Bagi banyak umat Buddha, Hari Waisak tidak pernah datang pada tanggal yang sama dari tahun ke tahun. Perubahan itu bukan karena penetapan yang acak, melainkan karena perayaan ini mengikuti kalender lunisolar yang menghitung peredaran Bulan dan Matahari sekaligus.
Akibatnya, Waisak kerap jatuh pada waktu yang berbeda ketika dipindahkan ke kalender Gregorian. Dalam tradisi Buddhis, momen ini tetap terkait dengan bulan purnama pertama di bulan Vesakha, yang umumnya berada di sekitar akhir April hingga Mei.
Perbedaan penanggalan itu juga menjelaskan mengapa tanggal Waisak tidak selalu seragam di setiap negara. Sebagian wilayah memakai hitungan kalender yang berbeda, sehingga tanggal perayaannya bisa bergeser meski makna dasarnya tetap sama.
Nama Waisak sendiri berasal dari kata Vaisakha, yaitu bulan dalam kalender Hindu dan Buddha yang diyakini sebagai bulan kelahiran Buddha. Dalam kalender tersebut, Vaisakha biasanya bertepatan dengan akhir April hingga awal Mei pada kalender Gregorian.
Di Nepal, yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Buddha, Waisak umumnya dirayakan saat bulan purnama pertama di bulan Vaisakha. Sementara itu, Singapura memakai kalender lunar Tiongkok untuk menentukan Hari Waisak, sehingga tanggalnya bisa jatuh lebih lambat dibanding negara yang mengikuti kalender Hindu-Buddha tradisional.
Ada juga negara yang mengambil jalur lebih sederhana. Jepang menggunakan kalender Gregorian, sehingga Hari Waisak selalu diperingati pada 8 April setiap tahun.
Perbedaan ini berakar pada tradisi penanggalan lama yang sudah dipakai jauh sebelum kalender Gregorian diperkenalkan pada abad ke-16. Karena itu, perayaan Waisak tetap mempertahankan sistem hitung dari tradisi tersebut, bukan menyesuaikan diri dengan tanggal tetap di kalender modern.
Meski tanggalnya berubah, makna Waisak tetap serupa di banyak negara. Umat Buddha memperingatinya sebagai momen kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Buddha Gautama.
Waisak juga identik dengan nilai kedamaian, kepedulian, dan welas asih terhadap sesama makhluk hidup. Karena itu, perayaannya tidak hanya berisi ibadah, tetapi juga kegiatan yang mencerminkan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu tradisi yang umum dilakukan adalah berkunjung ke vihara sambil membawa persembahan. Umat Buddha biasanya datang dengan bunga, lilin, dan dupa, lalu mengikuti doa bersama, meditasi, serta ceramah Dharma dari para biksu.
Di sejumlah tempat, perayaan Waisak juga diisi dengan aksi sosial. Banyak umat Buddha membagikan makanan, donasi, atau kebutuhan pokok kepada orang yang membutuhkan, serta ikut kegiatan di panti sosial, rumah sakit, atau bentuk kemanusiaan lainnya.
Nuansa perayaan bisa sangat beragam, tergantung negara dan komunitasnya. Di Korea Selatan dan Sri Lanka, Waisak sering dirayakan dengan festival lampion yang meriah, sementara jalanan dan rumah dihiasi lampu warna-warni.
Parade budaya dengan musik tradisional dan dekorasi khas juga ikut memeriahkan suasana di beberapa negara. Ada pula tradisi melepaskan hewan seperti burung atau ikan ke alam liar sebagai simbol kebebasan dan kasih sayang.
Namun, banyak komunitas kini menyesuaikan cara itu agar tetap aman bagi lingkungan dan tidak membahayakan hewan yang dilepas. Di mana pun dirayakan, Waisak tetap menjadi salah satu hari penting bagi umat Buddha dengan makna spiritual yang sama, meski tanggalnya terus bergerak mengikuti sistem kalender yang digunakan.
Source: www.idntimes.com




