Stok Tetap Aman Saat Rupiah Melemah, Pertalite Dan Biosolar Belum Disentuh Kenaikan Hingga Akhir Tahun

Pemerintah masih menahan harga Pertalite dan Biosolar di tengah tekanan rupiah yang sempat melemah hingga Rp17.877 per dolar AS. Meski pasar mencermati gejolak nilai tukar, kebijakan untuk BBM bersubsidi itu dipastikan belum berubah.

Kepastian itu disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Wakil Menteri ESDM Yuliot. Ia menegaskan harga BBM bersubsidi tidak akan naik sampai akhir tahun, sesuai kebijakan yang telah lebih dulu diumumkan pemerintah.

Pasokan masih berada di jalur aman

Selain soal harga, pemerintah juga menyoroti kondisi stok yang masih terjaga. Yuliot menyebut persediaan Pertalite berada jauh di atas cadangan minimal, sementara solar CN48 juga masih melampaui standar aman.

Standar minimal stok operasional nasional berada di angka 23 hari. Dengan kondisi itu, pemerintah menilai kebutuhan energi harian masyarakat masih bisa dipenuhi tanpa gangguan berarti.

Ketersediaan BBM nonsubsidi juga disebut cukup secara nasional. Hal ini ikut menjadi alasan pemerintah belum mengambil langkah penyesuaian harga dalam waktu dekat.

Tekanan kurs belum otomatis mengubah subsidi

Rupiah memang sempat bergerak di kisaran psikologis Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS. Di sisi lain, kurs transaksi Bank Indonesia bahkan pernah menunjukkan dolar AS di level Rp17.877 per dolar AS.

Namun, pemerintah menilai pergerakan nilai tukar tidak serta-merta memicu perubahan pada subsidi BBM. Fokus utama tetap menjaga agar harga tidak menambah beban masyarakat di tengah tekanan ekonomi.

Di saat bersamaan, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Langkah itu ditempuh untuk memperkuat stabilisasi rupiah yang masih menghadapi tekanan eksternal.

Produksi dalam negeri ikut diperkuat

Pemerintah juga mulai memperkuat sisi hulu untuk menjaga ketahanan energi. Yuliot menyebut peningkatan produksi minyak di dalam negeri menjadi salah satu langkah yang didorong saat tekanan kurs dan pasar energi global masih berlangsung.

Selain itu, pemerintah menyiapkan kilang di dalam negeri agar rantai pasok energi lebih kuat. Upaya ini diarahkan untuk menjaga kestabilan pasokan BBM subsidi maupun nonsubsidi ketika kondisi pasar bergerak tidak menentu.

Langkah di sektor hulu dipandang penting karena ketahanan energi nasional tidak hanya bergantung pada harga. Produksi dan distribusi juga menjadi faktor yang menentukan apakah pasokan tetap aman atau tidak.

ICP masih memberi ruang kebijakan

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menegaskan harga BBM bersubsidi masih aman hingga akhir 2026. Ia mengacu pada rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang disebut belum menembus USD 100 per barel sejak Januari 2026.

Menurut Bahlil, rata-rata ICP dari Januari hingga kini masih berada di kisaran USD 80–81 per barel. Meski pada April 2026 sempat menyentuh USD 117,31 per barel, pemerintah tetap menilai kondisi keseluruhan masih bisa ditopang.

Dengan kombinasi stok yang aman, pasokan nasional yang cukup, dan pertimbangan ICP yang belum melewati batas psikologis tertentu, pemerintah masih menjaga kebijakan harga Pertalite dan Biosolar tetap stabil. Sementara itu, tekanan rupiah dan dinamika pasar energi global masih terus dipantau sebagai dasar pengambilan kebijakan berikutnya.

Baca Juga

Back to top button