Aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Kalimantan Timur di Samarinda pada 21 April berlangsung dengan sorotan besar sejak awal. Bukan hanya karena massa yang datang dari berbagai unsur, tetapi juga karena pagar depan gedung dilumuri oli saat orasi mulai berjalan.
Di sisi lain, pengamanan sudah disiapkan lebih dulu oleh aparat kepolisian. Barikade kawat berduri terlihat terpasang di depan DPRD Kaltim, sementara penjagaan juga diperketat di sejumlah titik lain yang diperkirakan menjadi tujuan massa.
Pengamanan tidak hanya di DPRD Kaltim
Kehadiran aparat tidak berhenti di satu lokasi. Kantor Gubernur Kaltim yang jaraknya kurang dari empat kilometer dari DPRD Kaltim juga dipasang kawat berduri dan dijaga ketat oleh petugas.
Rumah jabatan Gubernur Kaltim pun mendapat perlakuan pengamanan serupa. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi atas pergerakan massa yang sejak awal diperkirakan akan bergerak ke dua titik tersebut.
Satlantas Polresta Samarinda juga menyiapkan rekayasa lalu lintas agar arus kendaraan tetap berjalan. Kasat Lantas Polresta Samarinda Kompol La Ode Prasetyo menyebut aksi pertama dijadwalkan berlangsung di DPRD Kaltim, lalu massa bergerak ke Kantor Gubernur Kaltim pada siang hari.
Orasi dibuka kelompok disabilitas
Di depan Kantor DPRD Kaltim, orasi pertama datang dari Forum Peduli Penyandang dan Atlet Disabilitas. Kelompok ini menyuarakan tuntutan terkait Bantuan Sosial Tunai atau BST serta persoalan ketenagakerjaan.
Setelah itu, giliran organisasi masyarakat Dayak Paser dari Penajam Paser Utara yang menyampaikan suara mereka. Massa dari forum disabilitas tampak berada di barisan depan yang berhadapan langsung dengan polisi, sementara kelompok ormas dan mahasiswa berdiri di belakangnya.
Susunan massa yang berlapis memperlihatkan adanya gabungan peserta aksi dari beberapa latar belakang. Meski membawa isu yang berbeda, mereka berdiri dalam satu barisan untuk menyuarakan keberatan terhadap kebijakan daerah.
Aksi simbolik di depan gedung wakil rakyat
Situasi di depan gedung DPRD Kaltim juga diwarnai tindakan simbolik dari sebagian mahasiswa. Sejumlah dari mereka memanjat papan iklan yang sebelumnya menampilkan gambar Ketua Dewan dan anggota DPRD.
Gambar pada papan itu kemudian dirobek dan diganti dengan spanduk berisi tuntutan massa. Aksi ini menjadi bagian dari cara peserta unjuk rasa menegaskan penolakan mereka terhadap kebijakan yang dipersoalkan.
Tiga tuntutan utama yang dibawa dalam aksi tersebut adalah audit seluruh kebijakan Pemprov Kaltim, menghentikan praktik KKN di Kaltim, serta mendesak DPRD Kaltim segera bersikap dan menjalankan fungsi pengawasan secara total. Tuntutan itu menjadi pokok dari orasi yang disampaikan di lokasi.
Ketegangan visual di sekitar lokasi aksi
Pagar yang dilumuri oli menambah kesan tegang di depan gedung DPRD Kaltim. Ditambah barikade kawat berduri yang sudah terpasang sejak awal, suasana di sekitar lokasi tampak dijaga dalam kondisi siap siaga.
Di lapangan, massa aksi, aparat kepolisian, dan perangkat pengamanan yang telah disiapkan lebih dulu menciptakan suasana tertib namun tetap penuh tekanan. Aksi 21 April di Samarinda pun terfokus pada tiga tuntutan utama yang diarahkan kepada pemerintah provinsi dan DPRD Kaltim.
Source: www.cnnindonesia.com