Kekhawatiran di markas NATO bukan hanya soal perang yang sedang berlangsung, tetapi juga soal seberapa lama stok senjata Barat mampu bertahan. Konflik di Iran membuat aliansi itu melihat ancaman yang lebih besar: persediaan amunisi dan sistem pertahanan yang menipis bisa mengganggu kesiapan Eropa saat ketegangan dengan Rusia masih tinggi.
Sorotan utama jatuh pada Amerika Serikat, terutama pada sistem pertahanan udara dan rudal Patriot yang mahal dan banyak dipakai. NATO menilai laju pemakaian amunisi dalam perang skala besar bergerak lebih cepat daripada kemampuan industri pertahanan Barat untuk mengisi ulang gudang persenjataan.
Dalam pertemuan para kepala militer 32 negara anggota NATO di Brussels, isu penurunan stok dan percepatan produksi menjadi pembahasan utama. Pertemuan itu dipimpin Panglima Tertinggi Sekutu Eropa, Jenderal Alexus G Grynkewich, dan dihadiri Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Seorang sumber militer senior NATO kepada Euronews mengatakan aliansi sudah lama mendorong peningkatan produksi senjata. Namun perang Iran membuat tekanan itu terasa jauh lebih mendesak karena kebutuhan sumber daya dan amunisi meningkat cepat.
“Kita membutuhkan banyak sumber daya dan amunisi serta kemampuan untuk meningkatkan produksi dengan cepat. Kita tidak memilikinya, dan kita membutuhkannya dengan sangat cepat,” ujarnya.
Dampak yang melampaui Timur Tengah
NATO tidak membaca perang Iran sebagai masalah regional semata. Aliansi itu menilai konflik ini menjadi peringatan bahwa perang besar bisa muncul bersamaan di lebih dari satu kawasan dan memaksa cadangan senjata dibagi ke beberapa medan.
Sumber NATO tersebut menyebut perang di Iran memperjelas perlunya kesiapan menghadapi konflik simultan. “Memang, ini tentang Iran, tetapi sebenarnya ini juga merupakan kesadaran bahwa kita perlu bersiap menghadapi konflik simultan,” katanya kepada Euronews.
Data Pentagon per 12 Mei turut memperkuat kekhawatiran itu. Perang melawan Iran disebut telah menghabiskan lebih dari 29 miliar dolar AS untuk kebutuhan militer Amerika Serikat.
Bayang-bayang bagi Ukraina dan Eropa Timur
Kekhawatiran di Eropa juga menjalar ke bantuan militer bagi Ukraina. Sejumlah negara Eropa cemas sistem senjata buatan AS yang dibeli untuk mendukung Kyiv bisa terlambat dikirim, atau bahkan batal dikirim, karena prioritas kebutuhan militer Washington sendiri.
Dalam forum NATO, para pejabat membahas bagaimana penurunan stok dan tekanan produksi bisa mengganggu dukungan yang selama ini penting bagi Ukraina. Situasi ini membuat Eropa kembali menimbang ketergantungannya pada pasokan senjata dari Amerika Serikat.
Perhatian lain muncul setelah Washington membatalkan pengiriman brigade berisi lebih dari 4.000 tentara ke Polandia. Langkah mendadak itu dinilai dapat memengaruhi postur pertahanan NATO di Eropa Timur.
Rantai pasok dan tekanan keamanan ikut terdampak
Krisis di kawasan Timur Tengah juga memunculkan kekhawatiran pada jalur perdagangan strategis. Penutupan Selat Hormuz mengganggu rantai pasok global minyak, gas, dan komoditas penting lainnya.
NATO melihat gangguan itu sebagai contoh nyata bagaimana perang di satu kawasan bisa cepat merembet ke stabilitas ekonomi dan keamanan kawasan lain. Pada saat yang sama, Finlandia sempat mengeluarkan peringatan serangan udara pada 15 Mei setelah militer mendeteksi drone memasuki wilayah udaranya.
Bandara Helsinki kemudian ditutup sementara dan menyebabkan pembatalan serta pengalihan sejumlah penerbangan. Peristiwa itu memperkuat pandangan di dalam NATO bahwa ketahanan industri pertahanan harus ditingkatkan lebih awal.
Aliansi menilai daya tahan suplai senjata sama pentingnya dengan kekuatan pasukan di garis depan. Karena itu, pembahasan di Brussels tidak hanya menyoroti pengiriman senjata hari ini, tetapi juga kesiapan produksi untuk menghadapi tekanan yang bisa muncul di beberapa front sekaligus.
Jalan diplomatik masih buntu
Di sisi diplomasi, upaya menghentikan perang Iran belum menghasilkan terobosan. Donald Trump memperingatkan Teheran agar segera mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran melalui akun Truth Social miliknya.
“Mereka sebaiknya segera bergerak cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. Waktu sangat penting!” tulis Trump. Sehari kemudian, ia menunda rencana serangan setelah menerima permohonan dari sejumlah negara Teluk yang menyebut negosiasi serius masih berlangsung.
Trump juga mengatakan peluang kesepakatan masih terbuka selama Iran tidak memiliki senjata nuklir. “Aspek terpenting dari kesepakatan ini adalah tidak akan ada senjata nuklir untuk Iran!” ujarnya.
Di tengah tekanan militer dan diplomatik itu, NATO terus menilai bagaimana perang di Iran dapat mengubah keseimbangan persenjataan Barat, memengaruhi suplai untuk Ukraina, dan mendorong industri pertahanan bekerja lebih cepat daripada biasanya.
Source: www.beritasatu.com