Wasiat Winit Mengubah Pemakaman Jadi Penuh Musik, Tiga Penari Dipanggil Untuk Penghormatan Terakhir

Bagi sebagian orang, pemakaman identik dengan suasana hening dan penuh tangis. Namun di Thailand, sebuah keluarga memilih cara yang justru jauh lebih hidup ketika mengantar Winit, pria berusia 59 tahun, ke peristirahatan terakhirnya.

Pilihan itu menarik perhatian karena di depan peti jenazah tampil penari berpakaian minim sebagai bentuk penghormatan terakhir. Momen tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu banyak pembicaraan soal etika, tradisi, dan cara orang mengekspresikan duka.

Bagi keluarga, pertunjukan itu bukan tindakan spontan untuk mencari perhatian. Mereka menjalankannya karena Winit sudah lebih dulu meninggalkan wasiat agar pemakamannya tidak berlangsung muram.

Winit juga disebut secara khusus meminta agar ada penari yang tampil di depan peti matinya. Permintaan itu membuat keluarga merasa harus memenuhi keinginan almarhum, karena mereka menilai cara tersebut paling sesuai dengan kepribadian Winit semasa hidup.

Prosesi utama berlangsung di Wat Thepphanom Chuet. Setelah para biksu menuntaskan ritual adat dan kembali ke kuil, keluarga baru menjalankan bagian yang telah diminta Winit itu.

Mereka kemudian menyewa truk sound system dan tiga penari profesional untuk mengisi area persemayaman. Musik mengalun di sekitar peti jenazah saat para penari mulai tampil, sehingga suasana yang biasanya khidmat berubah menjadi lebih ramai dan hidup.

Pertunjukan itu tidak hanya disaksikan oleh keluarga inti. Warga sekitar juga datang melayat, dan anak-anak hingga lansia tampak berada di lokasi untuk melihat jalannya acara.

Bagi keluarga, kehadiran penari menjadi cara untuk merayakan hidup Winit, bukan sekadar mengantar kepergiannya. Mereka menilai perpisahan seperti itu lebih dekat dengan karakter almarhum yang dikenal ceria dan tidak ingin keluarganya tenggelam dalam kesedihan.

Peristiwa ini juga mengingatkan pada pemakaman lain di Thailand yang pernah menarik perhatian publik. Di Provinsi Loei, pemakaman seorang fotografer berusia 58 tahun juga digelar tanpa nuansa suram.

Dalam acara itu, keluarga dan teman-temannya berkumpul dengan suasana seperti berkemah sambil menyanyikan lagu-lagu favorit mendiang. Cara tersebut dipilih karena sang fotografer dikenal selalu positif dan membawa suasana cerah di sekitarnya.

Dari dua peristiwa itu, terlihat bahwa sebagian masyarakat di Thailand mengekspresikan duka dengan cara yang sangat personal. Dalam kasus Winit, suasana yang meriah justru dipandang keluarga sebagai bentuk penghormatan terakhir yang paling sesuai dengan wasiatnya.

Source: www.suara.com
Exit mobile version