Pembicaraan soal perang Iran kini tidak hanya berkisar pada senjata dan program nuklir. Perhatian utama justru bergeser ke Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi nadi pergerakan energi dunia dan karenanya ikut menentukan arah negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Meningkatnya tekanan di kawasan membuat pembukaan kembali selat itu dipandang sebagai langkah paling mendesak. Dalam berbagai pembahasan, jalur tersebut disebut harus dibuka segera dan tanpa hambatan karena sekitar seperlima minyak dunia melintas di sana.
Selat Hormuz jadi pusat tekanan
Fokus pada Selat Hormuz muncul karena gangguan kecil saja dapat memicu dampak besar bagi pasar energi global. Itulah sebabnya sejumlah negara ikut menyuarakan kekhawatiran yang sama, bukan hanya Iran dan Amerika Serikat.
Seorang pejabat tinggi Iran bahkan menyebut angkatan bersenjata negaranya akan memegang otoritas atas Selat Hormuz dalam rancangan undang-undang nasional untuk pengelolaan perairan itu. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Teheran ingin menempatkan jalur tersebut sebagai bagian penting dari posisi tawarnya.
Di saat yang sama, Iran mengecam penangkapan dua kapal tanker yang terkait dengan negaranya, Majestic X dan Tifani. Teheran menilai langkah Amerika Serikat itu sebagai bentuk “pengesahan perompakan”.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, bahkan menyebut tindakan itu sebagai “armed robbery on the high seas”. Nada keras ini menunjukkan bahwa meski ada pembicaraan diplomatik, rasa saling curiga belum menurun.
Washington menimbang jalur yang lebih sempit
Di Washington, tim keamanan nasional Presiden Donald Trump sedang meninjau usulan yang datang dari Iran. Salah satu kemungkinan yang dibahas adalah menunda pembicaraan soal program nuklir jika pembukaan jalur strategis itu dianggap lebih mendesak.
Mantan pejabat AS, Henry S Ensher, menilai Trump mungkin akan mendukung langkah yang bisa segera meredakan tekanan ekonomi. Ia menyebut prioritas utama semestinya membuka kembali Selat Hormuz, sementara isu nuklir jauh lebih sulit diselesaikan.
Ensher juga melihat ada peluang Washington memisahkan pembicaraan nuklir dari upaya membuka jalur perdagangan vital itu. Menurutnya, skema seperti itu bisa dipandang sebagai “kemenangan strategis bagi Iran”, namun tetap layak dipertimbangkan karena dampaknya besar bagi ekonomi global.
Peran Rusia dalam diplomasi yang belum tembus
Di tengah kebuntuan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg. Dalam pertemuan tersebut, Araghchi menyampaikan bahwa Teheran mempertimbangkan permintaan Amerika Serikat untuk melanjutkan negosiasi.
Putin mengatakan Rusia akan melakukan segala yang bisa dilakukan untuk menghentikan perang. Namun Araghchi juga tetap menyalahkan Washington atas gagalnya pembicaraan sebelumnya.
Pertemuan itu memperlihatkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, tetapi belum menghasilkan terobosan. Kesenjangan antara tuntutan keamanan, kepentingan energi, dan isu nuklir masih terlalu lebar untuk ditutup dengan cepat.
Negara Teluk fokus pada arus energi
Bagi negara-negara Teluk, yang paling mendesak adalah memastikan jalur pelayaran tetap stabil. Analis Dania Thafer menyebut prioritas mereka berbeda, dan itu sejalan dengan tawaran Iran yang menempatkan pembukaan Hormuz di garis depan negosiasi.
Nada serupa muncul dalam pernyataan bersama yang dipimpin Bahrain dan didukung puluhan negara. Mereka menegaskan kembali seruan agar Selat Hormuz dibuka “segera dan tanpa hambatan”.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga memberi peringatan keras. Ia menilai gangguan rantai pasok akibat situasi ini bisa menjadi yang “terburuk sejak COVID-19 dan perang di Ukraina”.
Kekhawatiran itu dinilai wajar karena Selat Hormuz memegang peran besar dalam pengiriman energi dunia. Setiap perubahan di jalur ini langsung memantul ke pasar, sehingga pembahasannya tidak lagi sekadar soal konflik regional, tetapi juga soal stabilitas ekonomi internasional.
Tim negosiator dan pertaruhan politik
Perhatian publik juga tertuju pada tim negosiator Trump yang melibatkan Jared Kushner, Steve Witkoff, dan JD Vance. Sejumlah pengamat menilai mereka lebih mengandalkan kedekatan dengan presiden daripada pengalaman diplomatik yang mendalam.
Mantan Duta Besar AS Gordon Gray menyebut kedekatan itu sebagai keuntungan, tetapi ia mengingatkan adanya kelemahan penting pada minimnya pemahaman terhadap file nuklir Iran. Sorotan ini memunculkan pertanyaan tentang seberapa siap Washington mengubah diplomasi menjadi hasil nyata.
Di sisi lain, JD Vance disebut bisa memperoleh dorongan besar jika ikut membantu mengakhiri perang. Seorang analis menilai keberhasilan semacam itu dapat mengangkat namanya di kalangan gerakan MAGA bila ia dipandang membantu membawa Amerika keluar dari konflik.
Dengan tekanan energi yang tetap tinggi dan negosiasi yang belum keluar dari kebuntuan, Selat Hormuz tetap menjadi titik penentu. Dari jalur inilah arah perundingan bisa bergerak menuju deeskalasi, atau kembali terjebak dalam krisis berikutnya.





