Banyak orang tua baru menyadari bahwa tanda anak introvert tidak selalu muncul sebagai sikap pendiam. Sejak masih bayi, pola respons terhadap lingkungan sudah bisa memberi petunjuk, terutama saat anak berhadapan dengan rangsangan baru.
Menurut Dr. Marti Olsen Laney dalam buku The Hidden Gifts of the Introverted Child, temperamen manusia sudah tertanam sejak lahir. Itu berarti ciri introvert dan ekstrovert dapat mulai terlihat bahkan sejak usia empat bulan.
Salah satu pola yang sering muncul adalah kebiasaan berhenti sejenak untuk mengamati. Anak introvert cenderung tidak langsung terjun ke permainan atau situasi baru, melainkan memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya terlebih dulu.
Cara mereka merespons ini juga terlihat saat mengambil keputusan kecil. Mereka biasanya melihat sebelum bertindak dan berpikir sebelum berbicara, sehingga tidak bergerak terburu-buru ketika menemui hal baru.
Lebih suka memahami dulu sebelum ikut
Anak introvert umumnya punya rasa ingin tahu yang kuat. Mereka sering bertanya bagaimana sesuatu bekerja dan ingin tahu alasan di balik perilaku orang lain.
Namun, rasa ingin tahu itu tidak selalu ditunjukkan lewat tindakan cepat. Banyak dari mereka justru lebih nyaman memproses informasi dalam diam sambil mengamati situasi lebih lama.
Pola seperti ini membuat anak tampak tenang, tetapi bukan berarti pasif. Mereka sering memilih masuk ke suatu keadaan setelah merasa cukup aman dan paham dengan lingkungannya.
Lingkungan ramai sering cepat menguras energi
Tanda lain bisa terlihat saat anak berada di tempat yang padat aktivitas. Pada bayi, reaksi seperti menangis atau meronta di situasi ramai dan penuh rangsangan dapat muncul sebagai bentuk kepekaan yang tinggi.
Psikolog Harvard Jerome Kagan dan Nancy Snidman menemukan bahwa bayi yang sangat reaktif terhadap rangsangan yang tidak familiar cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang pemalu, penakut, atau introvert. Seiring bertambahnya usia, anak seperti ini juga bisa menutup diri atau lebih bergantung pada orang yang dianggap aman.
Dalam situasi baru, keramaian, orang asing, atau lingkungan yang sibuk dapat memicu tantrum pada sebagian anak. Dibandingkan anak ekstrovert, anak introvert juga lebih mudah terkuras energinya setelah menerima banyak stimulasi.
Aktivitas sendiri sering terasa paling nyaman
Selain cara merespons lingkungan, pilihan bermain juga bisa menjadi petunjuk penting. Anak introvert kerap memiliki imajinasi yang kuat dan dapat tenggelam lama dalam satu aktivitas.
Jika seorang anak bisa bertahan berjam-jam dalam satu permainan, hal itu patut diperhatikan. Saat tumbuh, mereka sering lebih menyukai kegiatan yang bisa dilakukan sendiri, seperti membaca, menggambar, bermain gim komputer, atau berada di kamar dengan pintu tertutup.
Pilihan itu bukan berarti mereka menolak kehadiran orang lain. Anak introvert tetap bisa berinteraksi, tetapi mereka membutuhkan waktu tenang untuk mengisi ulang energi setelah banyak berhadapan dengan rangsangan.
Karena itu, tanda introvert pada anak sebaiknya dibaca sebagai pola, bukan sekadar sifat pendiam. Cara mereka menjelajah dunia biasanya lebih hati-hati, lebih tenang, dan lebih banyak dimulai dari pengamatan.
Source: www.beautynesia.id




