Warga Jateng Selatan Diminta Siaga Hingga Akhir April, Hujan Lebat Masih Mengancam Banjir Dan Longsor

Masyarakat di Jawa Tengah bagian selatan diminta lebih waspada karena hujan lebat masih berpeluang muncul hingga akhir April. Dalam periode ini, ancaman banjir dan tanah longsor menjadi perhatian utama, terutama di wilayah yang memang punya kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi.

Peringatan tersebut mengacu pada surat peringatan dini cuaca dan iklim dari Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II tertanggal 20 April 2026. Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menyampaikan bahwa seluruh Jawa Tengah masih berada dalam musim hujan.

Teguh menegaskan bahwa selama musim hujan, peluang turunnya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tetap terbuka. Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah selatan Jateng diminta tidak lengah, karena cuaca bisa berubah dalam waktu singkat dan memengaruhi tingkat risiko di lapangan.

Pada 23 April 2026, potensi hujan lebat diperkirakan paling menonjol di Jawa Tengah bagian selatan. Salah satu wilayah yang disebut paling berisiko saat itu adalah Kabupaten Cilacap bagian barat, sehingga warga di kawasan tersebut diminta mencermati perkembangan cuaca dari waktu ke waktu.

Sejumlah kecamatan di Cilacap masuk dalam daftar wilayah yang perlu waspada. Wilayah itu meliputi Dayeuhluhur, Kedungreja, Kawunganten, Gandrungmangu, Sidareja, Majenang, Wanareja, Cipari, Patimuan, Bantarsari, dan Kampung Laut.

BMKG juga menyoroti beberapa daerah lain yang patut mengikuti informasi cuaca secara lebih dekat. Wilayah tersebut mencakup Sumbang, Baturraden, Kedungbanteng, serta sebagian wilayah Kabupaten Purbalingga dan Banjarnegara.

Sebaran hujan bergeser pada akhir pekan

Memasuki 24-26 April 2026, sebaran hujan lebat diperkirakan tidak lagi terkonsentrasi di wilayah barat Cilacap. Pada periode ini, potensi cuaca buruk bergeser ke Cilacap bagian tengah hingga timur.

Kecamatan yang diminta memperhatikan ancaman hujan lebat antara lain Kesugihan, Adipala, Binangun, Nusawungu, Kroya, Maos, Jeruklegi, Sampang, Cilacap Tengah, dan Cilacap Utara. BMKG juga memasukkan Kemranjen, Sumpiuh, dan Tambak sebagai wilayah yang berpotensi terdampak.

Selain itu, Kecamatan Ayah dan Rowokele di Kabupaten Kebumen ikut berada dalam pantauan potensi hujan lebat. Perubahan sebaran ini menunjukkan bahwa kondisi cuaca di selatan Jawa Tengah masih dinamis dan perlu dipantau melalui sumber resmi.

Risiko banjir dan longsor perlu diantisipasi

Hujan lebat pada periode tersebut dinilai dapat memicu banjir dan tanah longsor. Risiko ini menjadi lebih besar di wilayah perbukitan serta kawasan yang sistem drainasenya kurang baik.

Curah hujan yang tinggi dapat meningkatkan limpasan air di permukaan tanah. Dalam kondisi seperti itu, daerah yang rawan genangan biasanya lebih cepat terdampak, sedangkan lereng curam menjadi lebih rentan mengalami pergerakan tanah.

BMKG juga memastikan tidak ada peringatan dini kekeringan meteorologis di Jawa Tengah selama 23-30 April 2026. Artinya, fokus kewaspadaan masih tertuju pada potensi bahaya akibat hujan tinggi dan dampaknya di wilayah rawan.

BMKG minta warga pantau informasi resmi

BMKG memperkirakan potensi hujan lebat mulai mereda pada 27-30 April 2026. Meski begitu, perubahan cuaca yang cepat tetap bisa terjadi sehingga kewaspadaan masyarakat belum perlu diturunkan.

Untuk mempercepat langkah mitigasi, BMKG meminta warga dan pemerintah daerah mengikuti pembaruan cuaca melalui aplikasi InfoBMKG dan kanal resmi hingga tingkat kecamatan. Pemantauan ini dianggap penting agar antisipasi bisa dilakukan lebih cepat dan lebih tepat sasaran.

Teguh Wardoyo menyampaikan bahwa informasi dini diharapkan membantu pemerintah daerah dan masyarakat mengurangi dampak bencana. Dengan musim hujan yang masih berlangsung, kesiapsiagaan warga di wilayah rawan tetap menjadi hal yang perlu dijaga sampai potensi hujan lebat benar-benar mereda.

Source: regional.kompas.com
Exit mobile version