Tumbler Baru Benar-Benar Unggul Kalau Dipakai Ratusan Kali, Kata Peneliti

Banyak orang membeli tumbler dengan keyakinan bahwa langkah itu sudah cukup untuk lebih ramah lingkungan. Padahal, manfaat ekologis dari wadah minum reusable baru benar-benar terasa ketika produk itu dipakai sangat sering dan dalam waktu lama.

Temuan ini menegaskan bahwa label reusable tidak otomatis membuat sebuah gelas atau botol minum lebih unggul daripada kemasan sekali pakai. Dalam praktiknya, frekuensi pemakaian menjadi faktor yang paling menentukan apakah dampak produksi yang besar di awal benar-benar bisa “terbayar”.

Penelitian dari International Degree Program in Climate Change and Sustainable Development, National Taiwan University, menunjukkan bahwa gelas berbahan polypropylene atau PP baru memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan kemasan sekali pakai setelah digunakan sekitar 120 kali. Angka itu penting karena produksi wadah reusable memang membutuhkan energi dan material yang lebih besar sejak awal.

Penulis utama penelitian, Yan-Ruei Huang, bersama Prof. Yu-Kai Liao, menegaskan bahwa kemampuan dipakai berulang tidak cukup untuk menjamin manfaat lingkungan. Wadah baru menjadi lebih baik ketika intensitas penggunaannya tinggi dan berlangsung konsisten.

Artinya, tumbler yang hanya dipakai sebentar lalu rusak, hilang, atau ditinggalkan belum tentu lebih unggul dari kemasan sekali pakai yang ingin digantikan. Dalam situasi seperti itu, beban lingkungan dari proses produksi masih belum tertutup oleh penggunaan berulang.

Kebiasaan membeli produk reusable juga perlu dilihat secara lebih hati-hati. Banyak konsumen menganggap keputusan membawa gelas atau botol minum sendiri langsung mengurangi dampak lingkungan, padahal hasil akhirnya sangat bergantung pada seberapa rutin barang itu benar-benar digunakan.

Produk reusable baru bekerja sesuai fungsinya ketika menjadi wadah utama yang dipakai terus-menerus. Jika hanya sesekali dibawa atau sekadar menjadi barang tambahan, manfaat ekologisnya ikut mengecil.

Penelitian ini juga menyoroti bahwa sistem di sekitar penggunaan ulang sama pentingnya dengan produk itu sendiri. Proses pencucian, distribusi, pengumpulan kembali, dan perilaku konsumen ikut menentukan seberapa besar pengurangan dampak lingkungan yang bisa dicapai.

Pencucian menjadi salah satu titik yang disorot karena konsumsi air dan energi yang tinggi dapat mengurangi manfaat dari penggunaan ulang. Dengan kata lain, sistem reusable tidak otomatis efisien hanya karena barangnya bisa dipakai berkali-kali.

Di Indonesia, tren penggunaan botol dan gelas reusable terus meningkat seiring kampanye pengurangan sampah plastik. Tumbler kini tidak hanya dipandang sebagai alat praktis, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup yang dianggap lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Survei Jakpat 2024 mencatat 56 persen Gen Z di Indonesia membawa botol minum sendiri sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan. Angka ini menunjukkan bahwa kesadaran membawa wadah pribadi sudah cukup kuat di kalangan konsumen muda.

Sejumlah pelaku usaha makanan dan minuman juga ikut mendorong kebiasaan tersebut. Sebagian memberikan diskon bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri sebagai bentuk insentif.

Namun, penelitian ini mengingatkan bahwa perubahan perilaku tidak berhenti pada membeli atau membawa tumbler. Dampak lingkungan yang nyata baru muncul ketika kebiasaan itu dijaga secara konsisten dalam jangka panjang.

Konteks ini relevan karena sampah kemasan sekali pakai masih menjadi persoalan besar, terutama plastik, gelas minuman, dan limbah makanan yang mendominasi sampah perkotaan di Indonesia. Karena itu, produk reusable tetap punya peluang besar untuk membantu mengurangi sampah, tetapi manfaatnya bergantung pada pemakaian yang disiplin dan sistem pendukung yang efisien.

Source: www.suara.com
Exit mobile version