PT Vale Indonesia Tbk tengah menyiapkan langkah untuk mengurangi ketergantungan pada sulfur impor dengan menguji mineral pirit dalam proses pengolahan nikel. Uji ini menjadi penting karena sulfur bukan sekadar bahan baku biasa, melainkan komponen utama dalam produksi mixed hydroxide precipitate atau MHP, salah satu bahan baku baterai yang pasokannya perlu dijaga tetap stabil.
Dorongan mencari bahan pengganti datang saat harga sulfur impor melonjak. Dalam kondisi seperti itu, Vale memilih bergerak lebih awal agar tidak tertekan oleh biaya produksi maupun risiko pasokan yang bisa mengganggu operasional.
Pirit dicoba bertahap di smelter
Head of Studies and Exploration INCO, Tyas Agustinus Rabudianto, menjelaskan bahwa pirit mulai dicampur dengan sulfur di smelter. Pada tahap awal, komposisinya berada pada rasio 25 banding 75 persen, lalu porsi pirit disiapkan untuk dinaikkan secara bertahap jika hasil pengujian tetap baik.
Pengujian itu dilakukan dalam beberapa rentang blending ratio untuk menggantikan sebagian sulfur. Pirit yang dipakai berasal dari mineral besi sulfida, material yang selama ini kerap dianggap limbah sisa pengolahan emas.
Kualitas produk belum berubah
Sejauh ini, dua tahap pengujian belum mengubah kualitas produk nikel yang dihasilkan. Hasil tersebut membuat Vale melanjutkan studi ke tahap berikutnya dengan porsi pirit yang lebih besar.
Tyas juga menyebut stok sulfur internal masih tersedia. Meski begitu, perusahaan tetap menyiapkan opsi alternatif agar tidak bergantung penuh pada satu sumber bahan baku.
Tekanan pasokan jadi alasan utama
Kebutuhan sulfur dalam proses high pressure acid leaching tergolong besar. Industri nikel umumnya membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur untuk menghasilkan satu ton MHP, sementara di smelter hidrometalurgi Vale kebutuhan sulfur tahunan mencapai 70.000 ton.
Dengan stok operasional yang ada, ketahanan pasokan perusahaan hanya berada di kisaran empat hingga enam pekan. Karena itu, pencarian bahan pengganti tidak hanya dipandang sebagai uji teknis, tetapi juga langkah strategis untuk menjaga kelancaran produksi.
Vale juga akan memberi tahu konsumen mengenai penggunaan campuran pirit dalam proses pengolahan produknya. Komunikasi ini penting karena sulfur tetap menjadi salah satu bahan pendukung utama dalam rantai pasok bahan baku industri baterai nasional.
Risiko impor masih besar
Ketergantungan Indonesia terhadap sulfur impor masih tinggi. Pada 2025, sebanyak 75 persen impor sulfur berasal dari Timur Tengah, sehingga gangguan di Selat Hormuz dapat berdampak pada biaya logistik dan pasokan industri.
Peta pasokan sulfur Indonesia menunjukkan Arab Saudi menyumbang 1.760.000 ton, disusul Qatar 967.000 ton, Uni Emirat Arab 918.000 ton, Kanada 515.000 ton, Kuwait 366.000 ton, Malaysia 146.000 ton, dan Singapura 115.000 ton. Susunan ini memperlihatkan betapa sensitifnya kebutuhan industri terhadap gangguan geopolitik dan jalur pelayaran.
Berjalan di tengah ekspansi besar
Upaya mencari bahan alternatif ini berlangsung seiring ekspansi Vale Indonesia di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako. Total investasi perusahaan di tiga proyek tersebut mencapai US$8,5 miliar, dengan IGP Pomalaa menjadi proyek terbesar senilai US$4,5 miliar.
Hingga April 2026, progres konstruksi pabrik HPAL di Pomalaa telah mencapai 65 persen. Di Morowali, Blok Bahodopi sudah beroperasi sejak kuartal I-2025 dan pada awal 2026 berhasil menjual 2,2 juta ton bijih.
Pembangunan pabrik HPAL Sorowako Limonite di Sulawesi Selatan juga masih berjalan. Proyek itu sudah mencapai 18 persen dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027.





