Trump Tekan Eropa Soal Iran Sambil Menagih Janji Tarif, Diplomasi Kian Ruwet Di Balik Layar

Pembicaraan antara Donald Trump dan Ursula von der Leyen tidak berhenti pada isu perdagangan. Dari percakapan itu, Trump justru menggarisbawahi bahwa dirinya dan Presiden Komisi Eropa tersebut sepakat soal satu hal yang jauh lebih sensitif, yakni Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Pernyataan itu segera menambah bobot politik dalam hubungan Washington dan Brussel. Di saat yang sama, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berjalan dan belum mencapai titik akhir, sehingga setiap sinyal dari pihak Barat ikut memengaruhi arah pembicaraan.

Trump menyampaikan klaim itu melalui Truth Social. Dalam unggahannya yang dikutip CNN International, ia mengatakan dirinya dan von der Leyen “sepenuhnya bersatu” soal Iran setelah membahas banyak topik dalam percakapan mereka.

Isu Iran menjadi penting karena Teheran masih meninjau pesan dari Washington yang disampaikan lewat mediator Pakistan. Selama tanggapan Iran belum final, posisi yang ditampilkan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa bisa ikut membentuk tekanan diplomatik di meja perundingan.

Trump tampaknya ingin menunjukkan bahwa penolakan terhadap senjata nuklir Iran bukan hanya posisi Washington. Dengan membawa Uni Eropa ke dalam pernyataan itu, ia memberi kesan ada kesamaan pandang di antara dua kekuatan Barat pada isu yang paling rawan dalam hubungan dengan Teheran.

Di luar persoalan keamanan, Trump juga memanfaatkan percakapannya untuk menekan Eropa dalam urusan perdagangan. Ia menyinggung apa yang disebutnya sebagai “Kesepakatan Perdagangan Bersejarah” yang dicapai di Turnberry, Skotlandia, dan mengatakan Uni Eropa belum memenuhi bagiannya.

Trump juga menegaskan kembali janji bahwa Uni Eropa akan memangkas tarif mereka menjadi nol sesuai kesepakatan yang ia klaim telah dibahas. Nada yang dipakai menunjukkan bahwa pembicaraan dengan von der Leyen bukan sekadar soal kebijakan luar negeri, melainkan juga soal komitmen dagang yang ingin segera ditagih.

Tekanan itu muncul ketika pembicaraan dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa masih berlangsung. Washington disebut terus mendorong agar komitmen yang diklaim disepakati segera dipenuhi, sementara Trump sendiri mengaitkannya dengan tenggat yang ia pasang sebelum tarif dinaikkan lebih tinggi.

Ia mengatakan setuju memberi Uni Eropa waktu hingga peringatan 250 tahun Amerika Serikat sebelum langkah tarif itu dijalankan. Namun, belum jelas dasar hukum apa yang bisa dipakai untuk menerapkan bea masuk tersebut, apalagi Mahkamah Agung sebelumnya membatalkan kebijakan tarifnya pada awal tahun ini.

Kombinasi antara isu Iran dan tarif membuat pertemuan pandangan Trump dengan von der Leyen terasa lebih luas daripada pembicaraan diplomatik biasa. Dari satu percakapan, Trump berusaha menampilkan kesatuan sikap terhadap Iran sekaligus menagih kepastian ekonomi dari Eropa.

Source: news.detik.com
Exit mobile version