Target IPO Tertahan, Baru Satu Emiten Kumpulkan Dana di Pasar Modal

Target penghimpunan dana lewat penawaran umum perdana saham atau IPO tampak masih jauh dari harapan. Di tengah kebutuhan pembiayaan perusahaan yang terus membesar, baru satu perusahaan tercatat berhasil menghimpun dana melalui IPO sehingga pasar modal belum bergerak secepat yang diharapkan.

Situasi itu menjadi sorotan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Dalam kegiatan Program Investasi Terencana dan Berkala atau PINTAR Reksa Dana di Main Hall BEI, Airlangga menilai pasar modal semestinya menjadi jalur utama bagi perusahaan untuk memperoleh dana segar, tetapi realisasi IPO masih tertinggal dari target yang dipasang Bursa Efek Indonesia.

Pipeline ada, tetapi belum berubah menjadi pencatatan

Di sisi lain, antrean calon emiten sebenarnya sudah terlihat. Data BEI per 17 April 2026 menunjukkan ada 16 perusahaan yang masuk pipeline IPO, dengan komposisi lima perusahaan beraset skala menengah dan 11 perusahaan beraset skala besar.

Meski begitu, keberadaan calon emiten itu belum banyak berujung pada penghimpunan dana. Total dana yang berhasil dikumpulkan melalui IPO sepanjang 2026 baru mencapai Rp 300 miliar, sehingga jarak antara potensi dan realisasi masih cukup lebar.

Ketidakpastian global menahan langkah emiten

Airlangga menilai rendahnya capaian IPO tidak terlepas dari tingginya ketidakpastian global. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan memilih lebih berhati-hati dan menahan diri untuk tetap berada di pipeline tanpa segera melantai di bursa.

Menurut dia, target IPO tetap perlu dikejar karena pasar modal memiliki peran penting sebagai sumber pembiayaan dunia usaha. Karena itu, rencana perusahaan untuk melakukan penawaran umum dinilai tidak boleh terus tertunda saat kebutuhan pendanaan justru terus meningkat.

Pasar modal tumbuh, namun IPO belum ikut menguat

Meski IPO masih lesu, Airlangga melihat pasar modal domestik tetap memiliki performa yang kuat. Ia menyebut pasar modal tumbuh empat kali lipat dalam sembilan tahun, dengan IHSG yang pernah berada di level 1.000 pada 2004 lalu naik menjadi 4.200 pada 2013.

Ia juga mengingatkan bahwa pertumbuhan pasar modal sempat mencapai 20% pada periode tertentu. Namun, saat pandemi COVID-19, laju tersebut melambat dan bergerak di kisaran 5-6%, meski basis investor domestik disebut makin solid.

Airlangga mengatakan sekitar 50% investor di pasar saham berasal dari dalam negeri. Komposisi itu menunjukkan partisipasi investor lokal terus membaik dan menjadi salah satu penopang pasar modal nasional.

Kebutuhan dana perusahaan makin besar

Dorongan agar IPO lebih aktif juga datang dari besarnya kebutuhan pembiayaan sektor riil. Airlangga menyampaikan realisasi investasi sektor riil pada triwulan I-2026 mencapai Rp 498,79 triliun, tumbuh 7,22% dan menyerap 706.000 tenaga kerja.

Di saat yang sama, kebutuhan pendanaan perusahaan diproyeksikan terus naik. Airlangga menyebut kebutuhan dana pada 2026 berada di kisaran Rp 7.400 triliun dan meningkat menjadi Rp 9.200 triliun pada 2029.

Bagi dunia usaha, angka tersebut memperlihatkan bahwa akses pembiayaan tidak bisa hanya bergantung pada satu jalur. Pasar modal, termasuk lewat IPO, dipandang sebagai salah satu cara penting untuk mendukung ekspansi bisnis dan memperluas akses dana.

Dengan antrean perusahaan yang sudah terbentuk dan kebutuhan pembiayaan yang terus naik, tantangan utama pasar modal saat ini bukan lagi sekadar menambah daftar calon emiten. Yang lebih mendesak adalah memastikan perusahaan yang sudah berada di pipeline benar-benar melangkah ke pencatatan saham dan mengubah minat pasar menjadi dana yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha.

Baca Juga

Back to top button