Tiga Ucapan Sehari-hari Yang Bisa Membuat Anak Menekan Emosinya, Ini Kata Ahli

Banyak orang tua tanpa sadar memakai kalimat yang terdengar menenangkan, tetapi justru membuat anak belajar menutup perasaannya. Dalam pengasuhan, pilihan kata punya dampak besar karena anak sedang membentuk cara memahami cemas, sedih, frustrasi, dan rasa tidak nyaman lain yang mereka alami.

Psikoterapis Amy Morin, seperti dikutip dari The Bump, menilai perkembangan mental anak sama pentingnya dengan pertumbuhan fisik. Karena itu, orang tua perlu membantu anak mengekspresikan diri secara sehat, bukan sekadar membuat mereka diam saat emosi sedang memuncak.

Kalimat yang terdengar ringan, tetapi menekan emosi

Salah satu ucapan yang perlu diwaspadai adalah, “Berhenti menangis.” Banyak orang dewasa tumbuh dengan anggapan bahwa menangis adalah tanda kelemahan, padahal menangis merupakan cara yang sehat untuk mengekspresikan emosi.

Saat anak tantrum di tempat umum, orang tua memang sering terdorong untuk meminta mereka segera berhenti. Menurut Amy Morin, yang perlu diperbaiki adalah perilaku dan cara menghadapi situasinya, bukan memaksa anak mengubah emosi yang sedang dirasakan.

Ucapan seperti itu dapat membentuk kebiasaan anak dalam memandang perasaannya sendiri. Jika tangisan terus dianggap sebagai masalah, anak bisa terbiasa menyembunyikan emosi yang tidak nyaman.

Saat perasaan anak dianggap terlalu kecil

Ucapan lain yang sebaiknya dihindari adalah, “Ini bukan masalah besar.” Kalimat ini mungkin dimaksudkan untuk menenangkan, tetapi anak bisa menangkapnya sebagai tanda bahwa kekhawatiran mereka tidak dianggap penting.

Amy Morin menjelaskan bahwa orang tua kerap ingin segera menepis rasa cemas anak. Namun, pendekatan yang lebih tepat adalah membantu anak menghadapi apa pun yang mengganggu mereka, bukan mengecilkan emosi yang sedang muncul.

Di masa tumbuh kembang, pengakuan atas perasaan anak punya peran besar. Saat emosi mereka divalidasi, anak lebih mudah mengenali masalah dan mencari cara yang sehat untuk mengatasinya.

Janji yang terlalu cepat terdengar aman

Kalimat ketiga yang juga perlu dipikirkan ulang adalah, “Semuanya akan baik-baik saja.” Banyak orang tua memakai kalimat ini untuk meredakan ketakutan anak, terutama ketika anak menghadapi sesuatu yang terasa berat.

Masalahnya, orang tua tidak bisa melindungi anak dari semua hal buruk. Karena itu, Amy Morin menyarankan agar orang tua tidak hanya memberi jaminan, tetapi juga membekali anak dengan keterampilan dan alat untuk menghadapi tantangan hidup yang tak terelakkan.

Pendekatan seperti ini lebih realistis karena mengajarkan kesiapan, bukan sekadar rasa aman sesaat. Anak jadi memahami bahwa masalah tidak selalu hilang begitu saja, tetapi bisa dihadapi dengan kemampuan yang tepat.

Yang lebih dibutuhkan anak saat emosi naik

Fokus pengasuhan sebaiknya tidak berhenti pada upaya meredakan perilaku anak saat mereka sedang sulit. Yang lebih penting adalah membantu anak memahami emosi, menamai perasaannya, lalu belajar merespons dengan cara yang sehat.

Pilihan kata orang tua sangat berpengaruh pada hubungan anak dengan emosinya sendiri. Ucapan yang menolak, mengecilkan, atau terlalu cepat menenangkan bisa membentuk kebiasaan emosional yang tidak sehat.

Karena itu, komunikasi yang suportif perlu menjadi bagian dari pengasuhan sehari-hari. Anak tidak hanya membutuhkan arahan, tetapi juga ruang untuk merasa didengar saat sedang marah, takut, atau sedih.

Source: www.beautynesia.id

Baca Juga

Back to top button