Rasio utang pemerintah Singapura kembali menjadi sorotan setelah IMF menempatkan negara itu di posisi tiga besar dunia dalam daftar negara dengan beban utang tertinggi dibandingkan ukuran ekonominya. Angka 176% membuat Singapura berada di bawah Jepang dan Sudan, meski situasi fiskalnya tidak dibaca sama seperti negara-negara lain yang juga masuk daftar itu.
Ukuran yang dipakai IMF bukan sekadar melihat besar kecilnya utang total. Rasio utang terhadap PDB digunakan untuk menilai seberapa berat kewajiban pemerintah jika dibandingkan dengan kapasitas ekonominya, sehingga indikator ini sering dianggap lebih informatif daripada nominal utang semata.
Peta tiga besar yang menarik perhatian
Dalam World Economic Outlook 2025, Jepang menempati posisi teratas dengan rasio utang terhadap PDB sebesar 230%. Sudan mengikuti di urutan kedua dengan 222%, lalu Singapura di posisi ketiga dengan 176%.
Di bawah tiga besar, Venezuela dan Lebanon sama-sama mencatat rasio 164%. Setelah itu ada Yunani dengan 147%, Bahrain 143%, dan Italia 137%.
Mengapa Singapura tidak dibaca dengan cara yang sama
Masuknya Singapura ke jajaran teratas memang memancing perhatian, tetapi konteksnya berbeda dari banyak negara lain yang memiliki utang tinggi. Utang Singapura disebut bersifat domestik dan digunakan untuk sistem investasi, bukan muncul karena tekanan gagal bayar.
Karena itu, rasio yang tinggi tidak otomatis berarti ekonominya rapuh. Struktur penggunaan utang bisa sangat berbeda antarnegara, sehingga angka yang sama belum tentu menunjukkan kondisi fiskal yang sama pula.
Amerika Serikat besar, tetapi bukan yang paling tinggi secara rasio
Perbandingan ini juga terlihat pada Amerika Serikat. Negeri itu memiliki nilai nominal utang terbesar di dunia, mencapai 38 triliun dolar AS, tetapi dalam perhitungan rasio utang terhadap PDB, posisinya berada di peringkat ke-11 dengan angka 125%.
Perbedaan ini memperlihatkan mengapa penilaian utang negara tidak cukup hanya mengandalkan jumlah total. Rasio memberikan gambaran yang lebih seimbang karena membandingkan utang dengan ukuran ekonomi yang menopangnya.
Daftar 20 besar versi IMF
Selain nama-nama di atas, daftar 20 besar IMF juga memuat Maladewa dengan 132% dan Mozambik 131%. Kemudian ada Bhutan 124%, Prancis 112%, Kanada 109%, Spanyol 107%, Belgia 105%, Inggris 104%, Brasil 98%, Portugal 96%, dan India 83%.
Susunan itu menunjukkan bahwa negara maju dan negara berkembang sama-sama bisa muncul dalam daftar utang tertinggi. Perbedaan utamanya terletak pada struktur ekonomi, kapasitas fiskal, dan tujuan penggunaan utang di masing-masing negara.
Tekanan global dan sorotan kawasan
Di Asia Tenggara, Malaysia memiliki rasio utang yang mendekati 70% dari PDB. Australia juga tercatat menunjukkan tren kenaikan rasio utang dalam beberapa tahun terakhir.
IMF memperingatkan bahwa utang global berisiko menyentuh 100% dari total PDB dunia pada 2029. Tekanan tersebut datang dari belanja negara yang tinggi dan kenaikan suku bunga pinjaman global yang terus menekan stabilitas ekonomi berbagai negara.
Source: mediaindonesia.com




