Penyaluran bantuan sembako mewarnai peringatan HUT Tagana ke-22 di Jakarta Pusat, dengan 1.500 Keluarga Penerima Manfaat menerima paket bantuan secara langsung dari Kementerian Sosial. Kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan bakti sosial yang mengusung tema sinergi untuk ketangguhan negeri, sehingga peringatan tidak berhenti pada seremoni.
Di tengah rangkaian acara tersebut, Kemensos menempatkan pelayanan sosial dan kesiapsiagaan bencana dalam satu kegiatan yang saling terkait. Pendekatan ini membuat manfaat peringatan lebih terasa oleh warga, sekaligus menunjukkan bahwa Tagana hadir tidak hanya saat simbol peringatan berlangsung.
Bantuan sembako senilai Rp225 juta
Bantuan yang disalurkan memiliki total nilai Rp225 juta dan bersumber dari dana hibah dalam negeri. Setiap keluarga menerima paket sembako senilai Rp150 ribu yang berisi 5 kilogram beras, satu kaleng sarden, lima bungkus mi instan, dan satu liter minyak goreng.
Pola distribusi ini menjadi salah satu pembeda utama dalam peringatan tahun ini. Warga tidak sekadar menyaksikan kegiatan sosial, tetapi juga menerima bantuan yang langsung dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Arahan Gus Ipul untuk Tagana
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberikan arahan langsung dalam apel peringatan di Kantor Kemensos. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa Tagana harus hadir dalam setiap situasi bencana sebagai bentuk kehadiran negara di tengah warga.
Gus Ipul juga menekankan bahwa peran Tagana tidak boleh dipahami sebatas kegiatan simbolis. Menurutnya, relawan Tagana perlu menjadi garda terdepan ketika penanganan bencana berlangsung di lapangan.
Kegiatan sosial dan kerja bakti berjalan bersamaan
Selain distribusi sembako, peringatan HUT Tagana ke-22 juga diisi dengan aksi lingkungan. Sekitar 130 petugas gabungan turun membersihkan bantaran sungai di Kecamatan Senen sebagai bagian dari kerja bersama lintas unsur sosial.
Petugas yang terlibat berasal dari relawan Tagana, pilar sosial, petugas kebersihan, dan anggota PPSU. Mereka disebar ke beberapa kelurahan untuk menjalankan kerja bakti secara terkoordinasi.
Aksi itu memperlihatkan bahwa Tagana tidak hanya dikaitkan dengan bantuan logistik. Kepedulian terhadap lingkungan juga ditempatkan sebagai bagian penting dari kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Koordinasi lapangan di beberapa kelurahan
Ketua Forum Tagana Jakarta Pusat, Benny Suryadilaga, memantau kesiapan anggota Tagana di Kelurahan Paseban, Kwitang, Kenari, dan Bungur. Pemantauan dilakukan untuk memastikan setiap personel berada di titik tugas masing-masing saat kerja bakti berlangsung.
Benny menyebut koordinasi di seluruh kelurahan yang ditetapkan berjalan baik. Hasil pengecekan menunjukkan para anggota sudah siap menjalankan tugas sesuai pembagian wilayah yang disusun sebelumnya.
Ia juga menilai penyaluran sembako memberi suasana yang lebih menyentuh dibanding agenda rutin yang umumnya berfokus pada bersih-bersih lingkungan. Menurutnya, bantuan itu membuat peringatan HUT Tagana terasa lebih bermakna bagi relawan maupun unsur sosial yang terlibat.
Peran pendamping sosial dalam distribusi
Dalam proses pembagian bantuan, Kemensos turut melibatkan pendamping Program Keluarga Harapan atau PKH. Kehadiran mereka membantu menjaga ketertiban agar bantuan sampai kepada keluarga penerima manfaat secara tepat sasaran.
Kerja bersama antara Tagana, pendamping PKH, pendamping sosial, serta unsur lapangan lainnya memperlihatkan pola pelayanan yang saling terhubung. Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan sosial bagi warga sekaligus menjaga kesiapsiagaan bencana di tingkat daerah.