia.
Pergerakan robotaxi di Amerika Serikat memperlihatkan bahwa persaingan transportasi kini memasuki fase baru. Semakin banyak kota menerima layanan ini, semakin besar pula tekanan yang dirasakan driver online ketika kendaraan otonom mulai mengambil ruang yang sebelumnya sepenuhnya bergantung pada manusia.
Source: www.cnbcindonesia.com




