Kewaspadaan terhadap virus Hanta di Sumatra Utara kini diarahkan ke dua titik penting sekaligus, yakni pintu masuk wilayah dan layanan kesehatan awal. Penguatan ini dibuat agar penelusuran kasus suspek tidak terlambat dan penanganannya bisa bergerak lebih cepat ke rumah sakit rujukan.
Langkah tersebut juga menegaskan bahwa respons daerah tidak hanya bergantung pada satu fasilitas. Rumah sakit lain tetap dapat menerima pasien suspek selama memiliki ruang isolasi khusus dan fasilitas standar untuk gangguan pernapasan maupun gangguan ginjal.
Di tengah penguatan itu, RSUP H. Adam Malik ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan utama. Dinas Kesehatan Sumatra Utara menilai kesiapan penunjang di rumah sakit tersebut masih memadai, termasuk ketersediaan Alat Pelindung Diri dan ruang isolasi.
Penetapan ini memberi alur penanganan yang lebih jelas bagi pasien yang diduga terpapar Hantavirus. Dengan begitu, fasilitas kesehatan memiliki pegangan yang lebih tegas ketika menghadapi kasus yang memerlukan pemeriksaan dan perawatan lanjutan.
Pengawasan dimulai dari puskesmas
Deteksi dini diperkuat melalui surveilans terpadu di seluruh puskesmas memakai aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons atau SKDR. Pemantauan diarahkan pada tren infeksi saluran pernapasan akut berat atau SARI yang dapat mengarah ke HPS.
Pengawasan juga mencakup gejala lain yang menyerupai leptospirosis dan sindrom kuning untuk tipe HFRS. Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut, Hamid Rijal, menyebut data SKDR sejauh ini belum menunjukkan laporan yang signifikan ke arah Kejadian Luar Biasa.
Fokus juga diarahkan ke bandara dan pelabuhan
Selain di fasilitas kesehatan, penguatan kewaspadaan dilakukan bersama Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Medan. Pemantauan difokuskan pada pelaku perjalanan dari wilayah endemis melalui bandara dan pelabuhan.
Koordinasi lintas lembaga ini dinilai penting agar deteksi dini berjalan lebih rapat. Dengan pengawasan yang menjangkau pintu masuk wilayah, daerah memiliki lapisan respons tambahan untuk mencegah penularan meluas.
Warga diminta waspada di lingkungan berisiko
Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui tikus atau hewan pengerat lain. Dinas Kesehatan Sumut mengingatkan bahwa lingkungan kotor dan lembap dapat menjadi habitat tikus, sehingga warga perlu lebih hati-hati saat berada di gudang, selokan, atau lahan pertanian.
Hamid Rijal juga meminta masyarakat memakai masker dan sarung tangan ketika membersihkan area yang berisiko menjadi sarang tikus. Imbauan itu sejalan dengan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat serta Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.
Warga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan bila mengalami pneumonia, demam tinggi, nyeri otot, atau gangguan ginjal setelah kontak dengan lingkungan berisiko. Jika diperlukan, spesimen pasien akan dikirim ke laboratorium rujukan nasional, termasuk Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan di Jakarta, untuk memastikan hasil deteksi lebih akurat.
Penguatan kewaspadaan di Sumut dilakukan setelah Kementerian Kesehatan menerbitkan dua surat edaran, masing-masing pada 12 Agustus 2025 dan 10 Mei 2026. Kedua surat itu menekankan kesiapsiagaan terhadap penyakit virus Hanta dan menjadi dasar pengawasan yang lebih ketat di daerah.
Dengan RSUP H. Adam Malik sebagai rujukan utama, surveilans SKDR yang diperketat, serta koordinasi di bandara dan pelabuhan, Sumut menyiapkan jalur respons yang lebih tertata. Langkah ini ditujukan agar pasien suspek bisa ditangani cepat, aman, dan sesuai kebutuhan klinis.
Source: mediaindonesia.com




