Di saat banyak keluarga berupaya mengurangi ketergantungan anak pada smartphone, Tin Can muncul sebagai pilihan yang justru membawa anak kembali ke komunikasi yang lebih sederhana. Perangkat ini tidak mengejar fungsi layar penuh, melainkan membatasi akses agar anak tetap bisa terhubung tanpa terseret ke kebiasaan digital yang lebih luas.
Bentuknya pun sengaja dibuat menyerupai telepon rumah jadul. Ada papan untuk menaruh gagang telepon, lalu perangkat ini dihubungkan langsung ke stopkontak sehingga kesannya lebih dekat ke alat komunikasi rumah tangga lama daripada gawai modern.
Komunikasi tetap jalan, layar tetap minim
Tin Can tidak menawarkan pengalaman seperti smartphone. Perangkat ini hanya memiliki speakerphone, panggilan cepat, dan mesin penjawab otomatis, sehingga fungsinya tetap terbatas pada komunikasi suara.
Meski sederhana, perangkat ini tetap memberi ruang untuk menelepon secara gratis antarperangkat Tin Can dan ke layanan darurat. Untuk panggilan ke nomor di luar jaringan, tersedia paket berlangganan sekitar 10 dollar AS atau sekitar Rp 172.000 per bulan.
Paket tersebut memungkinkan panggilan ke nomor yang sudah disetujui orang tua. Dengan skema ini, anak bisa tetap berkomunikasi, tetapi dalam batas yang dipilih keluarga.
Menjawab kekhawatiran orang tua soal kebiasaan digital
Popularitas Tin Can tumbuh karena menyasar keresahan yang makin umum di kalangan orang tua. Produk ini hadir sebagai alternatif bagi keluarga yang ingin menjaga anak tetap terhubung tanpa memberi akses penuh seperti pada smartphone.
CEO Tin Can Untechnologies, Chet Kittleson, menyebut perangkat itu lahir dari kekhawatiran terhadap cara anak-anak berinteraksi saat ini. Ia menilai percakapan suara membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi yang lebih baik.
Kittleson juga menyoroti pentingnya anak belajar menghadapi jeda dalam percakapan. Menurutnya, hal seperti itu tidak selalu muncul dalam komunikasi berbasis teks.
Mulai dipakai di sekolah
Daya tarik Tin Can tidak hanya berhenti di rumah. Sejumlah sekolah di Amerika Serikat mulai melirik perangkat ini sebagai cara membatasi penggunaan smartphone sejak dini di lingkungan anak.
Di Nativity Parish School, dekat Kansas City, sekitar 95 persen keluarga dengan anak dari taman kanak-kanak hingga kelas lima telah bergabung dalam program tersebut. Sekolah itu juga memakai direktori kertas untuk mencatat kontak, memperkuat pendekatan lawas yang menjadi ciri perangkat ini.
Langkah serupa juga dijalankan St. James’ Episcopal School di Los Angeles. Sekolah itu berencana membagikan perangkat Tin Can kepada 220 keluarga sebelum libur musim panas.
Tujuannya adalah menjaga komunikasi antarsiswa tanpa bergantung pada grup chat. Pihak sekolah menilai grup seperti itu dapat memunculkan masalah sosial, termasuk perasaan tersisihkan.
Permintaan naik tajam
Minat terhadap Tin Can dilaporkan melonjak, terutama dari orang tua yang mencari alternatif selain smartphone. Lonjakan tersebut bahkan sempat mengganggu server saat instalasi meningkat pada Hari Natal.
Startup pengembangnya, Tin Can Untechnologies Inc., menyebut penjualan perangkat ini sudah mencapai ratusan ribu unit. Perusahaan juga menilai pertumbuhan itu banyak didorong oleh rekomendasi dari mulut ke mulut.
Saat ini, Tin Can baru tersedia di Amerika Serikat dan Kanada. Belum ada kepastian apakah perangkat ini akan hadir di negara lain, tetapi respons yang muncul menunjukkan adanya pasar bagi alat komunikasi tanpa layar.
Source: tekno.kompas.com