Utilitas Listrik Dikejar Beban Baru, Quantum Computing Muncul Sebagai Alat Penentu Keputusan

Beban jaringan listrik kini tidak lagi datang hanya dari rumah tangga dan industri. Pusat data, kendaraan listrik, peralatan pintar, dan smart meter ikut mengubah pola konsumsi menjadi lebih dinamis dan sulit diprediksi.

Perubahan itu membuat utilitas listrik dan pembangkit perlu alat bantu baru untuk mengambil keputusan. Di titik inilah quantum computing mulai dilihat sebagai teknologi yang punya peran praktis, terutama untuk manajemen energi, peramalan beban, dan optimasi jaringan yang makin kompleks.

Tekanan baru pada grid

Pergeseran konsumsi listrik membuat perencanaan daya menjadi semakin rumit. Jaringan harus menghadapi beban yang lebih beragam, sementara kebutuhan pusat data menambah tekanan pada kapasitas pembangkitan dan grid.

Dalam situasi seperti ini, efisiensi daya dan ruang menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Dr. Remy Notermans, direktur Strategic Planning di Atom Computing, menilai tidak semua arsitektur quantum membawa jejak energi yang sama.

Ia menyebut pendekatan seperti superconducting dan photonic systems dapat memerlukan infrastruktur multi-megawatt untuk satu mesin. Karena itu, quantum yang lebih hemat daya dinilai lebih relevan untuk masa depan energi.

Pendekatan neutral atom yang dibawa Atom Computing

Atom Computing memilih pendekatan neutral atom dengan ytterbium atoms sebagai qubit fisik. Atom-atom itu ditangkap dan disusun di ruang vakum kecil menggunakan optical tweezers yang dibentuk cahaya laser.

Model ini dianggap menarik karena skalabel. Sistem laser yang sama untuk mengendalikan ratusan atom dapat diperluas ke ribuan hingga ratusan ribu atom tanpa mengubah teknologi dasarnya.

Keseragaman neutral atoms juga membantu menurunkan kompleksitas kalibrasi. Karena itu, pendekatan ini dipandang kuat untuk menuju quantum computing skala utilitas yang fault-tolerant.

Dari riset menuju kebutuhan industri

Meski minatnya meningkat, quantum computing masih banyak diposisikan sebagai alat riset. Notermans menilai belum jelas use case mana yang akan lebih dulu menghasilkan nilai ekonomi nyata karena teknologi dan aplikasinya masih terus berkembang.

Terobosan awal diperkirakan muncul pada problem yang memang bersifat quantum, seperti kimia dan ilmu material. Di sektor energi, pemahaman itu bisa membantu analisis proses fisik dan kimia pada baterai serta sel surya.

Atom Computing juga bekerja bersama National Laboratory of the Rockies, yang lama dikenal sebagai National Renewable Energy Laboratory. Kolaborasi itu diarahkan untuk menunjukkan bagaimana workflow “Quantum-in-the-Loop” dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan pada grid listrik.

Bidang energi yang paling dekat terdampak

Untuk saat ini, quantum computing dinilai paling cocok menyentuh persoalan energi yang memang alami bersifat quantum. Area yang disebut paling berpeluang terdampak lebih dulu mencakup chemistry baterai, perilaku sel surya, dan transport radiasi nuklir.

Namun, solusi siap pakai masih sangat terbatas. Karena itu, pengembangan masih perlu dilakukan lewat kolaborasi erat antara peneliti dan pakar quantum.

Bagi perusahaan energi yang ingin mulai masuk, akses cloud langsung ke sistem quantum menjadi salah satu jalur awal. Opsi lain adalah bekerja sama dengan penyedia software quantum untuk mengembangkan aplikasi dan mengakses hardware yang sesuai.

Waktu adopsi terasa makin dekat

Notermans mengatakan neutral atom technology bergerak cepat dan kini menunjukkan performa logical qubit yang terdepan di industri. Logical qubit dipandang penting karena menjadi langkah kunci menuju tingkat error yang cukup rendah untuk aplikasi bernilai ekonomi.

Ia juga menilai jarak menuju penggunaan yang ekonomis kini terasa lebih dekat, kemungkinan sekitar lima tahun ketimbang 10 tahun. Bagi organisasi energi, itu berarti investasi pada orang, waktu, dan dana perlu dimulai lebih awal agar tidak tertinggal.

Dalam lima hingga 10 tahun ke depan, organisasi yang lebih cepat membangun keahlian internal disebut akan berada di posisi terbaik. Mereka akan lebih siap memanfaatkan sistem quantum canggih untuk use case yang sedang muncul maupun aplikasi baru yang mereka kembangkan sendiri.

Bagi perusahaan yang baru memulai, bergabung dengan ekosistem lokal juga dianggap langkah awal yang efektif. Banyak wilayah memiliki konsorsium lokal, regional, atau nasional seperti Quantum Economic Development Consortium di Amerika Serikat, yang dapat membantu perusahaan belajar, terhubung dengan pakar, dan mencari peluang kolaborasi.

Baca Juga

Back to top button