Subsidi Berhenti, Laju Motor Listrik Mulai Melambat Meski Populasinya Tembus 236 Ribu Unit

Pasar motor listrik di Indonesia masih bergerak naik, tetapi kecepatannya tidak lagi setajam saat insentif pemerintah masih aktif. Sinyal perlambatan itu mulai terlihat setelah subsidi dihentikan pada akhir 2024, meski jumlah unit di jalan tetap bertambah.

Hingga Februari 2026, populasi motor listrik di Tanah Air sudah mencapai 236.451 unit. Angka itu menempatkan motor listrik sebagai penopang utama perkembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, walaupun skalanya masih jauh dibandingkan motor bensin yang jumlahnya sekitar 140 juta unit.

Roda dua masih jadi penggerak utama

Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, menegaskan bahwa sektor roda dua masih menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia. Porsi ini membuat motor listrik punya peran paling penting dalam adopsi kendaraan tanpa emisi di dalam negeri.

Secara keseluruhan, jumlah kendaraan listrik di Indonesia kini berada di kisaran 358 ribu unit. Sekitar 65 persen di antaranya berasal dari kendaraan roda dua, sedangkan sisanya terdiri dari mobil, bus, dan truk listrik.

Komposisi itu menunjukkan bahwa perubahan di segmen motor listrik bisa langsung memengaruhi total populasi kendaraan listrik nasional. Di saat yang sama, dominasi motor bensin yang masih sangat besar membuat ruang pertumbuhan motor listrik tetap lebar.

Lonjakan cepat terjadi saat subsidi aktif

Pertumbuhan motor listrik sempat melaju kencang ketika pemerintah memberi subsidi Rp 7 juta per unit pada periode 2022 hingga 2024. Insentif tersebut mendorong transaksi penjualan motor listrik di pasar domestik tumbuh lebih cepat.

Data Kementerian ESDM memperlihatkan kenaikan yang sangat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Populasi motor listrik tercatat 3.357 unit pada 2020, lalu naik menjadi 13.903 unit pada 2021.

Setelah itu, jumlahnya melonjak ke 31.101 unit pada 2022. Angka tersebut kembali naik ke 93.510 unit pada 2023, lalu mencapai 170.588 unit pada 2024.

Perlambatan mulai terasa setelah insentif berakhir

Setelah subsidi dihentikan pada akhir 2024, ritme pasar tidak lagi sekuat sebelumnya. Volume transaksi yang sempat berada di kisaran 80 ribu unit pada periode 2023-2024 turun menjadi sekitar 50 ribu unit pada periode 2024-2025.

Perubahan itu menunjukkan bahwa permintaan terhadap motor listrik masih ada, tetapi laju pembeliannya lebih lambat tanpa dukungan fiskal. Meski demikian, populasi tetap bertambah dan pada akhir 2025 sudah mencapai 229.820 unit, sebelum menembus 236.451 unit pada Februari 2026.

Kenaikan hampir 200 ribu unit dalam tiga tahun menegaskan besarnya minat pasar saat ada dukungan kebijakan. Namun, data yang sama juga memperlihatkan bahwa motor listrik masih sangat sensitif terhadap insentif, sehingga arah pertumbuhannya mudah berubah ketika kebijakan ikut bergeser.

Tantangan berikutnya ada pada menjaga momentum

Dengan motor bensin yang masih mendominasi sampai 140 juta unit, percepatan adopsi kendaraan listrik masih membutuhkan dorongan yang lebih kuat. Tanpa ritme pertumbuhan yang konsisten, motor listrik berisiko hanya kuat di data populasi, tetapi belum cukup besar pengaruhnya di jalan raya.

Di tengah kondisi itu, peran motor listrik tetap penting karena segmen ini menyumbang porsi terbesar dalam ekosistem kendaraan listrik nasional. Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk menjaga momentum agar pertumbuhan tidak berhenti pada fase lonjakan saat subsidi masih berjalan.

Exit mobile version