Sentimen global yang sedang berkembang membuat pelaku pasar memilih bersikap lebih hati-hati pada awal perdagangan. Di tengah penantian terhadap sinyal baru dari The Fed, IHSG langsung bergerak tertekan dan sempat terkoreksi sekitar 1 persen.
Pada pukul 09.12 WIB, indeks berada di level 7.029,95 setelah turun 71,28 poin atau 1,00 persen dari posisi sebelumnya di 7.101,23. Pergerakan pelemahan itu sudah terlihat sejak pembukaan, ketika IHSG dibuka di level 7.103,26 lalu turun cepat hingga menyentuh titik terendah 7.028,23.
Tekanan jual meluas di mayoritas saham
Kondisi pasar pada awal sesi menunjukkan dominasi pelemahan di banyak saham. Tercatat 368 saham melemah, sementara 201 saham menguat dan 390 saham stagnan.
Meski indeks tertekan, aktivitas transaksi tetap ramai. Nilai transaksi mencapai Rp2,43 triliun dengan volume perdagangan sekitar 5,62 miliar saham dalam lebih dari 313 ribu transaksi.
Data tersebut memperlihatkan bahwa investor masih aktif mengambil posisi, tetapi arahnya cenderung defensif. Di fase awal perdagangan, tekanan jual lebih banyak dipicu oleh aksi ambil untung dan sikap waspada terhadap perkembangan eksternal.
Pasar menatap agenda penting dari Amerika Serikat dan China
Pergerakan IHSG tidak lepas dari perhatian investor terhadap rangkaian katalis global. Sejumlah agenda dari Amerika Serikat dan China menjadi faktor yang ikut menentukan arah pasar dalam waktu dekat.
Pelaku pasar antara lain menunggu keputusan suku bunga The Federal Reserve, rilis PMI Manufaktur China, inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat, serta data klaim pengangguran AS. Rangkaian data itu dinilai bisa memberi petunjuk baru soal arah kebijakan moneter dan kondisi ekonomi global.
The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75 persen. Keputusan tersebut diambil di tengah perbedaan pandangan yang tajam di tubuh bank sentral Amerika Serikat.
Sikap The Fed masih jadi fokus utama investor
Rapat The Fed juga mencuri perhatian karena tingkat dissent di FOMC terbelah 8-4, dan angka itu disebut sebagai yang tertinggi sejak Oktober 1992. Gubernur Stephen Miran kembali menyatakan dissent untuk mendukung pemangkasan suku bunga 25 basis poin.
Tiga suara penolakan lainnya datang dari Presiden Fed regional Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan. Mereka mendukung penahanan suku bunga, tetapi menolak adanya bias dovish dalam pernyataan resmi The Fed.
Salah satu bagian yang paling diperhatikan pasar adalah kalimat dalam pernyataan kebijakan bank sentral yang menyebut komite akan “secara hati-hati menilai data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko” saat mempertimbangkan penyesuaian tambahan. Kalimat itu membuat pasar membaca bahwa arah kebijakan berikutnya masih terbuka, termasuk kemungkinan penurunan suku bunga.
Bagi pasar saham, sinyal seperti ini biasanya memicu kehati-hatian. Investor cenderung menunggu kepastian yang lebih jelas sebelum menambah risiko di portofolio.
Risiko geopolitik ikut menambah tekanan
Selain kebijakan moneter, pasar juga memantau perkembangan geopolitik yang berkaitan dengan Iran. Pembahasan Presiden Donald Trump dengan perusahaan minyak mengenai cara mengurangi dampak blokade pelabuhan Iran ikut menambah ketidakpastian di pasar energi.
Diskusi itu berlangsung setelah kebuntuan upaya penyelesaian konflik yang mendorong Amerika Serikat menekan ekspor minyak Iran melalui blokade laut. Di saat yang sama, Pakistan berupaya menjadi mediator di tengah saling ancam antara Washington dan Teheran.
Gedung Putih menyebut Trump dan para eksekutif minyak membahas langkah untuk menstabilkan pasar minyak global. Pembahasan itu juga menyinggung upaya meminimalkan dampak bagi konsumen AS jika blokade berlangsung berbulan-bulan.
Kombinasi sentimen dari suku bunga, data ekonomi, dan risiko geopolitik membuat pelaku pasar bergerak lebih defensif pada awal perdagangan. Selama faktor eksternal tersebut belum mereda, IHSG masih berpotensi menghadapi tekanan setiap kali investor memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Source: www.cnbcindonesia.com