Target swasembada gula konsumsi pada akhir 2026 kembali mendapat sokongan kuat dari Jawa Timur. Provinsi ini menyumbang 51% produksi gula nasional, sehingga kinerjanya menjadi penentu besar bagi arah industri gula Indonesia.
Posisi tersebut makin menonjol setelah data Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat produksi gula kristal putih Jawa Timur pada 2025 mencapai 1,34 juta ton. Angka itu menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir dan jauh melampaui daerah lain.
Di tengah capaian itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai provinsinya berada pada titik strategis. Ia melihat Jawa Timur sebagai motor utama untuk mempercepat langkah menuju swasembada gula konsumsi.
Produktivitas Jawa Timur masih jauh di atas provinsi lain
Perbandingan dengan sentra gula lain menunjukkan jarak yang cukup lebar. Pada periode yang sama, Lampung mencatat produksi 663.198 ton, sedangkan Jawa Tengah berada di level 344.243 ton.
Konsistensi Jawa Timur juga terlihat dalam tren lima tahun terakhir. Selama 2021–2025, rata-rata produksi gula provinsi ini berada di angka 1,18 juta ton per tahun.
Data tersebut menegaskan bahwa dominasi Jawa Timur bukan hasil sesaat. Provinsi ini tetap menjadi penyumbang terbesar gula nasional dalam periode yang cukup panjang.
Dorongan ke pabrik dan rendemen jadi perhatian utama
Khofifah meminta produktivitas di hulu terus diperkuat, terutama di wilayah yang secara konsisten mampu menghasilkan lebih dari 1 juta ton per tahun. Ia juga menekankan perlunya perluasan lahan untuk menjaga pasokan tebu tetap stabil.
Di sisi hilir, ia meminta manajemen pabrik gula mengoptimalkan proses giling pada musim panen tahun ini. Langkah itu dinilai penting untuk menjaga kualitas hasil produksi sekaligus mengurangi antrean bahan baku tebu.
Khofifah turut menyoroti rendemen, yakni kadar kandungan gula dalam tebu. Ia berharap rendemen musim giling kali ini bisa mencapai 8,5% agar volume produksi meningkat secara signifikan dibanding musim sebelumnya.
PG Ngadirejo ikut menopang target nasional
Salah satu pabrik yang mendapat perhatian adalah PG Ngadirejo di Kediri. Pabrik ini merupakan unit usaha strategis milik PT Sinergi Gula Nusantara, anak usaha Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) di lini bisnis gula.
PG Ngadirejo memiliki kapasitas giling terpasang 7.000 ton cane per day atau TCD. Pada musim giling 2025, pabrik ini mencatat realisasi giling 1,06 juta ton tebu atau setara 10,67 juta kuintal.
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara Mahmudi menyampaikan optimisme bahwa target swasembada gula nasional dapat tercapai. Ia menyebut dukungan datang dari perbaikan produktivitas hulu-hilir, peningkatan yield gula, serta digitalisasi dan inovasi proses pabrikasi di berbagai wilayah operasional SGN.
Mahmudi juga menyampaikan bahwa produktivitas tebu di Jawa Timur tahun ini meningkat hingga 1,5 juta ton dibanding tahun lalu. Dengan perkembangan itu, PG Ngadirejo diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting dalam menopang swasembada gula nasional.
Kombinasi produksi Jawa Timur yang tinggi, kapasitas pabrik yang besar, dan dorongan peningkatan rendemen membuat provinsi ini tetap berada di pusat perhatian. Dalam peta gula nasional, kinerja Jawa Timur menjadi salah satu faktor paling menentukan untuk mencapai target konsumsi mandiri pada 2026.
Source: surabaya.bisnis.com