Nama Honda Super One mulai ramai dibicarakan bukan semata karena statusnya sebagai mobil baru, tetapi karena arah posisinya yang sangat dekat dengan kebutuhan pasar mobil listrik harian. Kabar tentang pre-order yang sudah dibuka di sejumlah tenaga penjual Honda di Jakarta membuat model ini langsung mencuri perhatian lebih cepat dari peluncuran resminya.
Daya tarik lain datang dari perkiraan harganya yang disebut berada di kisaran Rp300 jutaan. Di level itu, Honda Super One dinilai berpotensi masuk ke pasar yang sedang tumbuh, terutama bagi konsumen yang mencari mobil listrik kompak dengan pendekatan praktis dan tidak terlalu besar untuk penggunaan sehari-hari.
Informasi yang beredar menyebutkan konsumen sudah bisa melakukan booking sebelum mobil ini benar-benar diluncurkan. Sejumlah tenaga penjual dikabarkan menawarkan booking fee Rp10 juta dengan sistem batch, sehingga pembeli yang lebih cepat memesan punya peluang antrean lebih awal.
Hingga saat ini, harga final Honda Super One belum diumumkan secara resmi oleh Honda. Meski begitu, estimasi yang beredar menempatkannya di rentang Rp300 juta hingga Rp350 juta, yang membuat model ini langsung masuk ke area persaingan yang padat dan sensitif terhadap harga.
Kode EV di NJKB
Petunjuk lain yang ikut menguatkan spekulasi soal mobil ini datang dari daftar Nilai Jual Kendaraan Bermotor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 2026. Dalam dokumen tersebut muncul kode JG6 A EV ZZE dengan nilai jual kendaraan sekitar Rp257 juta.
Kemunculan kode “EV” pada daftar itu memunculkan dugaan kuat bahwa Honda tengah menyiapkan battery electric vehicle atau mobil listrik murni. Dari nilai NJKB tersebut, harga jual ke konsumen kemudian diperkirakan bisa naik ke level Rp300 jutaan setelah memperhitungkan pajak, distribusi, dan margin penjualan.
Arah ke mobil listrik perkotaan
Jika model yang dimaksud memang Honda Super One, arah produk ini tampaknya cukup jelas sebagai mobil listrik kompak perkotaan. Karakter seperti itu dinilai paling masuk akal karena pasar Indonesia masih besar untuk kendaraan yang ringkas, praktis, dan efisien dipakai setiap hari.
Sebutan “Brio listrik” juga ikut melekat pada mobil ini karena bentuk pendekatannya dianggap dekat dengan kebutuhan mobil kecil di dalam kota. Meski begitu, tampilannya diperkirakan tidak akan sekadar sederhana, melainkan membawa sentuhan yang lebih modern dan futuristis sesuai identitas kendaraan elektrifikasi saat ini.
Honda sendiri belum membuka spesifikasi resmi untuk model tersebut. Namun, ekspektasi terhadap mobil listrik di kelas Rp300 jutaan umumnya mengarah pada daya jelajah yang cukup kompetitif untuk pemakaian harian.
Pasar yang makin ramai
Masuknya Honda ke segmen ini dibaca sebagai langkah yang tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa waktu terakhir, pasar EV di rentang Rp300 jutaan di Indonesia memang semakin padat oleh model baru dengan teknologi modern dan daftar fitur yang agresif.
Di kelas harga itu, konsumen mulai terbiasa melihat tawaran seperti fitur ADAS, layar digital berukuran besar, hingga baterai berkapasitas tinggi. Karena itu, Honda dinilai perlu membawa nilai jual yang kuat agar tidak hanya hadir, tetapi juga benar-benar sanggup bersaing.
Kekuatan Honda sendiri tidak hanya bergantung pada produk yang dibawa. Reputasi merek, jaringan purnajual yang luas, kualitas rakitan, dan kepercayaan konsumen terhadap daya tahan produk Honda menjadi modal penting di tengah kompetisi yang makin ramai.
Debut yang ditunggu di GIIAS 2026
Waktu kemunculan resmi Honda Super One juga ikut menjadi bahan pembicaraan. Pengumuman resminya disebut diperkirakan berlangsung di ajang GIIAS 2026, yang selama ini menjadi panggung penting bagi peluncuran model baru di industri otomotif nasional.
Bila benar tampil di pameran itu, Honda Super One berpeluang menjadi salah satu pusat perhatian karena Honda belum memiliki mobil listrik massal dengan banderol yang langsung menyasar pasar luas di kisaran tersebut. Sampai sekarang, publik masih menunggu kepastian soal nama resmi, spesifikasi lengkap, dan harga finalnya.





