Stablecoin SoFi Dipatok Regulasi Ketat, Imbal Hasil 4,2% Dan Audit Bulanan Menjadi Andalan

SoFi mencoba menempatkan diri di jalur yang berbeda saat masuk ke pasar stablecoin. Melalui SOFIUSD, perusahaan ini tidak hanya membawa token berbasis dolar, tetapi juga menggabungkannya dengan pengawasan bank, cadangan yang diaudit, dan imbal hasil promosi 4,2% APY saat peluncuran.

Langkah itu menjadi menarik karena SoFi bukan penerbit crypto-native yang lahir dari ekosistem aset digital. Perusahaan fintech yang tercatat di bursa ini sudah berstatus bank-chartered dan melayani 15,4 juta anggota, sehingga kehadiran SOFIUSD langsung datang dari institusi yang berada dalam pengawasan perbankan formal.

Dukungan cadangan menjadi pembeda utama

Setiap SOFIUSD didukung 1:1 oleh portofolio cadangan yang terdiri dari 85% surat utang pemerintah AS jangka pendek dan 15% kas. Dana kas tersebut disimpan di lembaga yang diasuransikan FDIC, sementara komposisi cadangannya diverifikasi setiap bulan oleh Deloitte.

SoFi juga membuka rincian cadangannya setiap hari di situs perusahaan. Transparansi seperti ini membuat SOFIUSD tampil berbeda di tengah kritik yang selama ini kerap diarahkan ke sejumlah stablecoin lain.

Berjalan di Ethereum dan Solana

Token ini hadir di dua jaringan dengan fungsi yang tidak sama. Di Ethereum, SOFIUSD diterbitkan sebagai ERC-20 untuk kebutuhan institusional, sedangkan di Solana token yang sama hadir sebagai SPL untuk transaksi ritel yang cepat dan berbiaya rendah.

Pilihan tersebut memberi SoFi akses ke dua segmen pasar sekaligus. Ethereum diposisikan untuk kebutuhan institusional, sedangkan Solana diarahkan untuk pengguna ritel yang mengutamakan efisiensi transaksi.

Regulasi ikut jadi nilai jual

Posisi SoFi sebagai bank nasional di bawah pengawasan Office of the Comptroller of the Currency menjadi salah satu alasan peluncuran ini banyak diperhatikan. Status itu menempatkan perusahaan dalam kategori yang sama dengan bank tradisional dan membuatnya harus memenuhi persyaratan modal serta standar perlindungan konsumen.

Aturan Stablecoin Transparency and Accountability Act yang telah ditandatangani menjadi hukum pada akhir 2025 juga menambah tekanan kepatuhan. Undang-undang itu mewajibkan SoFi menebus satu token menjadi satu dolar dalam waktu dua hari kerja, sehingga fokus pada stabilitas dan penebusan menjadi semakin jelas.

Imbal hasil promosi datang dari cadangan Treasury

Imbal hasil 4,2% APY yang ditawarkan saat peluncuran berasal dari pendapatan cadangan Treasury. Nilai tersebut tidak bersifat tetap dan dapat berubah mengikuti kondisi suku bunga.

Skema ini berbeda dari stablecoin algoritmik yang menjaga patokan harga lewat kode dan insentif pasar. Pendekatan seperti itu pernah runtuh secara katastrofik melalui TerraUSD pada 2022, sehingga dukungan cadangan nyata menjadi sorotan penting dalam peluncuran SOFIUSD.

Risiko tetap ada di balik status bank

Meski berada di bawah pengawasan formal, SoFi menegaskan bahwa SOFIUSD tidak diasuransikan FDIC. Artinya, status regulasi tidak otomatis menghapus seluruh risiko bagi pengguna.

Risiko smart contract tetap ada jika kode token dieksploitasi. Selain itu, risiko jaringan juga mengikuti kondisi di Ethereum atau Solana, sehingga gangguan teknis pada level blockchain masih dapat memengaruhi penggunaan token.

SoFi juga menggunakan jalur penebusan melalui ACH dan wire yang sudah dipakai untuk penarikan biasa. Cadangan disimpan dalam rekening terpisah agar tidak bercampur dengan modal operasional perusahaan, mempertegas bahwa SOFIUSD dirancang sebagai produk yang menonjolkan pengawasan dan stabilitas.

Exit mobile version