Verifikasi Wajah Dan Identitas Di PlayStation Picu Kemarahan Gamer Inggris, Akses Online Terancam Tertutup

Banyak pemain PlayStation di Inggris kini menghadapi situasi yang membuat pengalaman online mereka terasa lebih rumit dari biasanya. Untuk tetap memakai fitur sosial di konsol, pengguna harus menjalani verifikasi usia yang meminta data sensitif, termasuk pemindaian wajah, identitas resmi pemerintah, dan nomor ponsel yang sudah diverifikasi.

Kebijakan ini langsung memicu penolakan karena menyentuh bagian paling penting dari ekosistem PlayStation. Chat suara, pesan, siaran, hingga multiplayer di PS5 dan PS4 kini bisa ikut dibatasi bila verifikasi tidak diselesaikan.

Sony menerapkan aturan tersebut untuk menyesuaikan diri dengan UK Online Safety Act. Regulasi itu menuntut perusahaan teknologi memastikan platform mereka aman bagi pengguna yang lebih muda, sehingga verifikasi usia menjadi syarat untuk mengakses fitur sosial di Inggris.

Yang membuat banyak orang makin keberatan adalah cara penerapannya. Proses verifikasi dilakukan lewat aplikasi pihak ketiga bernama Yoti, bukan langsung melalui sistem konsol, dan pengguna diminta mengunggah facial scan, kartu identitas resmi, lalu menghubungkan nomor ponsel yang telah diverifikasi.

Bagi sebagian pemain, permintaan itu terasa berlebihan untuk layanan yang sudah lama mereka pakai. Mereka menilai penyerahan data biometrik kepada pihak ketiga bukan sekadar pemeriksaan usia biasa, melainkan perubahan besar dalam cara mereka berinteraksi dengan PlayStation.

Kemarahan juga datang dari kekhawatiran soal privasi dan keamanan data. Sejumlah pengguna di X menyatakan keberatan karena tidak nyaman menyerahkan biometrik kepada perusahaan pihak ketiga yang mereka anggap memiliki rekam jejak bermasalah.

Di komunitas, keluhan itu berkembang menjadi rasa frustrasi yang lebih luas. Ada pemain yang menilai konsol mereka nyaris kehilangan fungsi untuk aktivitas online jika mereka memilih tidak melalui verifikasi, terutama bagi yang rutin bermain bersama teman.

Sebagian pengguna juga merasa aneh karena harus membuktikan usia lagi, meski mereka sudah punya akun PlayStation sejak masa awal peluncuran perangkat di Inggris. Reaksi seperti ini membuat kebijakan tersebut dipandang bukan sebagai pembaruan kecil, melainkan perubahan mendasar pada pengalaman bermain.

Di tengah penolakan itu, ada batas yang tetap tidak tersentuh. Game single-player masih bisa dimainkan seperti biasa, termasuk judul seperti God of War: Ragnarok dan Ghost of Yotei.

Masalah baru muncul saat pemain ingin memakai fitur yang bergantung pada interaksi sosial dan konektivitas online. Pada titik itulah verifikasi usia berubah menjadi syarat wajib, sehingga pembatasannya terasa jauh lebih mengganggu dibanding isi game itu sendiri.

Perbandingan dengan platform lain ikut memperbesar sorotan. Sejumlah pengguna di X menilai Xbox bisa mematuhi aturan Inggris tanpa mencabut konektivitas online dengan cara serupa, dan disebut memakai pendekatan berbasis usia akun ketimbang meminta identitas sensitif.

Perbandingan itu membuat banyak pemain mempertanyakan pilihan Sony. Perdebatan pun bergeser dari soal kepatuhan hukum menjadi soal apakah ada metode yang lebih ramah privasi untuk mencapai tujuan yang sama.

Di sisi lain, muncul juga kecurigaan yang lebih jauh tentang motif pengumpulan data. Ada spekulasi bahwa verifikasi usia ini berkaitan dengan pemantauan komunikasi langsung, bukan semata perlindungan anak, meski klaim tersebut belum didukung pembuktian dalam materi yang tersedia.

Narasi yang beredar di media sosial bahkan menggambarkan kebijakan ini sebagai langkah menuju pengawasan yang lebih luas lewat AI dan pelacakan wajah. Keberadaan pihak ketiga dalam proses verifikasi membuat isu kepercayaan makin sensitif, apalagi saat pengguna diminta menyerahkan data biometrik dan identitas resmi di luar sistem yang biasa mereka gunakan.

Satu hal yang paling dikhawatirkan pemain adalah tenggat hard lock yang disebut jatuh pada Juni 2026. Jika verifikasi belum selesai sebelum batas itu, akses penuh ke fitur online terkait bisa hilang sepenuhnya.

Source: tech.sportskeeda.com
Exit mobile version