Lee Gi Hwan di The Scarecrow bukan sekadar sosok yang terlihat dekat dengan Kang Tae Joo. Justru dari kedekatan itulah karakter ini menjadi salah satu yang paling sulit ditebak, karena ia memakai sikap ramah sebagai lapisan untuk menutupi niat yang jauh lebih gelap.
Serial ini membuat Lee Gi Hwan tampak selalu berada di posisi aman di mata orang lain. Ia sopan, mudah membuat orang percaya, dan memanfaatkan kesan lembut itu untuk bergerak tanpa langsung memunculkan kecurigaan.
Wajah ramah yang menipu
Salah satu sisi paling berbahaya dari Gi Hwan adalah kemampuannya mempertahankan citra yang meyakinkan. Saat Kang Tae Joo mulai mencari kebenaran, ia tidak bereaksi dengan amarah terbuka, melainkan memasang wajah penuh iba agar Tae Joo merasa bersalah dan ragu melanjutkan penyelidikan.
Cara itu menunjukkan bahwa Gi Hwan tidak perlu selalu mengancam secara langsung. Ia cukup mengubah emosi lawan bicara menjadi alat untuk melemahkan langkah orang yang berada di dekatnya.
Empati yang dipakai sebagai alat
Manipulasi Gi Hwan juga terlihat saat ia berhadapan dengan orang lain dalam situasi yang tampak emosional. Ketika Lee Ki Beom ditangkap polisi, ia menunjukkan ekspresi sedih yang meyakinkan, seolah benar-benar terpukul oleh kejadian tersebut.
Masalahnya, sikap itu berjalan berlawanan dengan tindakannya sendiri. Di saat yang sama, Gi Hwan justru memberi keterangan palsu kepada polisi dan menyudutkan Lee Ki Beom, sehingga kesedihan yang ia tampilkan berubah menjadi pengalih perhatian.
Tangis yang menutupi tindakan kejam
Reaksi emosional Gi Hwan semakin mencolok ketika Lee Ki Beom meninggal. Ia menangis tersedu-sedu dan tampak seperti orang yang kehilangan besar, padahal di balik itu ia disebut membiarkan Lee Ki Beom mati sekarat.
Kontras antara tangis dan tindakan itu mempertegas bahwa simpati yang ia tampilkan bukanlah bentuk penyesalan. Justru simpati itu menjadi lapisan baru untuk menutup perannya dalam tragedi tersebut.
Mendorong orang lain memikul kesalahan
Gi Hwan juga tidak ragu memindahkan beban kesalahan ke pihak lain. Saat mendatangi Im Seong Man yang sedang ditahan di penjara, ia memanipulasi Seong Man agar mengaku sebagai pelaku.
Langkah ini membuat penyelidikan semakin rumit karena kebenaran tertutup oleh pengakuan yang lahir dari tekanan psikologis. Dalam praktiknya, Gi Hwan bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga sengaja mengarahkan perhatian ke orang lain.
Kedekatan yang berubah jadi ancaman
Yang membuat Gi Hwan semakin menakutkan adalah caranya memakai hubungan personal sebagai jalan masuk. Ia berpura-pura baik kepada Kang Sun Young demi mendapatkan simpati, meski pada saat yang sama ia berniat membunuhnya.
Pola itu menegaskan bahwa kebaikan yang ia perlihatkan bukan tanda kepedulian. Sikap tersebut justru menjadi strategi untuk menurunkan kewaspadaan korban sebelum ancaman sebenarnya muncul dari orang yang terlihat paling aman.
Pada titik ini, Lee Gi Hwan tampil sebagai pembunuh berdarah dingin yang tidak hanya mengandalkan kekerasan. Ia juga pandai menciptakan alibi dan memanipulasi barang bukti, sehingga pihak kepolisian kesulitan menangkapnya.
Source: www.idntimes.com