Polisi di Jepang menelusuri rangkaian pembobolan rumah kosong yang akhirnya mengarah pada tiga pria warga Thailand berusia 30-an tahun. Nilai kerugian dari kasus yang mereka kaitkan dengan para tersangka itu diperkirakan mencapai sekitar 20 juta yen.
Yang membuat perkara ini menonjol bukan hanya jumlah rumah yang dibobol, tetapi juga cara pelaku memilih sasaran. Mereka disebut berkeliling menggunakan mobil dan mengamati rumah yang tampak tidak berpenghuni, terutama dari taman yang tidak terawat atau area parkir yang kosong.
Jejak awal dari satu rumah di Hokota
Kasus besar ini bermula dari penangkapan ketiga pria tersebut pada Juli tahun lalu. Saat itu, mereka diduga membobol sebuah rumah di Kota Hokota, Prefektur Ibaraki, dalam peristiwa yang disebut terjadi saat Tahun Baru 2024.
Dari kejadian awal itu, polisi kemudian menelusuri pola yang lebih luas. Penyelidikan mengarah pada dugaan sedikitnya 167 aksi pencurian yang berlangsung selama delapan bulan, mulai akhir Oktober 2024 hingga Juli 2025.
Operasi menyebar ke 11 prefektur
Aksi para tersangka tidak hanya terjadi di satu wilayah. Kepolisian menyebut operasi itu berlangsung di 11 prefektur di Jepang, termasuk Ibaraki, Osaka, dan Hyogo.
Ibaraki menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak. Dari total kejadian yang didata, 138 kasus tercatat terjadi di prefektur tersebut, sementara sisanya tersebar di wilayah lain.
Uang tunai dan barang bernilai tinggi ikut hilang
Dalam rangkaian pembobolan itu, para pelaku diduga tidak hanya mengambil uang tunai. Polisi juga menyebut mereka mengincar barang-barang bernilai tinggi dari rumah yang menjadi target.
Total uang tunai yang dicuri diperkirakan mencapai sekitar 6,4 juta yen. Sementara itu, barang seperti jam tangan, perhiasan, dan perangkat audio diperkirakan bernilai 17,6 juta yen.
Jika digabung, kerugian dari seluruh rangkaian pembobolan tersebut mencapai sekitar 20 juta yen. Angka itu menunjukkan bahwa sasaran para pelaku bukan sekadar rumah kosong, melainkan juga isi rumah yang mudah dibawa kabur.
Modus yang sulit terlihat dari luar
Pemeriksaan kepolisian menunjukkan bahwa pemilihan target dilakukan dengan pengamatan sederhana dari luar rumah. Rumah dengan halaman depan yang tidak terawat dan parkiran kosong dinilai lebih mungkin ditinggal penghuninya.
Cara itu membuat sasaran mereka tidak langsung mencolok di lingkungan sekitar. Dengan berkeliling mobil, para tersangka diduga bisa menyaring rumah yang dianggap aman untuk dibobol tanpa banyak menarik perhatian.
Penyelidikan masih berlanjut
Polisi masih mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam kasus ini. Aparat juga belum menutup peluang adanya jaringan kejahatan lintas wilayah yang membantu rangkaian pembobolan tersebut.
Penelusuran kini berfokus pada hubungan yang lebih luas di balik 167 kasus yang tersebar di banyak prefektur. Dari temuan sementara, tanda kecil seperti taman tak terawat ternyata bisa menjadi petunjuk awal yang dimanfaatkan pelaku untuk memilih target.
Source: mediaindonesia.com