Microsoft tampak semakin serius mendorong lini Surface bisnis ke arah perangkat premium. Namun, justru harga yang disebut sudah menembus $1,950+ menjadi bagian paling banyak dipersoalkan dari peluncuran terbaru ini.
Sorotan itu muncul dalam pembahasan di episode khusus Windows Central Podcast bersama Daniel Rubino dan Zak Bowden. Dari sana, terlihat jelas bahwa daya tarik Surface baru tidak hanya datang dari spesifikasi, tetapi juga dari pertanyaan besar tentang apakah banderol setinggi itu masih masuk akal.
Surface bisnis baru diarahkan ke kelas atas
Peluncuran kali ini berpusat pada Surface Laptop 8, Surface Laptop 13-inch, dan Surface Pro 12. Microsoft juga menyiapkan versi konsumen untuk hadir nanti pada musim panas, sehingga lini bisnis menjadi panggung awal untuk menunjukkan arah perangkat Surface berikutnya.
Arah yang dibawa terasa lebih tegas dibanding sekadar pembaruan biasa. Microsoft tampak ingin memperkuat posisinya di segmen enterprise dengan perangkat yang bukan hanya lebih kuat secara hardware, tetapi juga lebih matang untuk kebutuhan kerja.
Surface Laptop 8 jadi perangkat yang paling disorot
Di antara model yang dibahas, Surface Laptop 8 paling menarik perhatian Daniel Rubino. Varian 13,8 inci ini disebut tetap membawa tampilan luar yang nyaris sama seperti generasi sebelumnya.
Perubahan terbesarnya justru ada di dalam. Perangkat ini menggunakan Intel Core Ultra Series 3 “Panther Lake” X7 dan GPU B390, yang dipandang cukup mumpuni untuk mendukung kebutuhan kerja yang lebih berat.
Microsoft juga menjaga sisi kenyamanan pemakaian. Saat dipakai dalam kondisi berat, kipasnya dilaporkan tetap sangat senyap, sehingga perangkat ini tidak hanya mengejar performa, tetapi juga pengalaman yang lebih tenang.
Fitur kerja dibuat lebih terasa
Surface bisnis terbaru tidak hanya mengandalkan chip baru. Microsoft juga menambahkan fitur yang jelas menyasar pengguna profesional dan skenario kerja harian.
Salah satunya adalah haptic touchpad yang dipadukan dengan Windows 11 Haptic Signals. Kombinasi ini dirancang untuk memberi sensasi sentuhan yang lebih taktil saat pengguna menutup jendela, menyusun aplikasi, atau menggeser timeline video.
Ada pula opsi E-Privacy Screen yang menonjol karena fungsi praktisnya. Dengan menekan tombol F1, pengguna bisa mengurangi sudut pandang layar agar isi tampilan lebih sulit dilihat orang di samping.
Harga premium memicu pertanyaan nilai
Meski perangkatnya terlihat makin matang, pembahasan soal harga justru mencuri perhatian terbesar. Banderol yang sudah berada di kisaran $1,950+ membuat banyak orang berhitung ulang soal nilai yang ditawarkan Surface bisnis terbaru.
Kondisi ini juga membuat perbandingan dengan Apple dan OEM PC lain ikut mengemuka. Di pasar enterprise, harga tinggi memang sering dibaca bersama spesifikasi, fitur tambahan, dan citra produk, tetapi untuk Surface kali ini pertanyaannya terasa lebih tajam dari biasanya.
Segmentasi Surface dibuat lebih jelas, meski namanya makin rumit
Peluncuran ini juga kembali menyorot penamaan produk Surface yang semakin membingungkan. Dalam pembahasan podcast, nama-nama perangkat Microsoft disebut makin sulit diikuti meski jajaran produknya sendiri semakin berlapis.
Meski begitu, segmentasinya justru terlihat lebih tegas. Surface Laptop 8 diposisikan sebagai flagship 13,8 inci dan 15 inci, Surface Laptop 13-inch menjadi pilihan kelas menengah, sedangkan Surface Pro 12 hadir sebagai flagship 2-in-1 berukuran 13 inci.
Lini konsumen akan membawa arah berbeda
Setelah panggung bisnis, Microsoft akan membawa model konsumen menyusul pada musim panas. Lini itu disebut akan memakai Snapdragon X2, sehingga pemisahan antara versi bisnis dan konsumen menjadi semakin jelas.
Perbedaan arah tersebut membuat Surface bisnis terbaru semakin mudah dibaca sebagai perangkat premium untuk pembeli enterprise. Microsoft menawarkan desain yang familier, perangkat keras yang diperbarui, dan fitur kerja yang lebih serius, tetapi harga tinggi tetap menjadi faktor yang sulit diabaikan.