Upah AS Masih Menggigit, Reli Bitcoin Ke $120 Ribu Kian Sulit Tembus

Tekanan pada Bitcoin tidak hanya datang dari harga yang kembali goyah di bawah $80,000, tetapi juga dari campuran sinyal makro yang membuat pasar sulit bernafas. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat memang melemah, namun kenaikan upah yang masih tinggi menahan harapan bahwa kebijakan The Fed akan segera lebih longgar.

Laporan nonfarm payrolls April hanya menunjukkan tambahan 62,000 pekerjaan, jauh di bawah 172,000 pada Maret. Angka itu langsung dibaca sebagai tanda bahwa pasar tenaga kerja mulai mendingin, tetapi pasar belum bisa menjadikannya alasan penuh untuk mendorong optimisme pada aset berisiko seperti Bitcoin.

Masalah utamanya ada pada upah per jam rata-rata yang masih tumbuh 3.8% secara tahunan. Laju itu naik dari 3.5% sebelumnya, sehingga tekanan inflasi tetap terasa dan ruang gerak bank sentral belum benar-benar terbuka.

Kondisi tersebut membuat narasi Bitcoin menuju $120,000 ikut tersendat. Kenaikan besar biasanya lebih mudah terjadi saat perlambatan tenaga kerja berjalan beriringan dengan ekspektasi pelonggaran suku bunga, tetapi kali ini dua faktor itu belum bergerak seirama.

Selama pertumbuhan upah bertahan di atas 3.5%, mandat ganda The Fed antara lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga tetap berada dalam ketegangan. Itulah sebabnya pasar sulit menilai bahwa pelonggaran agresif sudah dekat, meski data pekerjaan terlihat lebih lemah.

Ekspektasi pasar memang masih menempatkan suku bunga tetap stabil hingga 2026. Namun, payrolls yang jauh di bawah perkiraan dapat menunda keyakinan itu lebih jauh dan menjaga spekulasi penurunan suku bunga tetap hidup, walau belum cukup kuat untuk menjadi pemicu reli besar.

Bagi Bitcoin, perubahan arah suku bunga biasanya penting karena dapat menekan dolar dan mengurangi daya tarik imbal hasil aset pesaing. Dalam banyak periode, kondisi seperti itu juga sejalan dengan akumulasi BTC oleh pelaku institusional.

Sinyal permintaan belum sepenuhnya pulih

Di sisi lain, dorongan dari pasar juga belum terlihat solid. Coinbase Bitcoin Premium Index sempat berubah menjadi diskon pada pekan ini, padahal pembacaan hijau biasanya mencerminkan permintaan institusional AS yang kuat.

Indeks itu membandingkan harga Bitcoin di Coinbase dengan bursa luar negeri seperti Binance. Ketika premi menghilang, reli Bitcoin di atas $80,000 ikut tertahan dan menunjukkan bahwa minat beli domestik belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan makro.

Tekanan teknikal masih membatasi ruang naik

Dari sisi grafik harga, kondisi Bitcoin juga belum memberi banyak ruang untuk euforia. Alex Kuptsikevich, kepala analis pasar di FxPro, mengatakan Bitcoin sudah mundur dari moving average 200 hari setelah sempat masuk wilayah jenuh beli di dekat batas atas saluran tren naik.

Ia menempatkan batas bawah saluran tren di sekitar $77,500. Penembusan tren yang lebih luas baru dianggap terkonfirmasi jika harga jatuh di bawah $75,000.

Sejarah juga menunjukkan bahwa data tenaga kerja yang lemah tidak selalu menghasilkan reaksi yang sama. Pada Agustus 2025, rilis payrolls 22,000 pekerjaan sempat mendorong Bitcoin menembus $113,000 ketika peluang pemangkasan suku bunga mendekati kepastian.

Situasi sekarang berbeda karena pelemahan pasar kerja datang bersamaan dengan upah yang masih panas. Akibatnya, kabar buruk bagi tenaga kerja belum otomatis berubah menjadi kabar baik bagi aset digital.

Risiko makro lain ikut menambah beban

QCP Capital menyoroti risiko yang lebih luas jika minyak mentah gagal mereda sebelum notulen FOMC 20 Mei. Brent sudah berada sedikit di atas $100 per barel, sementara pasar prediksi memberi probabilitas 97% bahwa tidak ada normalisasi Hormuz hingga 15 Mei.

Jika skenario itu berlanjut, narasi stagflasi akan semakin sulit diabaikan. Untuk Bitcoin, kombinasi inflasi yang tetap tinggi dan pertumbuhan yang melambat biasanya menjadi lingkungan yang kurang ramah karena aset berisiko cenderung tertekan saat dua tekanan itu muncul bersamaan.

Exit mobile version