Stok Energi Asia Menyusut Saat Hormuz Terhenti, India Kian Terjepit Defisit Pasokan

Pasar energi Asia sedang menghadapi tekanan berlapis setelah Selat Hormuz terhenti total. Jalur ini memegang peran penting dalam pengiriman minyak dan LPG dari Teluk Persia, sehingga setiap gangguan langsung terasa pada negara-negara yang bergantung pada impor.

Dalam kondisi seperti ini, cadangan pengaman di kawasan ikut menyempit dan harga menjadi lebih sulit dikendalikan. India dan China muncul sebagai dua negara yang paling cepat merasakan dampaknya, meski tingkat kerentanannya tidak sama.

India berada di titik paling rapuh

India menjadi salah satu negara yang paling tertekan karena ketergantungannya yang besar pada minyak mentah dan Liquefied Petroleum Gas dari kawasan Teluk. Saat arus pasokan terganggu, dampaknya segera muncul di berbagai lini, termasuk kebutuhan rumah tangga dan sektor industri.

Kelangkaan gas memasak mulai terlihat di sejumlah wilayah, menandakan betapa sempitnya ruang pasokan ketika jalur utama tidak lagi bisa diandalkan. Posisi India makin sulit karena negara ini merupakan importir minyak terbesar ketiga di dunia.

Untuk menutup kekurangan, India sebelumnya menambah pembelian minyak Rusia. Namun, stok terapung yang sempat dijadikan andalan justru menyusut cepat dan memperkecil pilihan pasokan pengganti.

Anoop Singh, kepala riset pengiriman global di Oil Brokerage Ltd, menyoroti penurunan stok itu sebagai perubahan yang sangat tajam. Ia mengatakan, “Pada pertengahan Februari, terdapat 20 juta barel minyak mentah Rusia dalam penyimpanan terapung dan tersedia untuk dibeli. Angka ini kini turun menjadi kurang dari 5 juta.”

Data dari perusahaan intelijen Vortexa Ltd bahkan menunjukkan jumlah yang lebih rendah, sekitar tiga juta barel. Kondisi ini membuat ruang manuver India semakin sempit ketika jalur Hormuz tidak lagi bisa dilewati.

Upaya diplomatik dengan Iran tidak meredakan situasi

Sebelum gangguan membesar, pemerintah India sudah mencoba membuka jalur diplomatik dengan Iran untuk menjaga keamanan kapal LPG dan kargo energi lainnya. Namun, langkah itu tidak menghasilkan perubahan setelah dua kapal pengangkut milik India diserang saat melintas di wilayah perairan yang sensitif.

Serangan tersebut mendorong New Delhi mengambil langkah tegas. Pemerintah memanggil Duta Besar Iran dan menunda pengiriman kapal kosong ke kawasan Teluk.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Randhir Jaiswal, menegaskan bahwa masalah ini dibahas secara serius dengan pihak Iran. Ia mengatakan, “Pemerintah telah membahas masalah ini dengan Iran dengan sangat tegas.”

Gangguan pasokan ini juga membawa tekanan ekonomi yang lebih luas bagi India. Penghentian pasokan dari Iran diperkirakan dapat memicu kenaikan harga bahan bakar solar untuk pertama kalinya dalam empat tahun, sekaligus memberi tekanan pada mata uang dan inflasi nasional.

China masih punya bantalan, tetapi tidak sepenuhnya aman

China berada dalam posisi yang lebih kuat dibanding India karena cadangan energi strategisnya disebut melebihi 1 miliar barel. Meski begitu, negara itu tetap tidak kebal terhadap efek penutupan Hormuz karena pasokan dunia disebut menyusut 10 persen.

Dampak mulai terasa pada sektor penyulingan swasta China, atau teapots, karena diskon untuk minyak Rusia dan Iran makin menipis. Pada saat yang sama, Badan Energi Internasional mencatat bahwa krisis ini memaksa perusahaan pengolahan milik negara China mengurangi volume produksi.

Tekanan lain datang dari pengetatan sanksi sekunder Amerika Serikat yang mempersempit ruang produsen minyak untuk menjaga produksi. Situasi ini membuat pasokan alternatif semakin sulit diandalkan, terutama saat jalur utama justru bermasalah.

Anoop Singh menilai dampaknya sudah meluas ke seluruh kawasan, dengan pasokan minyak Asia yang semakin terbatas. Ketika Hormuz terganggu dan stok penyangga terus menipis, pasar energi regional bergerak ke kondisi yang jauh lebih rentan.

Tekanan harga, inflasi, dan kelangkaan pasokan kini berjalan bersamaan, sementara negara-negara importir harus menghadapi pasar yang makin sulit ditebak. India merasakan tekanan paling awal, tetapi efeknya sudah menyebar ke seluruh Asia dan membuat ruang stabilisasi energi semakin kecil.

Baca Juga

Back to top button