Meta tengah menghadapi tekanan ganda yang membuat struktur biayanya makin sulit ditahan. Di satu sisi, perusahaan harus mengucurkan dana besar untuk kecerdasan buatan dan infrastruktur komputasi, sementara di sisi lain kondisi ekonomi global ikut menambah beban operasional.
Mark Zuckerberg menjelaskan bahwa kombinasi itu menjadi alasan utama di balik PHK besar-besaran yang sedang disiapkan Meta. Perusahaan berencana memangkas sekitar 10% tenaga kerja, atau sekitar 8.000 karyawan dari total 78.000 pegawai, dalam beberapa minggu ke depan.
Biaya membengkak di dua sisi
Zuckerberg menyebut Meta memiliki dua kelompok biaya utama, yakni komputasi dan infrastruktur, serta kebutuhan yang berorientasi pada manusia. Saat investasi di satu sisi meningkat, ruang untuk mengalokasikan dana ke sisi lain otomatis menyempit.
Karena itu, ia menilai ukuran organisasi perlu diperkecil sampai batas tertentu. Dalam penjelasannya, tim yang dulu membutuhkan 50 atau 100 orang kini mungkin cukup dijalankan oleh 10 orang.
Pandangan itu menunjukkan bahwa Meta tidak hanya sedang memangkas beban, tetapi juga mengubah cara perusahaan menilai kebutuhan tenaga kerja. Mempertahankan jumlah lama dalam situasi seperti ini, menurut Zuckerberg, justru bisa menjadi beban baru.
AI juga dipakai untuk merombak efisiensi internal
Tekanan efisiensi Meta tidak datang dari biaya saja. Chief Financial Officer Meta, Susan Li, mengatakan perusahaan juga memanfaatkan alat AI untuk meningkatkan produktivitas dan mencari ukuran organisasi yang paling optimal.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa AI di Meta bukan sekadar produk masa depan. Teknologi tersebut juga dipakai sebagai alat untuk menata ulang cara kerja internal dan menentukan jumlah tenaga kerja yang dinilai paling efektif.
Susan Li menambahkan bahwa biaya kompensasi karyawan diperkirakan turun setelah PHK dilakukan. Namun, penghematan itu masih akan diimbangi oleh biaya restrukturisasi dalam jangka pendek, sehingga tekanan finansial tidak langsung hilang.
Suasana internal ikut tertekan
Di dalam perusahaan, suasana disebut ikut terganggu oleh langkah perampingan tersebut. Data platform anonim Blind yang dikutip Fast Company menunjukkan sentimen negatif terhadap Meta meningkat hingga empat kali lipat sejak 2024.
Kondisi itu menegaskan bahwa keputusan PHK tidak hanya berdampak pada neraca perusahaan. Di level internal, restrukturisasi juga memengaruhi psikologi kerja dan kepercayaan karyawan terhadap arah bisnis Meta.
Chief People Officer Meta, Janelle Gale, bahkan tidak menutup kemungkinan adanya PHK lanjutan bila kebutuhan bisnis kembali berubah. Ia menyebut perusahaan akan terus menyesuaikan tim dan berupaya merelokasi talenta yang ada.
Tekanan eksternal ikut datang dari perang dan harga energi
Selain urusan internal, Zuckerberg juga menyoroti faktor global yang bisa memukul bisnis iklan Meta. Ia menyebut konflik antara Amerika Serikat dan Iran dapat mendorong kenaikan harga energi, lalu mengubah pola belanja konsumen.
Jika harga minyak naik, konsumen cenderung mengalihkan lebih banyak uang untuk bahan bakar dan kebutuhan pokok. Dampaknya, belanja untuk barang diskresioner yang biasa menjadi target iklan bisa melemah, dan itu pada akhirnya menekan pendapatan perusahaan digital seperti Meta.
Tekanan pasar itu juga tercermin pada saham Meta yang sempat turun hingga 10%. Penurunan tersebut dipicu kekhawatiran investor setelah perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal tahun ini.
Meta diketahui menyiapkan alokasi hingga US$145 miliar atau sekitar Rp2.501,25 triliun, dengan porsi besar diarahkan untuk pengembangan infrastruktur AI. Di tengah perubahan besar itu, Zuckerberg mengatakan Meta juga akan mengalihkan fokus untuk menciptakan lebih banyak aplikasi baru di masa depan.
Source: teknologi.bisnis.com




