TPA Jatibarang Jadi Titik Awal, Semarang Raya Dipacu Olah Sampah Menjadi Energi

Dua jalur pengolahan sampah disiapkan Jawa Tengah untuk mengubah persoalan lama menjadi sumber energi. Satu jalur diarahkan untuk sampah baru agar menghasilkan listrik, sedangkan jalur lain menargetkan timbunan sampah lama menjadi solar.

Semarang Raya menjadi lokasi paling awal untuk skema itu. Kawasan yang mencakup Kota Semarang dan Kabupaten Kendal tersebut ditetapkan sebagai proyek percontohan pertama pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik atau PSEL.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menempatkan langkah ini sebagai jawaban atas beban sampah yang sudah lama menekan daerah. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menilai percepatan proyek ini penting karena persoalan sampah tidak bisa terus dibiarkan menumpuk.

Pembahasan proyek itu menguat setelah penandatanganan nota kesepahaman antara Danantara dan pemerintah daerah di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (11/5). Dalam kesempatan itu, Taj Yasin hadir dan menegaskan bahwa pembangunan fisik akan segera dimulai setelah ada arahan dari Menteri Koordinator Bidang Pangan.

Fokus awal ada di TPA Jatibarang

TPA Jatibarang menjadi titik utama untuk pengolahan sampah di kawasan ini. Fasilitas PSEL yang disiapkan di lokasi tersebut ditargetkan mampu mengolah 1.100 ton sampah per hari.

Dari jumlah itu, 1.000 ton akan berasal dari Semarang dan 100 ton dari Kendal. Skema ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak lagi berdiri sendiri di satu wilayah, melainkan dibangun sebagai kerja bersama dalam satu kawasan aglomerasi.

Pemkot Semarang juga sudah menyiapkan dukungan lapangan agar proyek bisa berjalan. Lahan seluas 4 hingga 5 hektare telah disediakan, termasuk akses jalan untuk memperlancar pekerjaan infrastruktur.

Sampah lama diarahkan ke solar

Selain jalur pengolahan sampah baru menjadi listrik, Pemprov Jateng menyiapkan jalur lain untuk timbunan sampah lama. Kerja sama dengan TNI disiapkan untuk mengolah sampah lama menjadi bahan bakar solar atau fuel.

Potensi yang disorot dari jalur ini cukup besar. Estimasi pengolahan 1 juta ton sampah lama disebut dapat menghasilkan sekitar 50 ribu liter solar.

Dengan dua pendekatan tersebut, pemerintah daerah membagi penanganan sampah berdasarkan karakter limbahnya. Sampah yang terus datang diproses menjadi listrik, sementara timbunan lama diarahkan menjadi bahan bakar untuk mendukung kebutuhan energi.

Masuk agenda nasional

Percepatan PSEL di Semarang Raya juga menjadi bagian dari agenda nasional. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut langkah ini sebagai instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah pusat memprioritaskan 25 lokasi darurat sampah di Indonesia yang memiliki volume lebih dari 1.000 ton per hari. Dari target itu, separuhnya ditetapkan selesai pada 2027, sedangkan seluruh titik darurat sampah nasional diharapkan tuntas pada Mei 2028.

Seluruh skema tersebut berjalan di bawah payung Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Aturan itu menjadi dasar percepatan pengolahan sampah menjadi energi di sejumlah daerah yang masuk kategori prioritas.

Tahapan berikutnya dan perluasan wilayah

Proses administrasi proyek di Semarang Raya diperkirakan rampung dalam enam bulan. Setelah itu, pembangunan fisik diproyeksikan berlangsung selama dua tahun sebelum fasilitas beroperasi penuh.

Pemprov Jawa Tengah juga tidak berhenti pada Semarang Raya saja. Kepala DLHK Provinsi Jawa Tengah Heru Djatmika mengatakan sudah ada usulan untuk wilayah aglomerasi lain pada tahap pembangunan berikutnya.

Tiga kawasan yang diajukan adalah Pati Raya, Tegal Raya, dan Pekalongan Raya. Langkah ini disiapkan agar pengolahan sampah berbasis energi bisa menjangkau lebih banyak wilayah di Jawa Tengah dan tidak menumpuk di satu titik saja.

Source: radarsolo.jawapos.com
Exit mobile version