Bagi banyak jamaah, bagian yang paling mudah terlewat dalam salat Idul Adha bukan pada gerakannya, melainkan urutan takbir tambahan yang menjadi ciri khas ibadah ini. Saat imam mulai bertakbir di luar takbiratul ihram, makmum perlu memahami alurnya agar tidak bingung dan tetap tenang mengikuti salat.
Karena hanya dilaksanakan dua rakaat dan tidak didahului azan maupun iqamah, salat Idul Adha punya tata cara yang berbeda dari salat harian. Perbedaan itu membuat niat dan susunan takbir menjadi hal penting, terutama bagi makmum yang ingin mengikuti ibadah dengan tertib sejak awal.
Untuk makmum, lafaz niat yang dibaca adalah, “Ushalli sunnatan li ‘idil adha makmuman lillahi ta’ala.” Artinya, “Aku berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat sebagai makmum karena Allah ta’ala.” Niat ini disunahkan dibaca di dalam hati sebelum takbiratul ihram, sehingga tidak perlu dilafalkan keras-keras.
Jika posisi jamaah sebagai imam, lafaznya berubah menjadi, “Ushalli sunnatan li ‘idil adha imaman lillahi ta’ala.” Perbedaan lafaz ini menunjukkan bahwa niat mengikuti peran masing-masing dalam salat berjamaah tetap diperhatikan dengan jelas.
Setelah niat, salat dimulai dengan takbiratul ihram seperti salat biasa, lalu dilanjutkan doa iftitah. Pada rakaat pertama, ada tujuh kali takbir sebelum membaca Al-Fatihah, yang menjadi penanda utama salat Idul Adha dan sering menjadi bagian yang paling perlu dicermati makmum.
Sesudah Al-Fatihah, dianjurkan membaca surah Al-A’la. Rakaat pertama kemudian berlanjut ke ruku, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kembali, lalu berdiri untuk rakaat kedua.
Di rakaat kedua, takbir dilakukan lima kali sambil mengangkat tangan dan mengucapkan “Allahu akbar.” Setelah itu, rangkaian salat berjalan seperti biasa sampai tahiyat akhir dan salam.
Di sela-sela takbir tambahan, ada bacaan yang dianjurkan untuk menambah kekhusyukan. Salah satunya adalah “Allahu akbar kabira walhamdu lilahi katsira wa subhanallahi bukratan wa ashila,” yang berarti Allah Mahabesar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Mahasuci Allah, baik waktu pagi dan petang.
Bacaan lain yang juga boleh dibaca adalah “Subhanallah wal hamdu lillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar.” Artinya, Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Mahabesar. Pilihan bacaan ini memberi ruang bagi jamaah untuk tetap mengikuti salat dengan nyaman tanpa keluar dari tuntunan yang dianjurkan.
Setelah salat selesai, jamaah disunahkan mendengarkan ceramah Idul Adha. Suasana ini menjadi bagian dari perayaan hari raya yang tidak hanya menandai ibadah, tetapi juga menambah pemahaman tentang makna ketaatan yang menyertainya.
Source: www.idntimes.com