Bagi banyak penggemar, masalah Surface bukan lagi sekadar soal satu model yang kurang menarik. Yang membuat kecewa adalah perubahan arah yang terasa makin aman, makin mahal, dan makin jauh dari kesan istimewa yang dulu melekat pada brand ini.
Keluhan itu muncul karena Surface kini dianggap tidak lagi memimpin percakapan soal PC Windows. Alih-alih menawarkan desain yang berani atau bentuk baru, lini ini justru dinilai semakin mengandalkan pembaruan kecil yang terasa sangat hati-hati.
Dari produk yang unik ke portofolio yang makin menyusut
Surface pernah punya reputasi sebagai lini yang berani tampil beda. Namun sekarang, beberapa produk yang dulu ikut membangun identitas tersebut sudah hilang dari jajaran, termasuk Surface Hub, Surface Pro X, dan Surface Duo.
Surface Neo bahkan tidak pernah benar-benar sampai ke pasar. Di sisi lain, Microsoft masih mempertahankan Surface Pro, tetapi secara keseluruhan lini Surface dinilai sudah meninggalkan semangat awal yang dulu membuatnya menonjol.
Perubahan itu ikut memicu diskusi keras di komunitas Windows Central dan Surface. Banyak respons yang muncul disebut bernada negatif, dengan sejumlah pengguna menilai brand ini sudah kehilangan identitas yang jelas.
Harga naik, alasan membeli makin tipis
Kekecewaan terhadap arah produk semakin besar karena harga Surface ikut naik tajam. Pada April, Microsoft menaikkan harga semua Surface PC secara signifikan, dan dampaknya langsung terasa di segmen yang paling mudah dibandingkan oleh konsumen.
Surface kelas menengah kini dimulai dari $1.000. Sementara itu, model flagship yang paling terjangkau setidaknya dibanderol $1.500.
Microsoft menjelaskan kenaikan itu dipicu oleh biaya memori dan komponen lain yang ikut naik. Namun, banyak pengguna menilai waktunya buruk karena terjadi saat persaingan harga laptop justru semakin ketat.
Situasi itu membuat posisi Surface terlihat kurang menarik dibandingkan beberapa opsi lain. Apple merilis MacBook Neo mulai dari $599 pada periode yang sama, sedangkan Surface Laptop 13-inch старт dari $1.149.
Arah baru yang lebih aman, bukan lebih berani
Kritik terhadap harga juga bertemu dengan kritik terhadap strategi produk. Lini Surface kini pada dasarnya mengerucut ke dua bentuk utama, yaitu laptop clamshell dan perangkat 2-in-1.
Sejumlah model yang masih bertahan pun belum diperbarui selama bertahun-tahun, meski perubahan di area itu disebut akan segera terjadi. Bagi Microsoft, penyederhanaan ini mengikuti penataan ulang portofolio Surface setelah kepergian Panos Panay.
Zac Bowden menjelaskan bahwa perangkat Surface terbaru tidak lagi ingin terlihat eksperimental atau unik. Arah barunya adalah mengikuti pasar, menjangkau audiens seluas mungkin, dan menghindari langkah yang terlalu mengguncang.
Pendekatan itu memang punya logika bisnis. Perubahan yang terlalu besar bisa membuat pembeli ragu dan menjaga kategori tetap kecil, sementara inovasi seperti Windows on ARM pun dijalankan dengan sangat hati-hati.
Namun bagi fans lama, sikap aman itu justru terasa seperti kemunduran. Mereka melihat Surface sekarang sebagai produk yang layak, tetapi tidak lagi punya daya tarik yang membedakannya dari banyak laptop lain.
Kekecewaan datang dari pendukung lama
Keluhan paling keras justru muncul dari pengguna yang dulu sangat mendukung Surface. Salah satu komentar di Reddit menyebut lini ini kini “boring”, “old and forgotten”, hingga “stagnant”, sementara yang lain menilai Microsoft tidak lagi serius berinovasi untuk brand ini.
Ada juga pengguna yang mengatakan Surface dulu menjadi simbol kebanggaan, tetapi kini terasa seperti merek yang perlahan ditinggalkan. Seorang pengguna lain mengaku keluarganya sudah memakai Surface sejak generasi awal, tetapi tidak akan menggantinya dengan Surface berikutnya.
Di Reddit, seorang pengguna bahkan menyebut Surface kini “stagnant” dan “dying”. Ia menilai Microsoft tidak pernah benar-benar kembali berinovasi untuk brand tersebut.
Penilaian serupa juga muncul saat Surface dibandingkan dengan laptop lain di kelas clamshell. ASUS Zenbook A16 disebut membawa sasis tipis dan modern, Snapdragon X2 Elite Extreme, serta bahasa desain yang lebih khas sehingga terasa lebih dekat dengan semangat awal Surface.
Kombinasi harga yang naik, portofolio yang menyempit, dan identitas yang dianggap memudar membuat Surface menghadapi persoalan yang lebih besar dari sekadar spesifikasi. Jika arah ini terus berlanjut, banyak penggemar lama tampaknya sudah tidak lagi melihat alasan kuat untuk bertahan.





