Teheran Siapkan Balasan Jika Beirut Selatan Diserang, Utara Israel Terancam Membara

Ancaman Iran terhadap utara Israel memperlihatkan betapa rapuhnya situasi di perbatasan Lebanon saat ini. Mohsen Rezaei, Penasihat Pimpinan Tertinggi Iran bidang militer, menegaskan bahwa Teheran siap merespons jika Israel menyerang pinggiran selatan Beirut yang disebutnya sebagai wilayah paling sensitif.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Rezaei mengaitkan area selatan Beirut dengan basis utama Hezbollah, sehingga setiap gerakan militer Israel ke sana dipandang bisa memicu balasan yang jauh lebih besar.

Selatan Beirut menjadi titik paling rawan

Dalam penjelasannya, Rezaei menempatkan pinggiran selatan Beirut sebagai lokasi yang sangat penting dalam kalkulasi militer Iran. Ia menyebut Iran hanya menunggu langkah musuh ke kawasan itu.

Nada yang dibangun Teheran cukup jelas, yakni memberi sinyal pencegahan sejak awal. Dengan menyorot area yang dianggap vital bagi Hezbollah, Iran ingin menegaskan bahwa serangan ke sana tidak akan dibiarkan tanpa respons.

Rezaei juga mengatakan seluruh rudal Iran sudah siap bila keadaan memburuk. Ia bahkan mengklaim Iran akan mengubah perang 40 hari di wilayah utara teritori pendudukan menjadi “neraka” bagi Israel.

Ketegangan regional belum mereda

Ancaman itu muncul ketika ketegangan di kawasan masih tinggi akibat perang terbaru antara Amerika Serikat dan Israel di satu pihak, melawan Iran di pihak lain. Konflik yang disebut dimulai pada 28 Februari 2026 itu telah menimbulkan kerugian besar di berbagai sektor.

Israel mengakui adanya kerusakan signifikan pada infrastruktur militernya. Di sisi lain, Iran juga menanggung kerugian pada sektor ekonomi dan fasilitas militernya, sehingga tekanan dari perang tersebut masih terasa berat.

Dalam situasi seperti ini, setiap pernyataan keras dari pejabat militer Iran memiliki bobot lebih besar. Luka yang belum pulih membuat ancaman baru berpotensi memperluas konflik yang sudah berjalan.

Hezbollah dan perhitungan Teheran

Posisi Hezbollah di Lebanon membuat pinggiran selatan Beirut bukan sekadar area geografis. Kawasan itu dipandang sebagai salah satu basis utama kelompok tersebut, yang selama ini dikenal sebagai sekutu strategis Iran di kawasan.

Karena itu, ancaman Iran kepada Israel juga mencerminkan cara Teheran membaca keamanan regional. Serangan ke Beirut selatan tidak diposisikan hanya sebagai persoalan Lebanon, tetapi sebagai bagian dari benturan yang lebih luas antara Iran dan Israel.

Dari sudut pandang Teheran, langkah Israel ke wilayah tersebut dapat menarik kawasan lain ke dalam eskalasi yang lebih besar. Itulah sebabnya peringatan yang disampaikan Rezaei terdengar sangat tegas dan langsung.

Risiko eskalasi masih terbuka

Pernyataan bahwa utara Israel bisa berubah menjadi “neraka” menunjukkan kenaikan level ancaman yang tidak kecil. Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa benturan di wilayah perbatasan Israel-Lebanon masih menyimpan risiko tinggi.

Selama ancaman serangan ke area sensitif di Lebanon tetap menggantung, potensi eskalasi juga belum menutup ruang. Dalam konteks ini, perbatasan Israel-Lebanon tetap menjadi salah satu titik paling rentan di tengah tensi yang terus memanas.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version